Buku Pram yg Kubaca : Bumi Manusia

Kemarin papabonbon kembali melangkahkan kaki ke perpustakannya Bing Cahyono. Kulihat lelaki sederhana yang banyak senyum ini sedang membawa banyak koleksi baru.  Haaa, sebuah buku tebal, Filosofi Catur disodorkan ke hadapanku.  Pucat pulak papabonbon melihatnya, sama tebalnya dengan the Historian.  ini artinya, buku ini sama saja tebalnya dengan bantal.  Bagaimana pulak nih ..  Constant Gardener-nya Le Carre saja belum kelar dibaca.  Sekarang mengembalikan dulu Ptolemy’s Gate saja yah …. 😀

gambar diambil dari sini

Tak urung, akhirnya papabonbon membolak balik koleksi yang ada, dan bertemulah papabonbon dengan buku buku Pram.  Waktu itu papabonbon sudah mendengar akan tetraloginya Pram, namun sampai hari itu, belum ada satupun buku Pramoedya Ananta Toer yang papabonbon baca.  Sumpah deh !  Salam dua jari di bibir.  [untuk mengingatkan salam elf dalam Eragon].  😛

dan inilah dia, Bumi Manusia yang papabonbon ajak pulang untuk teman tidur.  Mengapa Bumi Manusia yang dipilih ?  Entah yah, tidak pasti juga, karena sebenarnya ada beberapa judul, tapi malu bertanya ke Bing Cahyono, mana buku yang layaknya papabonbon baca terlebih dahulu.  Jadi, karena Hersri Setiawan dan kang Bondet [yang sekarang jadi dedengkotnya milis Apresiasi Sastra] dulu mengelola web dan milis berjudul sama, Bumi Manusia, aku pikir buku ini layak dipilih sebagai pintu gerbang ke rumah penalaran oom Pram.

Yep, ternyata papabonbon tidak salah pilih, buku ini adalah yang pertama dari tetralogi, tokoh Minke dan nyai Ontosoroh dapat ditemukan dibuku ini sejak pertamanya.  Pilihan nama tokoh yang aneh dan menggelikan namun punya rasa yang berbeda.  Dan ajaibnya, sampai setengah buku ini papabonbon baca, baru terasa papa menikmatinya seperti membaca buku buku N.H Dini dan trilogi Ronggeng Dukuh Paruknya Ahmad Tohari.

Yang pasti, melihat apa yang telah papabonbon baca di Bumi Manusia ini, buku ini sangat direkomendasikan.  Gaya bahasanya unik dan lentur.  Meskipun ada ekstrapolasi pada deskripsi budaya jawa dan keningratan.  Maklum gitu lho, kiri .. 😀 

Mengapa Takut Dengan Pram ? 

Sesuatu yang dulu membuat papabonbon takut mendekatinya, karena papabonbon dari keluarga priyayi yang jatuh miskin ketika jaman kemerdekaan dan berhaluan politik nasionalis, namun papabonbon ketika kuliah aktipnya di HMI, LSME dan LDK – Masjid Raden Patah … 😛  Satu dua pernik lagi yang membuat Pram dulu menakutkan bagi papabonbon :

  1. wajahnya mirip si pembunuh gila yang jago kungfu katak di kungfu hustler
  2. doi menikmati minum anggur di masa tuanya, demi kesehatan.  Welahdalah, jadi inget sama Hamid Basyaib, si koordinator JIL yg secara konfrontatif mempropagandakan minum anggur di acara pesta pernikahannya.  kadang muak ama teman teman jalansutra kalau sudah sampai di sini.  Lha Fathia Syarif gitu lho yg anak js yang jadi istrinya.  Dunia memang sesempit daun kelor.

Yep, pandangan subyektif, terutama keluar dari latar belakang masa lalu papabonbon.  jadi kesimpulannya sekarang : orang kiri memang aneh, islam yang terlalu kanan juga aneh, papabonbon yang ada kultur nasionalis, beridentitas islam, dan yang sekarang disebelin ama anak pks, juga tidak kurang anehnya .. 😀

Girl Power

Awalnya papabonbon ingin mencari “Panggil Aku Kartini Saja”.  Sayang dalam koleksi Ong Bing, tidak ada buku ini.  Mungkin akan menjadi pilihan kedua bacaan papabonbon setelah menyelesaikan tetralogi.  Ingin gitu lho, melihat kartini dilihat dari sudut kiri.  Secara jaman akhir akhir ini dijadikan bahan tarik menarik ideologis antara kelompok islam fanatik dengan nasionalis.  Pasti akan renyah jadinya. 

Tapi papabonbon cukup puas kok dengan karakter minke yang mau belajar melihat “orang lain” dan Nyai Ontosoroh yang keras dan europanized, keluar dari tata tabiat kejawaan, memasuki dunia rasional modern.  Bikin enak buat generasi muda yang sudah pusing dengan unggah ungguh seperti papabonbon untuk memahami karakternya.  Diawali dari Sanikem yang dijual oleh ayahnya demi jabatan sebagai kasir pabrik gula Tulangan, dan berakhir sebagai wanita mandiri, mampu mengurus perusahaan dan orang orangnya dengan kontrol kuat, yang harus bargaining dengan kehidupannya dalam status nyai, istri diluar perkawinan, posisi sulit namun nyata dalam romantisme masyarakat koloni, sebagai pribumi Islam abangan dengan status sebagai wanita yang punya anak dan tidak dikawin secara syah oleh lelaki kulit putih.  Sebelnya Pram memunculkan novel Nyai Dasima juga dalam buku ini.  Pinter betul dia membuat kesan bahwa Nyai Ontosoroh ini belajar meneladani Nyai Dasima dan lebih berhasil pulak.  🙂

Oke deh, kita kira gitu lah … 😀  Btw, pantes yah, Happy Salma kok suka baca Tetralogi.  itu buku memang mendahului jamannya seh … 🙂

Oh iya, ada ulasan menarik tentang girl power di berbagai wacana pengarang Indonesia.  Bisa dilihat di sini.  http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=137985

5 thoughts on “Buku Pram yg Kubaca : Bumi Manusia

  1. Wah…ternyata papabon suka buku Pram juga nih..
    aku sudah koleksi nyaris 21 buku pram..
    Ronggeng Dukuh paruk ?? ada juga…
    skrng lagi baca Laskar pelangi…

    Salam kenal ya dari Ibunya Seno & Della

  2. 🙂 hahaha, hiya, maklum buku terlarang. tapi dari 98 ke atas kan relatif muncul lagi, tapi halangan kultural seperti yg papabonbon sebut diataslah yg membuat papabonbon belum “sempat” menikmatinya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s