Working Class in Red Revolution

UMK jakarta naik 40% jadi 2.2 juta.

Merdeka atau Mati ?

Chaos, investor lari meninggalkan Indonesia. Pindah ke China dan Vietnam.

Hmmmm. Aku rasa nggak.

Ciyus ? Miapah ? terus gue harus bilang WOW sambil koprol tiga kali gitu ?

Penduduk Indonesia akan menjadi 400 juta pada tahun 2050, saat itu penduduk dunia mungkin 10 milyar.  Indonesia sedang booming. Salary adjustment dan pabrikasi beralih ke mesin adalah sebuah fenomena untuk survival. dari dua sisi. working class dan pemilik modal.  Anda, eh, …. elu, ade di mane ? 😀

 

Wisata Demo Surabaya

Bulan Maret kemarin, sak Ngindonesia heboh sama kenaikan BBM.  jadilah bulan maret, terutama minggu minggu terakhir jadi ajang demo tiap hari.  papah bonbon, tentu saja nginjer peluang buat jeprat jepretnya. huhuyyyy …. 😀

Buat yang belum kebagian motret bulan maret atau pas April Mop kemarin, ntar bulan Mei ada rame rame Mayday kok.  kenaikan UMR biasanya.  So, tunggu waktu dan liat sikon aja.  Pasti seru !.

Yang ini gaya demo nya hizbut tahrir

 

kalau yang di bawah ini gaya demonya PMII

 

dan ini gaya demonya masyarakat miskin kota

Masjid Sunan Ampel & Ziarah Kubur

Kalau ane sih terus terang nyaris gak pernah ziarah kubur.  Malah kalau di sekolah dan pengajian kampus, ziarah kubur tuh rada rada dianggap aktipitas yang rada “nyelenenh”.  Mosok berdoa ke orang mati.  hehehe :p  lagian kita kan bukan anak laki lakinya langsung, jadi doa kita menurut kaidah agama gak bakalan nyampe juga sih.

So, karena dalam moral ane kegiatan dolan ke kubur leluhur ini gak punya makna ritual babar blas, maka ane bikin anggapan aja kayak semacam acara napak tilas menghormati peranan para leluhur ini dalam menyebarkan agama islam dan merubah masyarakat menuju ke arah kebaikan.  Gue sama sekali gak beritual ria kalau urusannya dengan kubur ini.  Secara doa talkin juga ndak apal.

belakangan karena rumah ane di sby ini dekat sama masjidnya sunan ampel dan makamnya sunan ampel itu juga lokasinya ndak jauh jauh amat dari masjidnya, ane suka iseng dolan ke sana.  baru dua atau tiga kali doang sih selama 4 tahun ini. (gitu kok ngakunya sering, hahaha).

Berhubung sekarang ini hobinya motret, jadi acaranya dolan dolan di sekitar arab street nya, motretin suasana pasar ampel yg khas kearab araban, motretin toko toko yg jual gamis, manik manik, parfum, kurma, motretin gerbang dan orang orang yg lagi ziarah, abis itu dilanjut dengan makan sate dan gulai kambing.  Oh ya, ada beberapa rumah makan arab yang enak di sini.  yg bersih dan mahal namanya Jumbo, lokasinya persis depannya RS Al Irsyad.  Terus dekat hotel kemadjuan, ada RM Yaman dan sampingnya ada satu lagi.  tapi dua duanya gak mampu menjaga kualitas masakannya.  Kadang enak, kadang bikin semburat.  Hahaha …Ddapur juga rungsep.  Ada lagi madinah, yg ini makanannya rasanya konsisten dan enak.  Buat yg ke rumah makan arab ini, yg gue bilang die die must try sih, kambing oven.  Abis itu kebuli dan nasi tomatnya, bolehlah.  Kalau mau rumah makan arab yang bersih juga, selain Jumbo, pilihannya di depot Ampel di jalan Ondomohen.


Kalau iseng cari susu kambing dan martabak juga banyak. ada yoghurt kambing juga.  mau ?

Hoopla: Outbound !

Sudah dua tahun nih, kantornya papabonbon nggak pergi outbound.  alokasi dana outbound menguap begitu saja, dan kita orang, stress begitu saja ngurusi pekerjaan. sayang kan, kalau manfaat tidak di dapat, sisa cuman capeknya saja. Jadilah tahun ini kita rada niat buat ngejadiin yang namanya dolan, leha leha dan males malesan dengan di support perusahaan.  haha !

lokasi : Batu- Malang-hotel boutique Kampung Lumbung.

enjoy !

Imlek Festival

Here we go : Imlek Festival.  Again.   dan sekaligus perayaan kalau ini tahun kedua bermain kamera manual. 😀

Perayaan Imlek kali ini papabonbon lalui dengan perasaan aneh.  memotret tentu, tapi disela sela, meluangkan waktu di antara berbagai target lain.   Dari thesis yang mangkrak, appraisal tahunan, bulan depan national conference di Jkt yg gitu deh, exhausted, dan di saat yang sama sedang berburu rumah kontrakan yang baru.

Memotret saat Imlek ini membuat papabonbon tercenung, sekaligus menghibur diri, karena sesaat lepas dari himpitan masalah ini dan itu yang datang setiap hari.  Yah, kira kira gitu deh, curhat colongannya.  😀  Pastinya, memotret kali ini juga rada beda dengan ketika berusaha memotret suasana imlek tahun lalu.  Bedanya karena sudah ngerti angle dan suasana di dalam kelenteng.  Jadi menyesuaikan dirinya sudah jauh lebih enak.  Nggak kaget.  hehehe 😀

Yang perlu dipuji,  sebenarnya adalah karena komunitas Budha/Tionghua tidak memandang aneh ketika kami, para fotografer hobbiest ini berbaur dengan mereka, memotret aktivitas mereka.  Kami juga merasa nyaman meliput kegiatan di sekitar vihara atau kelenteng.  Suasana cari dan nyaman ini sebenarnya juga dirasakan di Bun Bio, Hok An Kiong ataupun Vihara Sanggar Agung Kenjeran.

Papabonbon menulis rasa nyaman di atas, karena hal ini sering nggak disadari dan di ekspresikan.  padahal, menurut papabonbon, ini penting.  Lha, kita motret di mall saja, dikejar satpam, memotret di tempat ibadah lain, mungkin anggah ungguh nya juga cukup ribet.  Jadi, kenyamanan memotret imlek, itu harusnya dikategorikan sebagai berkah.  Iya ndak, sih ?  😀  Dan karena itu, perlu lah di apresiasi sewajarnya.

Pasang dua hasil jepretan deh.

Remembrance 10 November 1945

10 november 1945

itu waktu 67 tahun yang lalu.  Masa merdeka kita, negeri ini, telah melampau waktu yang bisa menghasilkan tiga generasi.

67 tahun yang lalu

  • seorang jenderal Inggris, berkubang nyawa di tengah amuk arek Suroboyo
  • bendera merah putih biru, bendera belanda yang dikibarkan di hotel Yamato oleh sisa sisa walanda di negeri ini, direbut, disobek, dan dikibarkan sebagai bendera merah putih

http://id.wikipedia.org/wiki/Insiden_Hotel_Yamato

http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November