Semarang Yang Terlupakan (3)

btw, orang semarang tuh unik lho.  liat jejak jejak kreativitasnya orang semarang bisa ketawa sendiri.

huehehehe …  :ngakak

kayaknya cah Semarang emang mengandung jejak jejak narcisim tersendiri dibalik wajah keseharian mereka :p

tapi kok platnya B yak.  hihihihi :ngakak

Iklan

Oggy’s Big Day

Jadi ceritanya 2 bulan lalu gue punya anak lagi. Kali ini baby boy.  Namanya si Oggy.  Jadi sekarang lengkap nih.  Udeh sepasang noh.  Cewek ama cowok.  Hahay 😀  Terus keluarga juga udah seminggu ini ngumpul di Bandung. Jadi kagak ngejomblo lagi.  xixixi.  terbang deh kesempatan selingkuh. … et tetetetettttt …

Nah, menjelang 2 bulan dan mau puase ini, ane ama maknyaknya rada niat nih motong rambutnya si Oggy.  Harusnya potong rambutnya dari waktu aqiqahnya sih.  Tapi ortunya masih menikmati rambut anaknya yang gimbal dan keriting. huehehe 😀

Image

Ini foto sebelum dipotong

Image

foto saat eksekusi

Image

foto setelah jadi gundul gundul pacul.  lha, kok ternyata mirip sama kakak elsi yah.  Liat gravatar deh. Entu foto, asli fotonya si Elsi waktu baru dipotong juga.  Mirip … astaga !

Image

Laporan Keuangan dan Komunikasi Politik

Jawa Pos hal. 2. Jum’at, 16 September 2011.  Lap Keuangan sebuah PTN di Surabaya.

# hebat.  kampus sudah publikasi laporan keuangan.  Transparan.  hebat !

Trivia :

# Mengapa yang ditampilkan adalah data smt I 2011 vs 2010.  Padahal yg 2011 hanya 6 bulan (dan belum di audit) sedangkan yg 2010 full satu tahun, jadi membandingkan data 6 bulan vs satu tahu jadi gak relevan, bukan ?.   Apalagi kita tahu, dana dari pemerintah banyak yang baru cair di akhir tahun.   harusnya yang diperbandingkan 2010 dan 2009.  2011 smt 1 ditampilkan bolehlah, tapi pembanding yg periodenya sama ada, pembanding untuk indikasi terkini ada.  kalau hanya 6 bulan vs 1 tahun, yah, gak cakep aja.

# Btw, kantor akuntan yang mengaudit milik salah satu dosen fakultas ekonomi bukan, yah ? Dunno juga. Ada yang bisa bantu info, kah ?

Ilustrasinya :

pengeluaran unair smt I-2011 = 200 M (6 bulan), tahun 2010 = 485 M (satu tahun), institusi ini ingin memperlihatkan kalau dalam 6 bulan pengeluaran dia kira kira sama dengan pengeluaran dia selama 6 bulan tahun sebelumnya (profil yg ingin diperlihatkan adalah : hebat, hemat atau biusa juga, lagi pelit nih buat dana mahasiswa dan operasional, secara kita lagi cancut taliwanda).

Lalu bagaimana dgn pendapatan ?  Tanya juga, mengapa pengeluaran tahun 2009 tidak ditampilkan ?  Jangan jangan selain pendapatan yg suka tiba tiba besar di akhir tahun, pengeluaran ternyata nggak kalah gedenya di akhir tahun.  Secara menghabiskan budget gitu, lho.

Pendapatan smt.1-2011 = 213 M (6 bulan, bayar spp dan uang gedung th.ajaran baru 2011 blm masuk tuh :p) sedangkan 2010 = 994 M.  Terlihat bahwa pendapatan 2010 jauh lebih besar daripada smt.1 2011.

Menurut saya, (bisa jadi sangat subyektif lho yah), nampaknya ini cara institusi untuk menggedor publik, “liat donk, kami butuh uang melalui spp mahasiswa baru. makin banyak “mungkin” makin baik”.   Padahal, peneriman tahun 2009 justru tidak ditampilkan. Terutama pos penerimaan Sumbangan Pengembangan (Pendidikan) yg dimunculkan 8.6 M sedangkan tahun lalu 89M.  total dana masyarakat smt.1 ini 81M sedangkan tahun lalu 230 M.  Terjun bebas lho dana partisipasi pendidikan dari masyarakat.  Hmmm.   Dari sudut pandang komunikasi massa : ini jelas komunikasi ke publik dengan special purpose. bravo !.

FYI : beberapa waktu belakangan ini, di institusi tersebut terjadi demo mahasiswa yang mengeluhkan uang kuliah yg mahal di institusi tersebut.   Jadi kalau sekarang di komunikasikan kalau, “liat tuh, tahun 2011 pendapatan kami terjun bebas, sementara pengeluaran tetap”. mosok sih alert seperti ini tidak : “ring a bell?”.  Jelas jelas ini untuk kick out demo kagak jelas dari depan batang hidung institusi yang bikin penerimaan institusi jadi seret bin mampet.

Secara tersirat, institusi ingin menyampaikan, “biaya pendidikan mahal, kami butuh tarik dana lebih banyak, dan demo tidak berguna itu sebaiknya berhenti saja“.

Mantap juga.  Sekali pukul, dua tiga pulau terlampaui.

Pulau Merah & Tambang Emas Tumpang Pitu

Di balik bukit ini, adalah tambang emas Tumpang Pitu.  Perusahaan INM mendapat lisensi menambang di sana.  rakyat banyak, juga beramai ramai membuat tambang tradisional, mengeruk kekayaan dari bumi nusantara.

So far, so good dengan gunung ini, eh ?  Langit biru, bukit hijau, laut jernih ?

Lima tahun lagi, masihkan anak anak bermain di sini ?

Masihkah senja semarak ini ?

Nyetreet dari Pasar ke Pasar

minta ijin kawan kawan semua.

kalau diijinkan, ingin share sedikit hasil nyetrit dari pasar ke pasar.  mulai pasar pacar keling, pasar loak kapas krampung sampai pasar besar malang.  hehehe 😀
senjata : nikon FE, nikkor Ais 50mm f1.4, kodak color 200, canoscan 4400f

dalam perburuan mencari besi tua di pasar besar malang, sepintas dari ketinggian di lantai dua, loss elektronik, suasana pasar tumpah di pasar besar malang. papabonbon mendapatkan mju ii lagi di mari.

pasar besar malang

lapangan rampal, celaket, ngalam
keliling keesokan harinya meninjau suasana pagi di kota malang.  rampal yang dulu terbuka, sekarang lebih tertutup, namun juga lebih cantik. daerah hijau, track lari, tempat halang rintang, lapangan basket dan senam lebih tertata.

sayang, pagar disekeliling lapangan dan hanya satu pintu yang terbuka di antara banyak pintu yang ada membuat hati mencelos, ketika akses ke ruang terbuka hijau jadi bikin susah hati.

lapangan rampal malang. rupanya bukan lagi simbol kebebasan di sana.  tapi simbol kunci jiwa merdeka.

atau jangan jangan jiwa kita sudah digadaikan ? entah pada industri atau pada asap rokok semata. yang pasti, semua demi kecintaan pada kelestarian alam.  hijauuuu !!!

dari malang, kita kembali ke ranah surabaya. konon kabarnya, kota terbesar kedua di indonesia.  tentu setelah jakarta, bogor, tangerang dan bekasi.  hehehe :p  oke lah, let’s jump.  dan sampai jasad kita di pasar pacar keling.

hah !.  siapa bilang di kota besar tidak ada pasar tradisional ? ada bro !  mereka eksis ditengah himpitan hutan beton ibukota. dan ribuan keluarga hidup dari eksistensi pasar ini.

dari salah satu sudut pasar.  LIA ? seperti nama sebuah tempat kursus bahasa inggris yang terkenal huh !

dan siapa bilang pasar tradisonal tempat yang menakutkan bagi fotografer ?  no … no … mereka ramah. bahkan cenderung narsis punya.  😀  hehehe

di sela sela pasar tradisional yang mengisi sela kehidupan kota, ada peninggalan masa lalu teronggok.  bioskop kuna dari jaman baheula. menjadi tempat meletakkan tubh di kala hari terbenam bagi mereka yang tak memiliki rumah dan tempat berteduh permanen di pelosok kota.

dan generasi seniman mengasah bakatnya di mana pun berada

sampailah kemudian kita melangkahkan kaki di persimpangan jalan gembong dan kapas krampung.  surga loakan yang di antaranya menghidupi mahasiswa rudin dari pelosok sampai meraih gelar sarjananya, menghidupi banyak jiwa jiwa yang tak dipedulikan mesin industri dan kuasa pemerintah. semoga jiwa jiwa nestapa bebas dari kungkungan penjara dunia.

udara kota yang menyesakkan.  dikepulkanlah asap, supaya rongga dada ini dapat sedikit bebas.  plus sedikit merebut kenikmatan dunia, yang tidak semua hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berada.

banyak jiwa yang berlalu lalang di mari. dari the innocent one, sampai para orang tua dewasa yang berbahagia dengan kehidupannya.

pembebasan itu kadangkala didapatkan lewat senjata dan tindakan radikal. huffff … apakah itu termasuk kita ?.

ilegal.  sad but true.  pemasok senjata berkeliaran di sekitar kita. memberi jalan short cut untuk meraih dunia.

ataukah ini akan menjadi wajah kita.  jiwa jiwa kerdil di tengah himpitan kerasnya hidup di perkotaan.  BANGGGG !!!

 

baca juga :

http://www.kenrockwell.com/nikon/fe.htm

Kota Tua Surabaya



IMGP3135

Originally uploaded by masarcon

depan hotel metropole, jembatan merah, saksi sejarah perjuangan negara ini. sayang, sekarang gedung berplakat “bersejarah” ini terlupakan dan belum direhabilitasi, pagar seng melingkari, gedung gedung di sebelahnya pun dalam kondisi tua dan prihatin.

suasana surabaya bagian utara, nampak seperti renta, berisi lemak, jelaga dan sisa sisa jaman revolusi industri.