Tugu Pahlawan

Tugu Pahlawan 15

Tugu Pahlawan Surabaya, dulunya adalah Taman Radja, Williamspark, makanya nama jalan didekatnya adalah Kebonrojo. Sebuah alun alun luas, persis di depannya adalah HBS, sma nya bung karno, yang sekarang adalah kantor pos besar Kebonrojo Surabaya.

Ada gedung BI magrong magrong menutupi HBS nya … hehehe ^_^

Oh ya, ada biara susteran ursulin sekaligus sekolah berhadapan dengan sekolah Takmiriyah. keduanya adalah sekolah yang punya sejarah panjang. di jalan yang berada di antara dua sekolah legendaris inilah terletak bebek goreng cak yudi perak (cabangnya tapi yah). bukanya sekitar jam makan siang. sore sudah tutup.

Senang juga ketika hari minggu tiba, dan melihat kebun raja yang luas itu dinikmati banyak orang. kendati miris, karena dilapangan berumput yang luas dan menyenangkan ini justru ditanap tulisan : “dilarang main bola di sini”. Duh, Gusti, hati ini sakit rasanya. Ingin hamba memberontak, teriakkan kata kecewa pada pengelola, yang aparat, dus sekaligus perpanjangan tangan pemerintah.

Hari ini papabonbon belajar satu hal, sembari merenungi dunia orang kecil dan ketidakadilan.

Mengapa Warga Iran Menyelundupkan Narkoba

Sudah dua kali kejadian nih. dan ada foto di media massa, ibu ibu berjilbab dan mbak mbak jilbaber hitam hitam.  shock aja sih.  Ada yang bisa menjelaskan asal muasalnya ?

4 Nov

Customs News — : Bea Cukai Juanda berhasil menggagalkan penyelundupan kiloan Shabu Cair, yang dibawa 2 orang WNA Iran dari Malaysia. Baru beberapa hari dioperasikan, peralatan Ion Mobility Spectrometry berhasil mendeteksi Shabu Cair yang dikeringkan lewat handuk (handuk = carrier). Tersangka berangkat dari Kuala Lumpur – Surabaya dengan menggunakan pesawat Malaysia Air System (MAS)-MA 873 .

21 okt

Customs News — : Dalam 2 hari (Senin & Selasa ini), Bea Cukai Soekarno Hatta berhasil gagalkan penyelundupan shabu-shabu terbesar hingga saat ini, yaitu sebanyak 26,8 Kg atau senilai Rp. 102 Milyar. Tersangka sebanyak 10 orang adalah WNA Iran, menyelundupakan shabu melalui pesawat yang berbeda-beda dengan modus dimasukan ke dalam botol shampoo, sabun cair, kemasan makanan jadi dan botol pembersih keramik.

http://www.surya.co.id/2009/10/22/delapan-wanita-iran-jadi-kurir-narkoba-shabu-senilai-ratusan-miliar-disita.html

Dari sejumlah warga asing yang ditangkap itu, delapan orang diantaranya wanita berkerudung asal Iran. Para wanita Iran ini diciduk tak lama setelah turun dari pesawat di Bandara Soekarno Hatta.
Kedelapan wanita Iran itu diantaranya Khosravian Zohdeh Sadat (49), Rani Delkesh (40), Joudi Mitra Sadat (24), Karimpov Rardestani Roushani (55), Maryam Babei Sayad (35), dan Fatemeh Arabali Dousti binti Hasan (45).

http://www.youtube.com/watch?v=7l8DTjdoxMY

gambar dari sini

Diet Berdasar Golongan Darah : Sugesti atau Kenyataan ?

Teman papabonbon, kang Indra Gaper berhail menurunkan berat badan, dari 75 kg ke 55 kg.  Sukses berat buat kang Indra.  Karena papabonbon juga ingin menurunkan berat badan sampai 50 kg, maka papabonbon ingin menapaki jalan sukses kang Indra.  Caranya gimana atuh, kang ?

gambar dari sini

Rekomendasi dari kang Indra buat beli bukunya Peter J. D’Adamo, judulnya Diet Sehat Golongan Darah.  Konon golongan darah O berasal dari nenek moyang kita di masa menjadi pemburu, karenanya mereka cocok makan daging, diet high protein, olahraganya yang cocok aerobik.  Cieeee, Tyranosaurus type nih.  hahahaha ….  🙂

Selanjutnya ketika manusia mulai bercocok tanam mulai timbul golongan darah A, cocoknya jadi vegetarian, olahraganya yoga dan cabang lain yang sifatnya non kompetisi.  Dooh, serasa brontosaurus nih, hahaha …

Tahap selanjutnya ketika manusia mulai melakukan domestifikasi hewan peliharaan, mulai beternak, timbullah golongan darah B.  Katanya sistem kekebalan tubuh paling tinggi dan sistem pencernaannya fleksible.  Selain itu dilahirkan untuk cocok dengan dairy products.  hasil domestifikasi gitu lho, telur dan susu.  Hehehe ….  Berikutnya, hasil pertemuan si vegetarian dengan si nomad menghasilkan golongan darah AB, hasil tengah tengah antara A dan B.

gambar dari sini

Tapi apakah klaim mr. D’Adamo ini valid secara ilmu pengetahuan ?  Sayangnya tidak.  So sad.  Coba baca baca lagi wikipedia untuk lebih jelasnya.

beberapa kritisisme ilmiah atas klaim D’Adamo misalnya :

  • klasifikasi makanan berdasarkan bermanfaat, netral dan harus dihindari, tidak punya dasar klasifikasinya secara ilmiah
  • lectin yang di klaim mr. D’Adamo sebagai pembeda jenis makanan pada golongan darah tertentu secara spesifik ternyata jarang terdapat dalam makanan kita sehari hari
  • dalam bukunya, D’Adamo meyetakan sedang melakukan pengaruh diet berdasr golongan darah pada penderita kanker dan juga ahrthritis, sampai saat ini hasil riset tidak pernah dilaporkan
  • golongan darah yang pertama kali ada justru golongan darah A, sedangkan ketiga golongan darah, A, B dan O sudah timbul sekitar 4.5 – 6 juta tahun yang lalu

baca juga :

Ternyata banyak Bule Gila di Oz

Sekitar satu dekade yang lalu, saya termasuk yang banga mendengar berita kalau di Australia, bahasa indoensia menjadi salah satu mata pelajaran pilihan.  (Secara di TN, bahasa jepang wajib, dah gitu nggak ada nilai kreditnya sama sekali, bikin de-motivasi huehehehe).

Tapi sekitar lima tahun yang lalu, berita gundah mulai bermunculan.  Mulai banyak sekolah di Australia yang tidak lagi menawarkan bahasa indonesia sebagai mata kuliah pilihan.  Alasannya : kekurangan guru.  Haiyaaa yang bener aja.  gue deh yang pergi.  hahahha :))  sayangnya, problemnya di lisensi.  Sampai nyesel ambil jurusan akuntansi, tahu gitu sastra indonesia saja.   hahahah 🙂

image

Belakangan ini kita sibuk sewot dan marah marah sama tetangga satu puak (yang sama sama melayu dan sama sama muslim based community, you know who laaahhhh) karena budaya kita diklaim dan diakuisisi inyong tetangga.  Tapi kalau tahu ada bule di australia yang faseh banget bahasa indonesianya, rasanya rasa sakit hati dan kecewa itu agak sedikit terobati.

Lha sama sama memakai budaya kita toch ? Terus apa bedanya sama si malaise ?  Sepertinya ada beberapa poin yang menjadi pembeda dan akibatnya efeknya sangat bertolak belakang antara sakit hati dengan suka hati.  Misalnya saja :

  • dia bule lho (ternyata masih ada inferiority complex di antara kita, kalau orang kaukasian yang pakai budaya kita, ternyata kitanya malah sumringah)
  • tidak ada intensi untuk meng-klaim sebagai budaya dia dhewek (yah gitu deh, antara sodara yg lebih dekat, lebih seringnya kelahi sendiri – liat aja di Indonesia, hobi banget perang campuh antar agama, antar suku juga, gitu kan)

Kesimpulan sementara :

Karena pengguna bahasa indonesia di oz ini dianggap sebagai orang jauh, tapi apresiatif sama kita, dan gak ada intensi mengklaim sebagai hak miliknya, ternyata konsekuensinya dahsyat.  Rasanya justru welcome banget buat orang Indonesia.

Hints buat malaisie, kalau ingin kita welcome juga ama cara mereka memakai budaya kita, mungkin bisa memakai pendekatan yang sama.  hehehe

Buat yang penasaran dengan blog si bule yg luwes banget berbahasa indonesianya ini, silakan main main ke http://bulejugamanusia.blogspot.com/

PS : gaya tulisan dibuat ala anak gawoel karena mood penulis lagi enak, terpengaruh baca blognya si bule gila.  hahaha … maklum penulis orangnya moody 🙂

sekedar renungan tambahan (tadi mau dimasukin, tapi lupa, hahahaha :p)

sampai saat ini, jadi miris kalau ingat bule backpackers masih di pandang sinis yah (hanya karena dianggap mereka nggak spending money banyak).  Sayang juga kan, padahal yang beneran bisa melt in dengan budaya Indonesia dan apresiatif, bukannya malah jenis jenis backpackers kayak gini yah.  secara menelusuri keindonesiaan dengan lebih mendalam dibandingkan yang datang ala turis ?  haha ….

Bung Karno dan anak kos di rumah pak Tjokro

  IMG_6317 IMG_6305

Malam Jum’at, 30 Juli 2009.  Papabonbon bersama Ketut Widya ikut acara Night Heritage yang diadakan oleh teman teman Surabaya Foods dan Surabaya Tourism Boards.  Acaranya sih mengunjungi beberapa tempat, antara lain Makam Peneleh, Rumah pak Tjokro di jaman Bung Karno, Semaun dan Kartosuwiryo masih indekos di sana, Musium Santet, Jembatan Petekan dan Nasi Cumi Pasar Atum.  Oh ya, papabonbon sempat potret potret Synagogue satu satunya di Indonesia di jalan Kayoon yang kebetulan lokasinya deket banget, persis di samping BCA, di ruko ruko tempat Hotel Sparkling Backpackers Surabaya berlokasi.

Foto foto yang sekarang ini ditampilkan adalah tempat kos bung karno muda saat di bangku SMA (HBS).  HBS nya sendiri sekarang jadi kantor pos besar Kebonrojo.  PS bacanya bukan kebun raya yah, tapi Kebun Radja, karena dialihbahasakan dari Williaamspark.  Taman radja dari jaman walanda dulu.  hehehe …. :))  Acaranya sendiri sengaja malam jum’at (ndak pake kliwon seh), biar ada sensasi syeremnya.  syalala … syalalala dah !.  

IMG_6312IMG_6318IMG_6319

Foto pasangan jadoel di atas itu adalah si bung di kala muda.  bersama siapa ? tentu saja, bung Karno – Oentari suami istri.  Oh ya, anak kos di rumah pak Tjok itu banyak lho, nggak cuma tiga orang saja. Tentu saja papabonbon tahunya hanya bung Karno, Alimin, Semaun dan Kartosuwiryo, tapi katanya sih ada sekitar 8 orang.  (muat yah ?  hehehe :p )  selain itu ada Bachrum Salam yang akan menjadi suami Untari, selepas berpisah dari Bung Karno.  

Yang dijadikan kamar kos adalah kamar di atas itu dan dibawah ini.  di rumah bagian bawah, kamar hanya ada tiga, satu kamar (di gambar ketiga, yang pintu sebelah kiri, papabonbon memotretnya dari dalam rumah) dipakai jadi ruang kerja pak Tjokro, sementara di sebelah kanan, ada dua kamar, yang di sebelah depan rumah untuk keluarga pak Tjokro (barengan gitu, rame rame beserta ke-empat anaknya), terus satu kamar lagi di bawah, bagian belakang dekat dapur dipakai anak kost, beramai ramai juga. 

Bung karno sih katanya sering di kamar bawah.  memang gelap, nggak ada cahayanya.  Sementara Alimin, Semaun dan Kartosuwiryo di kamar atas (terlihat ada tangganya).  Kamar mandi di halaman, terpisah dari rumah layaknya arsitektur jaman dulu. Untuk ukuran rumah jaman dulu rumahnya termasuk kecil, untuk ukuran jaman sekarang, lumayan gede, secara lebarnya sekitar  10 m, panjang sekitar 15 m.

Sedikit ilustrasi :

Sarekat Islam sendiri di jaman pak Tjok masih bernama Syarikat Dagang Islam, karena memang digerakkan oleh klan para pedagang batik dari Pekalongan.  Komunitas sekitar rumah pak Tjok adalah kota lama Surabaya, kumpulnya para pedagang Batik. Depan rumah aadalah toko buku Peneleh yang legendaris itu. Rumah pak Tjok menjadi tempat kumpulnya para aktifis.  Semacam safehouse juga hohoho …. :)) 

Jalan sedikit dari Peneleh adalah Jembatan Merah, jalan Rajawali, yang sepanjang jalan itu adalah Gatsu dan Sudirmannya Surabaya jaman dulu.  HBS, dan pusat industri alat berat di Bubutan, jalan dikit lagi, Pelabuhan Kalimas, dimana gudang gudang ekspor impor hasil bumi dipusatkan di sana.  Sampoerna pun gak jauh dari lokasi itu, di belakang penjara, dekat dengan barak pasukan berkuda belanda, Lim Seng Tee memulai bisnis tembakaunya.

Jadi pemeo posisi menentukan prestasi memang ada benarnya.  Soekarno muda sudah memasuki ranah politik praktis bahkan sejak mudanya, baik disadari maupun tidak, dia ada di pusat turbulensi.  Dan dia terus berkembang karena hal ini memang telah mengalir dalam darahnya.

baca juga :

17 Agustus 1945

gambar dari sini

Besok 17 Agustus.  14 tahun sejak lulus dari Lembah Tidar, dan 9 tahun sejak meninggalkan bangku kuliah.  Ingat ingat jaman kuliah dulu, teman teman aktivis sangat hobi mempertanyakan makna kemerdekaan.  Setiap peristiwa, kejadian dan event selalui dicarikan maknanya dengan arti kemerdekaan.  SPP naik, berarti Indonesia belum merdeka.  Presiden masih mbah Harto, berarti kita belum merdeka dari tekanan penguasa.  Kurs rupiah anjlok dari 2,500 ke 14 ribu, tambah kagak merdeka lagi.  BUMN rame rame dijual ke asing, penjajahan jenis baru.

Pada era sekarang ini, dimana euforia demokrasi ditunggangi partai partai Islam untuk berjualan ideologi moral, nampaknya keluhan dan pencarian makna kemerdekaan ini juga ditafsir ulang oleh para aktipis.  Terutama sekali oleh para aktipis yang berada di pinggiran, yang menjadi clandestine dari para clandestine.  Para ninja dari kaum burakumin, yang punya loyalitas tak terhingga pada tegaknya khilafah, namun merasa punya ruang gerak lebih luas dibandingkan para aktipis yang masuk ke partai, yang otomatis ruang geraknya dibatasi oleh paugeran dan norma norma demokrasi.

Hermeneutika dipakai, penafsiran kembali dilakukan, pemaknaan diarahkan pada nilai nilai ideologi yang diyakini lebih tinggi dibandingkan nasionalisme buatan manusia, sintesa pun dihasilkan dan sisi liar pun nampak sudah.  Hasilnya jelas sekali.  Ada bom dimana mana.  Dan jeleknya dengan cara pengecut, tanpa pengakuan jelas siapa musuh mereka, siapa mereka dan apa yang diperjuangkan, dan apa yang mereka inginkan.  Tidak ada pengakuan atau tanggung jawab terhadap pemboman yang terjadi yang mereka lakukan.  Apalagi ketika organisasi islam mainstream lain dan banyak partai islam yang sudah mendapat kursi di parlemen ternyata justru tidak mendukung kegiatan mereka, bahkan beramai ramai menghujat habis habisan.

Jadilah yang mendukung mereka hanya akar rumput islamisme yang sepaham dan diam diam menaruh simpati pada mereka.  Kita semua bersaudara, dan memperjuangkan kemerdekaan yang sama.  Dimana Islam ya’lu wa yu’la alaik.  Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.  Jadilah pemboman demi pemboman terus berlangsung.  ada yang ditangkap, toh bom jalan terus.  patah tumbuh, hilang berganti.  Demikianlah perjuangan.  Isy karima aumut syahidan.

Apakah sudah saatnya bagi orang Indonesia yang tidak memperjuangkan negara Islam harus menyerahkan tanah air dan tumpah darahnya pada mereka ? Para pejuang keadilan itu ?  Apakah teriakan bung Tomo yang menjadi operator resolusi jihad dari para Ulama NU di masa itu untuk berjuang melawan penjajah belanda demi tegaknya sebuah Indonesia, negara baru yang tidak berasaskan Islam itu, harus kita akhiri dengan menyerahkan tanah kelahiran ini pada para pejuang syariat ?

Sebuah renungan untuk kita, Indonesia, akankah sunatullah itu berarti menjadi negara yang berwarna warni, polichromatic ataukah homogen, berwarna hijau semata ?

Btw, mengapa harus kita serahkan negara ini begitu saja pada para dpejuang syariat ?  jawabannya sederhana, karena sudah mereka minta.  Kalau negara ini belum menerapkan syariat Islam, maka para pejuang merasa hukum Islam dilecehkan, dan mereka akan berijtihad sendiri dengan membuat bom.  Toh mereka merasa dirinya bukan teroris, yang teroris itu yang Amerika dan Israel.  Bisa kita simak kesimpulan diatas, ada dalam baris demi baris wawancara detik dengan master dari para jihaders ini, ust. Abubakar Ba’asyir.

Rabu, 22/07/2009 12:29 WIB
Ba’asyir: Tidak Ada Aktivis Islam Menjadi Teroris

Bakar Ba’asyir menegaskan tidak ada aktivis Islam yang ikut gerakan teroris. Menurutnya, terlepas salah atau benar tindakannya, para aktivis itu hanya mereaksi tindakan-tindakan pemerintah dan negara-negara barat yang dinilai melecehkan Islam dan hukum Islam.

Tidak ada aktivis Islam yang teroris. Mereka adalah pejuang Islam dengan itjihad mereka sendiri. Teroris yang sebenarnya ya Amerika dan sekutunya itu. Mereka hanya mereaksi serangan permusuhan terhadap Islam yang dilakukan musuh Islam,” ujar Ba’asyir kepada wartawan di Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Solo, Rabu (22/7/2009).

Selain itu Pemerintah Indonesia juga dinilai tidak punya nyali karena tidak mau menerapkan hukum Islam dalam pemerintahan di negara yang mayoritas Islam. Menurut Ba’asyir, para aktivis Islam yang disebutnya sebagai para mujahid itu akan dengan sendirinya reda jika hukum Islam diterapkan.

13/08/2009 – 15:54

‘Doa’ Abubakar Ba’asyir untuk Teroris

INILAH.COM, Jakarta – Abubakar Ba’asyir, pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, membacakan doa bagi dua jenazah yang terlibat jaringan teroris pembom Mega Kuningan, Jakarta, 17 Juli. Bagi kalangan Islamis radikal, doa simbolis Ba’asyir itu menunjukkan sinyal bahwa Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono dianggap sebagai ‘pelaku jihad’, bukan teroris. Mengapa?

Langkah Ba’asyir itu sungguh simbolis, seakan meneguhkan apa yang dinyatakan Orientalis Prof Bernard Lewis sebagai ‘bahasa politik Islam’. Di sini cap teroris oleh pemerintah dan publik dibaca secara berbeda oleh para Islamis. Sebab kelompok yang mengantar jenazah Air dan Eko melihat kedua sosok itu sebagai para ‘jihadis’, bukan teroris. Perbedaan cara pandang ini sangat laten dan itu menandai adanya persepsi yang berbeda secara diametral di antara masing-masing kutub.

“Kutub pemerintah memberikan stigma teroris bagi Air dan Eko, sedangkan kutub kelompok Muslim radikal menganggapnya ‘jihadis’. Ini memang salah satu problem yang menyulitkan langkah membasmi terorisme,” kata Noorhaidi Hasan PhD, peneliti Islam radikal dan dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

baca juga :

http://www.detiknews.com/read/2009/07/22/122955/1169335/10/-baasyir-tidak-ada-aktivis-islam-menjadi-teroris

http://inilah.com/berita/politik/2009/08/13/141642/doa-abubakar-baasyir-untuk-teroris/

http://suarapembaruan.com/News/2009/08/14/Editor/edit3.htm

Samsat ada di mana mana :p

P1000629 P1000628

Ngurus perpanjangan STNK sekarang ini gampang banget. 5 menit pun jadi.  contohnya di Samsat Jembatan Merah ini.

Papabonbon ketika mengurus perpanjangan SIM, hanya perlu menyiapkan KTP asli, BPKB serta membawa STNK lama.  hanya 2 loket yg dilalui, dan semua dilakukan di atas kendaraan kita.

  1. loket pertama, kita menyerahkan 3 dokumen tadi
  2. di loket kedua, bayar plus ambil KTP, BPKB dan STNK yang baru. (papabonbon hanya bayar 183.500 rupiah untuk bayar pajak STNK motor yg baru berumur satu tahun itu).

Cepat, nyaman dan tidak pakai ribet.  huehehehe …. 🙂

Yang problem adalah, banyak orang yang tidak mengerti dimana lokasi samsat drive thru ini.  Lima kali bertanya, hanya ada satu jawaban positif.  Sayang banget yah :p

Padahal lokasi samsat drive thru ini ada tiga (eh, ternyata empat ) lho di surabaya. 

  1. Drive Thru Samsat Manyar Surabaya Timur
  2. Drive Thru A. Yani Surabaya
  3. Drive Thru Jembatan Merah Plaza (JMP) Surabaya
  4. Drive Thru Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya

baca juga :

Kembali ke Tanah Leluhur

Urusan orang Yahudi kembali ke tanah mereka dari pengasingan, ternyata bukan kejadian baru-baru ini tok.  Tapi sudah terjadi dari dulu, sudah bolak balik malahan. 

Dan dari jaman dulu, yang namanya orang baru balik ke tanah leluhur, dan ketemu tanah mereka sudah dihuni orang lain, pastinya menimbulkan konflik berkepanjangan.  Bahkan terhadap orang Yahudi yang masih tersisa di tanah tersebut pun timbul konflik juga.  Samaria, yang masih bertahan di sana di masa pengasingan, malah ujungnya kena dikucilkan balik.  Weleh weleh.

Habis searching di wikipedia, menarik juga buat direnungkan :

The Samaritans (Hebrew: Shomronim, Arabic:  as-Saamariyun) are a religious group of the Levant. Religiously, they are the adherents to Samaritanism, a parallel but separate religion to Judaism or any of its historical forms. Based on the Samaritan Torah, Samaritans claim their worship is the true religion of the ancient Israelites prior to the Babylonian Exile, preserved by those who remained in the Land of Israel, as opposed to Judaism, which they assert is a related but altered and amended religion brought back by the exiled returnees.

orang Samaria lagi sembahyang (gambar dari wikipedia)

tapi klaim ini malah mendapat tentangan dari sesama Yahudi yang baru kembali dari pengasingan (mereka diasingkan oleh orang Assiria dan boleh kembali ke tanah mereka di jaman Cyrus – raja Babilonia.  baca lagi tulisan papabonbon ttg Esther sekitar dua tahun yang lalu).

Ancestrally, they claim descent from a group of Israelite inhabitants who have connections to ancient Samaria from the beginning of the Babylonian Exile up to the beginning of the Common Era. The Samaritans, however, derive their name not from this geographical designation, but rather from the Hebrew term (Šāmĕrım), "Keepers [of the Law]". In the Talmud, a central post-exilic religious text of Judaism, their claim of ancestral origin is disputed, and in those texts they are called Kuthim, allegedly from the ancient city of Kutha, geographically located in what is today Iraq. Modern genetics has suggested some truth to both the claims of the Samaritans and Jewish accounts in the Talmud

ini orang Yahudi yang baru balik dari pengasingan dan melihat bekas ibukota mereka luluh lantak, dan tanah mereka sudah dihuni oleh orang lain.

According to the Jewish version of events, when the Judean exile ended in 538 BCE and the exiles began returning home from Babylon, they found their former homeland populated by other people who claimed the land as their own and Jerusalem, their former glorious capital, in ruins.

According to 2 Chronicles 36:22–23, the Persian Emperor Cyrus the Great permitted the return of the exiles to their homeland and ordered the rebuilding of the Temple in Jerusalem (Zion).

yang lucu juga, etnis Pasthun di Afghan dan Pakistan (yg sekarang jadi suku suku Utara yg pegang kendali di Afghan setelah Taliban Era, ternyata punya hubungan sangat dekat dengan tradisi Yahudi. Katanya malah keturunannya.

The Pashtuns are a predominantly Muslim people, native to Afghanistan and Pakistan, who adhere to their pre-Islamic indigenous religious code of honour and culture Pashtunwali. They traditionally claim descent from the Lost Tribes. The Yousafzai (Yusafzai) are a large group of Pashtun tribes. Their name means "Sons of Joseph". There are also similar names in other areas of the region, such as the disputed land of Kashmir. There are a variety of cultural and ethnic similarities between Jews and Pashtuns. A visit by a Western journalist in 2007 revealed that many currently active Pashtun traditions may have parallels with Jewish traditions. The code of Pashtunwali is strikingly similar in content and subject matter to the Mosaic law.

Oh ya, ada berapa orang samaria sekarang ini ? Gak banyak, ternyata tinggal 700 an orang.  Karena sempat ada urusan pemberontakan di jaman duluuuuu banget, dan di jaman kekhalifahan Islam, ternyata mereka sempat dipaksa masuk Islam.  Weleh, yang bener ???

Although historically they were a large community — up to more than a million in late Roman times, then gradually reduced to several tens of thousands up to a few centuries ago — their unprecedented demographic shrinkage has been a result of various historical events, including most notably the bloody repression of the Third Samaritan Revolt (529 CE) against the Byzantine Christian rulers and the mass forced conversion to Islam in the Early Muslim period of Palestine. According to their tally, as of November 1, 2007, there were 712 Samaritans living almost exclusively in two localities, one in Kiryat Luza on Mount Gerizim near the city of Nablus (Shechem) in the Palestinian territories’ West Bank, and the other in the Israeli city of Holon.

NB : btw, curious juga, itu orang orang Samaria yahudi tinggal di Tepi Barat, kan di wilayahnya Muslim, apa mereka kagak dibantai yah ?  *garuk garuk kepala*

baca juga :

http://en.wikipedia.org/wiki/Samaritans

http://en.wikipedia.org/wiki/Ten_Lost_Tribes

Jacatra under attact

Teroris lagi lagi teroris.

Fenomena dunia modern atau kemunduran karena impor konflik dari timur tengah (asia barat) sana yah ?  Weleh weleh.  Menunggu kecaman dari PKS, salafi, hizbut tahrir, Majelis Mujahidin, Ansharut Taudid, dll terhadap kelakuan aktivis garis keras semacam ini.  Bukannya apa-apa, mereka yang selalu memakai bahasa teror dan kekerasan dalam penyebaran ideologinya, selayaknya bertanggung jawab ketika kekerasan atas nama agama itu benar benar terjadi.

 

Atau yang saya lihat, jalan lain bagi mereka yang baik hati, dan rikuh untuk menunjuk langsung pada kelompok yang suka memakai bahasa kekerasan ini, akan menggunakan alibi – kasian MU gak jadi main di Indonesia. Rugi tiket dan seterusnya.

image  imageimage

 imageimage

 

gambar dikumpulkan dari berbagai topik di kaskus.us