Sharing: Mengapa Pindah Kerja ?

Pindah kerja, kutu loncat, cari tantangan, suasana baru, ingin berkembang ? aah, jargon jargon lama tentang pindah kerja.  Tapi asik juga nih, sharing soalan seperti ini.  🙂

===

Kira2, ada diantara kita yang ganti kerja karena mempunyai agenda2 tertentu, misalnya, pengen dapet greater achievement in the new organisation? Misal, di perusahaan lama Engineer, di perush baru jadi Sr Engineer. atau perush lama jadi Manager, yang baru jadi Sr Manager. Atau Perush lama Manager, yang baru jadi director.. yang gitu2 deh

Kalau Bang ABC kan nyari tantangan baru.

foto dari http://www.portalhr.com

motivasi si A

Agenda gue pindah kerja :

1. pulang kampong
2. bisa sekolah lagi
3. naik gaji 30 persen

so far sih udah, jadi masuk zoba kenyamanan dulu. cuman kayaknya udah mulai perlu lirak lirik lagi, secara,

1. gaji naik, gaya hidup naik … 🙂
2. kalau ditambah biaya sekolah, jadinya kok malah kurang .. hhahahaha

iya nih, aku pengen tahu kesaksian bang ABC atau rekan XYZ. Rajin pindah pindah, dan setahun setahun gitu, dan tahu tahu menclok sebagai senior manajer. Mantepb gitu hehehehe 🙂 soalnya kalau aku, belum mikir serius tuh buat loncat loncat demi karir. Rada rada illfil sama office politics soalnya …

motivasi si B

Ane dulu pindah kerja dari undergroung mining site di Kalimantan ke Jakarta demi keselamatan nyawa 🙂  Gaji jadi lebih rendah, tapi yg penting tidak harus berhadapan dengan resiko runtuhan tanah, gas beracun, ledakan, dsb. Baca lebih lanjut

Ngejar Gaji atau Kenyamanan ?

Masih lanjutan curhatan anak anak spore dari thread sebelumnya … 🙂 hyahahahhaa.  Dibikin jadi beberapa posting supaya tidak terlalu rumit ketika dibaca 🙂 

  • pertanyaan : di spore, semua pekerjaan hanya 13x gaji yah.  12 x plus THR ?
  • jawab : tidak.  ada tuh yang sampai 20 kali gaji.  contohnya seperti di bawah ini.

foto dari http://www.savagechickens.com/images/chickencubicle.jpg

dari singaporean – orang shipyard

Tapi utk share siy yaa… memang bener. Gaji wkt itu cuman 3.5k lbh dikit. Jabatan Asst. Project Manager. dapet bonus wkt itu 7 bulan terus dapet tambahan special bonus 4 bulan (tapi cuman bisa diambil 1 bulan tiap taonnya). Jadi total dpt 20 bulan. Tapi yang taon kmrn krn gw “dipaksa” mabur, gw keilangan dah 8.5 bulan + 3 bulan carry over dr taonnya sblm taon lalu plus another special bonus expected 2 months.

Baca lebih lanjut

Gaji di Telco vs Kerja di Spore

Jadi ketularan oom anjar nih, ngomongin gaji hehehhe 🙂  Asik, menarik, dan tidak pernah membosankan sih 🙂  Apalagi kalau ada info info baru.  so, Menurut kamu, mendingan mana kerja di Telco atau di Spore ?  Advantage disadvantagenya.

gambar dari http://wokay.files.wordpress.com/2007/06/late.thumbnail.jpg

Telco

  • ada lipatan gaji, tiap periode tertentu sehingga total gaji yang diterima dalam setahun bisa lipat dua bahkan lebih.  contohnya :  Indosat = 18 x 700 SGD (4-5 jt), Telkomsel = 28 x 1400 SGD (Rp9-10 jt)
  • kenaikan gaji 20 % tiap tahun
  • jakarta macet berat, harga rumah juga mahal mahal
  • hanya mendapatkan pengalaman lokal

Kerja di Spore

  • gaji pokok relatif besar dibanding di Indonesia.  mechanical design engineer rata rata dapat sekitar SGD 3000 (20 jt).  tapi gaji standar plus THR 1 x gaji.
  • kenaikan gaji, selain kinerja, yah, sekitaran angka inflasi deh [malah cuman 5% kenaikannya]
  • transportasi massalnya banyak banget, harga apartemen, yah mahal gak karu karuan lah
  • dapat exposure luar negeri

 

Perbandingannya Baca lebih lanjut

D.O – drop out – Arry Risaf Arisandi

Baca pertama kali tentang novel yang dijadikan film ini lewat resensinya si kunderemp ari narkaulipsy.  Papabonbon, baru kemarin malam menuntaskan baca novel ini.  Niat lho beli novelnya, beli pake uang sendiri.  Nggak sekedar pinjam 🙂  Hahahaha …

Kemunculan filmnya di saat yang salah, karena bertepatan dengan launching Ayat Ayat Cinta.  yah, nyosor deh.  oh oh, papabonbon kan tidak bicara film.  kita bicara novelnya.  🙂  Apalagi papabonbon jua belum lihat filmnya kok hyakakakaka 🙂

Novelnya lucu, sangat mengingatkan pada novel jomblo-nya Aditya Mulya. Namun lebih sarkastis dan muram.  Somehow, cara guyonannya yang cerdas, slapstick, dan menukik dan membumbung cepat itulah yang mengingatkan pada jomblo.  Amboi, dunia bisa dilihat dengan warna warni. 

Suramnya guyonan novel ini sih disebabkan karena menambil sudut pandang seorang mahasiswa D.O.  putus asa, keluarga yang kacau balau, kepercayaan diri yang sangat rendah, tanpa motivasi.  Jadi ingat perumpamaan yang sering dipakai seorang abang TN2, Bono budi Priambodo, lack of determination.  Uhmm, profil bang Bono yang ditulis di friendsternya malah cocok banget dengan gambaran novel ini.  Ditampilkan dikit berikut ini.  Si abang ini ajaib, namun kalau sudah pernah dekat sama dia, semua orang, yakin salut sama dia.

How nobody is Nobody? Almost got kicked out from high school due to chronic laziness and lack of determination, actually got kicked out from naval academy due to the same reasons, dropped out from law school due to the same reasons, got divorced due to the same reasons, got fired several times from various jobs due to the same reasons,… Slaves should have learned the Art of Nobodiness.

Hampir dikeluarkan dari SMA karena terlalu pemalas. Dikeluarkan dari Akademi TNI-AL karena pemalas dan bermental lemah. Sudah sebelas tahun kuliah di FHUI tidak kunjung lulus karena pemalas dan sering membolos. Diceraikan bekas istri karena malas bekerja dan akhirnya miskin. Dipecat dari berbagai-bagai pekerjaan karena pemalas dan kurang motivasi. Sekarang sakit-sakitan, menganggur, tidak punya pekerjaan tetap, gendut, mengalami kebotakan di dahinya. 

Gambaran gambaran suram, buram.  dan lagi lagi dari sudut pandang orang biasa yang harus putus asa.  Ajaib, ketika Jemi, tokoh dalam novel ini, bisa melihat gambaran dunia yang lebih luas dari sosok Dayat. Bahwa dunia tidak akan hancur berkeping keping jika pun jemi harus D.O.  Padahal dulunya Jemi benar benar sosok yang tidak punya tujuan hidup.  Bisa dilihat bagaimana Jemi memahami dirinya dengan cara yang unik.

Jemi, si mahasiswa abadi, dari kecil nggak pernah punya cita-cita. Waktu masih SD, temen-temennya ada yang pengen jadi guru, pengusaha, malahan ada yang pengen jadi tabib. Jemi nggak pengen jadi apa-apa.

“Kamu harus punya cita-cita, Jemi,” kata gurunya. “Semua temen-temenmu punya cita-cita. Agnes ingin jadi guru, dan Susi ingin jadi pengusaha seperti bapaknya. Kamu ingin jadi apa?”
“Baiklah kalo memang harus punya cita-cita. Saya pengen jadi suaminya Susi!”
“Kamu nggak boleh bercita-cita jadi cowok matre, Jemi! Pikirkan lagi!”

Itu kali pertama dan kali terakhir Jemi mikirin cita-cita. Sampe dewasa, dia tetep lebih suka membiarkan hidupnya mengalir kayak banjir—nyusahin banyak orang. Dia ikuti kemana saja angin meniupnya. Niatnya kuliah di jurusan Sastra Rusia, malah terdampar di jurusan Akuntansi. Tiap kuliah, kerjaannya cuma menggambar pohon dan pohon. Catatan kuliah jadi pohon, buku jadi sejuk, dia jadi bodoh.

Mohon maaf juga, resensi filmnya justru menggambarkan kalau film ini seolah olah kisah tidak berguna yang nyerempet nyerempet seks.  Malas deh !

Baca juga :

House Of Sampoerna – A Family Legacy

Kemarin pas jam makan siang, papabonbon iseng main ke House of Sampoerna. Secara lokasinya hanya lima menit dari kantor papabonbon.  wiiih.  Ini musium paling keren yang papabonbon pernah lihat.

Tidak terlalu besar, sehingga kita tidak kehabisan tenaga ketika menelusur musium.  Namun jiwa sudah sangat terpenuhi, dengan gaya bangunan, dan ide yang tercermin dalam penataannya yang luar biasa maknyuzz. 

Yang paling ngangkat adalah kolam ikan koi di bagian depan [selain ikan koi ukuran sedang, ada satu ekor yang ukurannya gedhe bener].  Kolam ini sangat menyegarkan suasana.  Ditambah aroma terapi berupa semerbak bau cengkih khas kota produsen rokok.  Jadi ingat Kudus dan Kediri.  Suasananya menyenangkan sekali.

Selain perjalanan waktu yang dilalui oleh Lim Seng Tee yang menjadi tjikal bakal leluhurnya, suasana pabrik juga dihadirkan di musium ini.  di lantai dua disuguhi aktivitas melinting rokok yang diperagakan 9 pekerja.  lalu ada kaca besar di samping.  ternyata, kita bisa melihat ratusan pekerja di lantai bawah yang juga sedang sibuk melinting rokok.  walah.  jadi ingat serasa waktu kerja di pabrik kroya dulu.  kita lagi lihat suasana dari ruang training, atau dari ruang packing.  haiya ….

Foto foto sudah banyak yang punya di blog lain.  Jadi papabonbon sharing foto yang rada beda.  Motret ala jadoel pakai hitam putih juga.  Oh ya, dengan keantikan tempat ini,  tandingannya main ke house of Sampoerna ini, mungkin dengan main ke CCCL Darmokali Surabaya … 🙂

 

 

Salah Kaprah Samenleven

Seorang teman sedang mencoba membuat kalimat. “Bukannya mereka tinggal bareng? Samen leven kalau kata mbah-mbah di kampung”.

Ternyata kalimat ini salah. Mengutip seorang teman di milis sebelah 😦

“Samen leven” dengan kata bendanya “samen leving” itu artinya hidup bersama sebagai masyarakat, sebagai de maatschappij. Sedangkan kalau “kumpul kerbau”, hidup bersama tanpa wedlock, ada kata lainnya, samen wonen.

Jadi, Samen leven itu konotasinya sosial oom. Kira kira artinya kayak dalam kalimat “hidup bersama dalam masyarakat, kita tidak boleh bersikap mengedepankan ego, harus menenggang rasa pada aturan aturan dalam bermasyarakat”.

Seorang teman lain menambahkan dengan lebih jelas.

“Iya, di bhs jerman juga Zusammenleben konteksnya sosiologis. Setahu saya Zusammenwohnen baru didefinisikan sebagai cohabitation, walau bisa juga diartikan tinggal bersama orang lain (seperti dalam WG). Lalu kenapa samen-leven itu di Indo bisa diartikan kumpul kebo yah?”

Pakai Kartu Kredit Mana ?

Coba deh, kamu search di google, pakai keyword kartu kredit.  Tanggung ada berjibun sumpah serapah dari mereka yang kecewa dengan kartu kredit.  Semua merk kartu kredit yah, gak nanggung nanggung deh, pasti tidak ada yang terlewat.

Padahal, katanya kartu kredit berguna untuk menunda pembayaran [satu bulan saja sih].  Jadi kartu kredit itu sebenarnya berguna atau tidak sih ?

Papabonbon, bulan lalu apply kartu kredit, dan sebelumnya menghabiskan waktu sekitar 2-3 minggu untuk searching informasi kartu kredit sebanyak banyaknya.  Terutama dari kasus kasus kecewa pelanggan dan komplain yang ada.  Setidaknya papabonbon bisa menyimpulkan beberapa hal, pelanggan dikecewakan karena :

  1. misalnya BCA, kartu kreditnya harus bayar annual fee double.  karena kalau apply visa atau master, kita akan menerima dua kartu kredit, bca cart dan visa/master card.  sementara BCA kurang transparan tentang hal ini.
  2. beberapa pelanggan kecewa, karena kadang melakukan pembayaran berlebih, namun ketika kurang bayar sedikit saja, tagihan plus bunganya ampun ampunan 😦
  3. pelanggan kurang familier dengan sistem respon perbankan dan SOP customer service.  sering terjadi kekecawaan dimulai dalam proses kenaikan kredit limit.  Beberapa bank memberikan fasilitas kenaikan limit otomatis asalkan saldo kita di bank yang sama mencukupi, namun sering kali, antara limit di kartu kredit dengan saldo di tabungan tidak bisa match seketika [terutama ketika hari libur], akibatnya, pembelian kita dikenakan bunga sangat mahal karena dianggap over limit
  4. pihak keluarga sering mendapat tekanan dan perlakuan kejam dari pihak debt collector, baik yang third party maupun debt collector factoring [kredit kita dijual karena dianggap kredit macet].  perlakuan kasar sering diterima pihak yang tidak berkepentingan. 
  5. data kita sebagai konsumen yang seharusnya dirahasiakan, ternyata dijual begitu saja seara semena mena.  😦

nah, lalu benefitnya apa ya ?

kalau orangnya teratur, maka bisa untuk one bill payment. Dari segala urusan semacam :

1. bayar listrik
2. bayar telepon
3. bayar tagihan hape
4. belanja bulanan
5. bayar asuransi
6. langganan internet

jadi kita tidak perlu pusing melakukan pembayaran satu per satu untuk setiap item tagihan diatas.  Enak bukan ?

Tapiiiiiii, kalau orangnya kalap, pengen beli hape terbaru, [atau nafsu beli printer baru biar dapat ipod dgn harga miring, atau baru pindahan rumah, terus langsung belanja spring bed, tv, ac, lemari, kulkas, mesin cuci, dll yah, maboklah pasti keuangannya …. 🙂

Solusi untuk mengontrol penggunaan kartu kredit antara lain :

  • harus rajin ngecek ke websitenya kartu kredit, item tagihan kartu kredit kita larinya kemana ajah …. 😦
  • belanja gedhe ndak papa, asalkan hari ini belanja, besok kudu bayar.  Sambil ngejar point atawa ngejar cashbacknya 🙂 hyakakakakaka

Lalu kartu kredit mana dong, yang direkomendasikan ?  bukannya semua bank penyedia kartu kredit ternyata punya cacat cela ?  Berikut ini info dari seorang rekan, mas Etjip dengan beberapa tambahan.

Saran:


1. Bisa dipilih: HSBC, BCA, Mandiri.

HSBC pelayanannnya profesional; BCA cukup banyak promo, bagi penggemar starbucks, all year round bisa upsize, tiap 2 bulan ada promo buy 1 get 1 free untuk frappucino; Mandiri kayaknya masih belum dengar track record negatif, dan seringkali ada 50% off.

2. Jangan pernah dipilih: Citibank, Standard Chartered, Niaga.
Citibank pernah punya pengalaman buruk. Sejak punya Citibank tahun 2006, dalam jangka waktu sebulan setelah kartu didapat, gw sering dapat telpon penawaran kartu kredit, voucher hotel, dll. Pasti gara-gara Citibank membocorkan data gw. Kenapa yakin Citibank? Karena gw pemakai setia HSBC dari tahun 1999 dan tidak pernah sekalipun ditelpon orang gak jelas yg menawarkan suatu promo sampai tahun 2006, persisnya sebulan setelah terima kartu si Citi.

Standard Chartered: menurut gw dia tidak conduct business in ethical way. Gw pernah ditawarin kartu kredit Stan-Chart. Pas gw tanya dapat data gw darimana, dengan bego (ato jujur) si marketer bilang dapat beli data dari pajak. S**t.

Niaga: bulan Feb 2008 jadi korban carding, jadi security systemnya pasti jelek abis dan security atas data storagenya pasti ancur berat. Untung tuh kartu yg bikin kantor, bukan punya pribadi…. :p EGP. Tapi, buat personal gw tidak akan mau pakai Niaga.

Selamat memilih (ini bukan promosi, gw juga tidak dapat komisi dari memberitahu info di atas.)

O ya, untuk bisa dipakai di lounge airport, mesti yg gold ato lebih, paling asyik platinum (berapa sih minimum income buat gold ato platinum sekarang? masih 60 sama 100 juta?). Untuk Soekarno-Hatta, lounge-nya ada di terminal 2D. Sedihnya, lounge-nya HSBC jelek banget, makanannya cuma nasi goreng, mie goreng, bakpao sama softdrink (data per awal 2007). Nyebelin, mendingan gak sekalian ato masuk lounge yg lain bayar 60 ribu.

Kalau ingin yang bunganya murah, tentu pilih bank lokal.  Paling rendah bunganya Bumiputera, BNI, diikuti BRI, Mandiri, BCA.

baca juga :

http://priandoyo.wordpress.com/2007/06/20/kartu-kredit-apa-yang-cocok-buat-saya/

Gimana nih bapak & ibu Pemda ?

Infrastruktur rusak dimana mana. Apalagi setelah hujan yang diikuti banjir selama 6 bulan terakhir.  Salah satu bentuk keprihatinan akan hal itu bisa kita temukan dalam curhatnya bang kombor di sini.  Yang digugat adalah jalan yang rusak arah ke Sukabumi.  Papabonbon kutipkan berikut ini :

Edan. Lepas dari tol Jagorawi, sepanjang jalan dari Ciawi menuju Sukabumi benar-benar tidak bisa dinikmati. Jalanan rusak (padahal kondisi jalanan menanjak dan menurun) ditambah di setiap kecamatan yang dilalui selalu saja macet. Sebut saja Cicurug, Parung Kuda, Cibadak dan Cisaat. Semua tempat itu — yang saya duga kota Kecamatan — memiliki pasar. Pasar itulah yang menjadi biang macet. Yang lebih parah lagi, macet dibumbui dengan jalan yang penuh lubang dalam. Komplit deh untuk membuat kepala pecah.

Padahal sebelumnya kondisi jalan Sukabumi itu mulus bener.  Setidaknya kang kombor mengakui bahwa ketika 2005 melewati jalan itu, enak enak aja tuh.  Bung Etjip juga menyebutkan kondisi jalan sekitar pemilu 2004 juga masih maknyuzz punya.

Wah, itu “dulu”-nya pasti sebelum pemilu 2004. Soalnya gw terakhir pernah dari Bandung balik ke Jakarta lewat Sukabumi/Puncak dan jarak Bandung-Jakarta tersebut cukup ditempuh dalam waktu 1 jam 35 menit saja. Rute Bandung – Tol Padalarang, exit di Padalarang (ya iya lah, waktu itu kan tol Cipularang belum jadi ), lewat padalarang/bumi parahyangan terus sampe cianjur, sukabumi dan puncak, masuk tol jagorawi, turun di GatSu/Kuningan.    …..

Tahun 2004 itu jalannya emang mulus banget. Apalagi jalan sesudah keluar dari kota Cianjur yang lurus dan panjang itu (gak tahu nama jalannya), mulusnya amit-amit… TOP. Sekarang mungkin hancurnya yang amit-amit kali yee….

Hal ini patut disayangkan, karena potensi pariwisata Sukabumi akan kehilangan pesonanya, jika untuk mencapai lokasinya saja sudah penuh perjuangan.  Seingat papabonbon, Sukabumi terkenal dengan Lido dan Selabintana, juga tempat divingnya para backpackers di Pelabuhan Ratu.  Oh ya, di sana, tidak lupa, ada Mak Erot yang sangat terkenal itu …. 🙂 .  Sukabumi memang terkenal dengan udaranya juga dingin, sejuk, gadis gadisnya yang cantik dan segarrr punya.

Padahal selain alamnya yang sangat mendukung untuk berwisata, Sukabumi juga sudah mulai dilirik untuk lokasi pabrik.  Bahkan ditengarai, jalan banyak yang rusak karena sudah mulai banyak pabrik yang bermunculan di kiri kanan jalan sebagaimana ditengarai Oggy dan kang Kombor.

yang bikin parah sebenernya pabrik2 (korea, dll… kebanyakan garmen kali ye) sepanjang cicurug sana…

Protes :

Dengan adanya pabrik seharusnya Pemdanya responsif, harus memelihara infrastrukturnya. Mosok nerima pajaknya, tapi jalan kagak di rawat. Jangan sampai kayak industri di daerah Legok, Tangerang yang sudah ramai ramai pindah tempat karena jalannya ancur, gak dipelihara. Masalahnya banyak penambangan pasir dan batu di sana. Jalan ancur kagak karuan.

Kalau investornya sudah pindah semua, baru nyaho tuh pemda.

curhat, teringat :

  1. gudang distribusi tempat kerja papabonbon dulu terpaksa pindah ke cibitung, karena infrastruktur yang dijanjikan Pemda tidak dirawat
  2. ada cukup banyak vendor yang mau gak mau ikut serta relokasi, mengikuti ke mana principalnya pindah.  bahkan antisipasi, principal belum pindah, vendornya pindah duluan.
  3. principal pun untuk pabrik kedua dan ketiganya memilih membangun di sekitaran bekasi dan cikarang, di kawasan industri saja [yang sudah jelas tertata rapi].  kapok, tidak mau membangun di kampung, kendati sejarahnya si principal dulu di Korea, sukses membangun kampung jadi kota berbasis industri [kerja sama yang mantab dengan pemerintahnya]. 

 

di LN, tapi mau bayar pajak

Sejak satu dasawarsa terakhir makin banyak saja orang Indonesia diaspora yang bekerja di luar negeri, masih memegang paspor Indonesia.  Banyak yang bertanya tanya, bagaimana caranya bayar pajak yah ?  pun rekan rekan di singapura juga sering sekali pulang pergi ke Indonesia, namun kebingungan, bagaimana caranya untuk klaim fiskal ?

diskusi di web ikastara, ada jawaban dari cerryan rushadi berikut ini :

  1. solusi spy fiskal bisa dikreditin yah kudu punya npwp bang, ini juga pernah saya tanya ke dosen saya,
     
  2. pada prinsipnya subjek pajak dalam negeri (soalnya gak bisa dibilang harus WNI) yang sudah memenuhi syarat (telah memperoleh penghasilan/objek pph) wajib memiliki NPWP,
     
  3. nah menurut dosen saya bagi mereka yang di LN sampai saat ini ditjen pajak belum concern utk ekstensifikasi pajak kepada mereka, dikarenakan ditjen pajak masih menganggap kontribusi mereka terhadap devisa negara…..
     
  4. lagian mereka juga dah dipotong PPh di negara tempat mereka bekerja mungkin nantinya DJP bakal concern juga (klo udah gak ada yg digali di Indonesia lagi kali ya…..)

hemmm, jadi penasaran juga sih tapinya, secara daftar 100 orang terkaya di s’pore itu ternyata banyak yang indonesia origin.  belum lagi kelas menengah dan kaum terdidik indonesia yang berkarir di sana.  catat : yang dapat beasiswa kuliah di NTU dan NUS harus mengganti loan sekolah mereka, dan mereka diberi permanent resident gratis selama lima tahun untuk melunasi loan.  Jadi kesimpulan sementara, orang Indonesia di spore sebenarnya wajib pajak yang potensial lho … 🙂

herannya pemerintah rencananya akan menerapkan tarif yang lebih tinggi 20 persen bagi karyawan yang tidak punya NPWP, namun potensi pajak di luar negeri dibiarkan begitu saja. 

ada pertanyaan sejenis dan ulasannya juga di beberapa blog.  silakan mampir ke :

diskusinya menarik karena ada ilustrasiperhitungannya, dan dijelaskan juga peraturan peraturan terkait.  papabonbon kutipkan sedikit di bawah ini :

Fannytirtasari wrote :

Halo,

Saya mau menanyakan perihal SPT untuk TKI seperti kami yang sudah mempunyai NPWP tetapi tidak bekerja di Indonesia lebih dari 2 tahun. Kami sudah tinggal dan bekerja di Singapura selama 2 tahun. Baca lebih lanjut

Ritel Rakus. Salah siapa ?

Kalau kemarin kemarin kita membahas carrefour yang kita cap sebagai raksasa tamak yang rakus.  Sekarang kita perluas horizon pemandangan kita, mari kita telisik, mengapa raksasa ritel seperti carrefour ini rakus ?  Apa benar mereka rakus ?  Dan, apa sebab mereka tampak rakus?

Di ilmu ekonomi ada produsen – distributor dan konsumen.  supply and demand sering kali digambarkan seolah olah hanya hubungan antara produsen dan konsumen saja.  padahal kalau mau bicara lebih detail, dalam urusan distribusi masih ada banyak pemain lagi.  misalnya saja :

  1. principal
  2. distributor
  3. ritel

Nah, tulisan ini akan menyoroti hubungan dinamis antara principal dengan ritel.  konon, dimasa masa awal [jaman kemerdekaan kali yah ..:p], hubungan antara principal dengan ritel adalah hubungan pertemanan yang hangat dan sangat dekat.  principal melempar barang ke ritel seperti membuka keran kamar mandi.  plus ditambah ngupi ngupi, makan makan, ngobrol kiri kanan.  paling paling keluar, kaus dan kalender.  masalahnya, hubungan seperti ini mungkin baru kita temukan lagi, kalau kita ke pasa klewer, ke pasar turi, atau tanah abang.

Nah, ceritanya principal kena tekanan buat nge-push jualan, sehingga principal lah yang duluan pasang tampang galak.

  1.  Mulai dari cara yang halus dengan pemberian diskon dengan syarat target penjualan sampai dengan
  2. cara memaksa dengan wajib beli perjumlah tertentu. jika tidak bersedia dikenai sanksi mulai dari harus bayar cash hingga tidak dikunjungi lagi.

Nah, belakangan ritel juga tumbuh besar dan menggurita.  Dan sejak mereka mulai punya demand signifikan dan otomatis berujung pada bargain power, mereka pun mulai “bergerak”.  🙂

jaman sekarang kira kira inilah yang dilakukan oleh principal maupun ritel :

  • Para principal sudah tidak bisa mengandalkan level Sales Canvas namun mulai menurunkan mulai dari Trade Marketing Manager hingga Key Account Manager yang punya keahlian untuk membawa kepentingan para principal di dalam retailer-retailer raksasa ini.
  • Para Retailer, mereka juga harus berkompetisi dengan Retailer-retailer lain. Operational Cost semakin meningkat sedangkan Margin harus semakin ditekan karena perang diskon semakin gencar. Jalan keluar?
  • Semua yang bisa di uangkan dari area mereka pun di jual. Mulai dari kantong plastik, dinding kasir, tempat rokok, shelf space, idle area bahkan mempertinggi biaya Listing. Pokoknya semua yang bisa menjadi uang harus jadi uang with any risk.
  • Persaingan antar prinsipal sendiri di dalam usahanya untuk meraih pangsa pasar seringkali menggunakan faktor harga sebagai paramater utama, dan memaksa
    retailer hanya mendapatkan margin kecil.
  • Kondisi ini secara sangat jeli dimanfaatkan oleh retailer untuk memperoleh back margin from principal by trading term condition. Jadi saya melihat ini merupakan
    pertarungan untuk mewujudkan kepentingannya prinsipal dan dimanfaatkan oleh retailer dan kondisinya (ke depannya) hanya dapat ditentukan sejauh mana pasar consumer dapat merespons setiap produk yang diluncurkan, sehingga kekuatan retailer sebenarnya masih ditentukan oleh aktivitas apa yang dilakukan oleh si pemilik merk (prinsipal).
  • Namun jangan lupa, hal ini telah diantisipasi dengan sangat baik oleh retailer dengan menciptakan private label / brand.  Ingat herosave dan carrefour dengan produk bluesky-nya ?

Joint promo ?  maju kembang bersama ? Ke laut ajah !  🙂  Nowadays, it’s all about capitalism.

baca juga :