Romi S Wahono : Perjuangan PNS

gambar dari sini

mari bandingkan dengan foto bang Romi di masa mudanya.  huehehehe ….

gambar dari blognya bang Romi sendiri, di sini 

Bang Romi kendati PNS tapi semangat berprestasinya besar.  Di blog ini, di thread lain, bahkan sempat ada diskusi menarik tentang pribadi bang Romi kok bisa dengan seabrek kegiatannya, bisa membagi waktu antara tugas tugas PNS dengan kerjaan mroyek di luar.  Intinya, disini kita sharing, bagaimana sih seorang PNS memanfaatkan waktu dengan baik, tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk lembaganya, dan kemaslahatan umat.  Memberi manfaat pada orang lain.

papabonbon pasang di sini, untuk jadi sharing kita bersama.

SUGENG A

 

Memang Romi bisa beraktualisasi di luar LIPI. Tapi tanpa menganggu aktivitasnya sebagai PNS, siapa bilang? Beliau tidak masuk kantor setiap hari. Bisa dihitung kurang dari 5 jari, beliau masuk kantornya di PDII-LIPI. Harap tahu sajalah….

 

Sebenarnya tak jadi masalah dengan ikatan dinas kalau juga ingin berkarir di luar atau punya usaha lain di luar. Tinggal mengatur strategi waktu saja. Toh…di lingkungan PNS, khususnya PNS yang punya expertise, ada sedikit ruang kebebasan jika dibandingkan dengan PNS yang mengurusi pekerjaan yang sifatnya routine. So, dalam kasus Romi, sebenarnya alasan untuk tidak S-3 dulu dengan maksud agar masa ikatan dinasnya pendek, tak cukup punya alasan yang kuat. Yang lebih bagus, Romi mestinya berjuang membangun lembaga dimana tempat dia tercatat dan dengan status PNSnya itu Romi disekolahkan ke LN. Ingat, program-program beasisawa zaman Habibie jadi Menristek yang menjaring bocah-bocah berbakat Republik Indonesia sebagian besar berasal dari pinjaman (e.g. dari Bank Dunia) yang mesti diganti oleh pemerintah RI. Memang tak ringan merubah kultur dan sistem birokrasi kita yang sudah kadung carut marut ini. Tapi bukan alasan buat seorang sekaliber Romi yang mestinya bisa jadi pioneer perubahan untuk escape dari kenyataan.

 

ROMI SATRIA WAHONO

Untuk mas Sugeng, kalau dilihat dari absensi memang saya terpuruk di PDII LIPI. Di Instansi pemerintah orang yang tidak datang ngantor memang dianggep tidak kerja hehehe. Itu yang selama ini saya kritik, padahal orang ngantor juga hanya njeglok absen, sarapan, kerja 1 jam, makan siang, baca koran dan siap siap untuk pulang.


Supaya clear diskusi kita, nanti silakan dicek di laporan tahunan PDII LIPI, 2005, 2006 dan 2007, khususnya beberapa hal di bawah:


1. Siapa penghasill publikasi paper terbesar 3 tahun ini Ingat di PDII LIPI ada 180 pegawai. Kira-kira logis nggak kalau 180 pegawai ini hanya menghasilkan 10-15 publikasi paper, padahal ada satu orang yang anda sebut jarang masuk tadi bisa memproduksi 70-90 publikasi/tahun


2. Siapa penyumbang terbesar income PDII LIPI dalam program Iptekda


3. Siapa pegawai PDII LIPI yang selalu menjadi nomor satu dalam seluruh diklat yang diikuti, baik fungsional maupun struktural di level LIPI or nasional. Atau mungkin perlu dicek, sebelum era 2005, apakah ada pegawai PDII LIPI yang mendapat penghargaan pada diklat yang diikuti. Jangan2 tidak ada


4. Cek juga di era 2005-2006, eselon 4 mana penghasil proposal kegiatan terbanyak


5. Cek dari angket dan survey peserta, siapa instruktur Cisco local academy PDII LIPI yang mengajar paling professional.


6. Cek dari data Local Academy (LA) di bawah PDII LIPI, kira-kira siapa yang berhasil membawa masuk banyak LA ke PDII LIPI. Mohon dicatat bahwa 1 LA = management fee 4jt/tahun


7. Cek juga, apa saja fasilitas yang telah diberikan PDII LIPI orang yang melakukan hal 1-6 Saya tidak mendapatkan komputer, tidak mendapatkan literatur, tidak pernah meminta uang jalan (SPPD). Silakan datang ke lantai 6, cek posisi dan tempat kerja saya. Apakah mas Sugeng akan mau bekerja di tempat pembuangan komputer dan buku-buku rusak yang penuh dengan debu ?


8. Mohon cek juga apa yang telah PDII lakukan terhadap orang yang melakukan hal 1-6, pada bulan November 2007. Apakah itu balasan yang setimpal? Punishment tidak adil yang bahkan melewati seluruh prosedur peraturan kedinasan (SP 1/2/3, dsb). Bahkan setelah proses itupun, saya masih tetap diminta menyetor publikasi tahunan saya pada desember 2007


Terakhir, seperti juga pernah saya sampaikan ke teman-teman eselon 3 dan kapus PDII LIPI. Berbeda dengan mereka yang mencari hidup di PDII dan mengejar pangkat, golongan, dan jabatan. Saya tidak mencari hidup di PDII, tapi saya datang untuk hidup dan menghidupi PDII


Tetap dalam perdjoeangan …


Romi S. Wahono

 

8 thoughts on “Romi S Wahono : Perjuangan PNS

  1. Semangat … semangat … semangat …

    “Saya tidak mencari hidup di PDII, tapi saya datang untuk hidup dan menghidupi PDII”

    Kalimat terakhir Bang Romi menohokku juga.

  2. Bung Rom, kalo Bung jadi Kepala Sekolah, terus anak buahnya tidak pernah masuk karena ngobyek di luar, tapi jaminannya anak didiknya lulus 100% dg nilai sangat memuaskan (entah bagaimanapun caranya) kira-kira bagaimana sikap Bung?
    Tulisan Bung tentang jepang, ingat kan?
    Ya..begitulah kita. Jarang mau tahu dengan teman. Yang penting “aku sukses”. Ya to? Kapan kita bisa berbagi dengan teman-teman?
    kapan kita bisa bekerja sama dengan teman-teman kantor,kapan kita membangunh jiwa korsa, kalo kita selalu keluar kantor?
    kapan kita bisa membenahi tempat kerja kita jika kita tidak pernah ngantor?
    tidak pernah masuk kantor adalah fasilitas yang jauh lebih mahal dari kantor + perlengkapannya.
    apa baiknya begini, PNS ga usah ngantor, yang penting hasil kerjanya banyak dan bagus. Lha apa bedanya dengan wartawan? mbok ya mpan papan, kita kan ada jam kerja,ya mbok malu kaya orang jepang gitu lho kalo ngga masuk. apa kalo jdanggota dewan, bung ga akan bpernah sidang, yang penting menghasilkan bnyk konsep?
    mbuhlah..mumet nek ngurusi cara kerja PNS yang kelewatan. swastakan semuanya sajalah. ben rasak karepe dewe.

  3. @dihara kosu: LIPI beda dengan sekolah mas, PNS di LIPI kebanyakan peneliti, yang ukuran KPInya adalah jumlah publikasi paper dan aktifitas di dunia penelitian .. saya tidak masuk kantor bukan karena nongkrong dan tiduran di rumah, tapi karena ngisi seminar dan conference yang dalam research life cycle adalah termasuk aktifitas akademik dan penelitian …. ga penting dibahas sih, ini diskusi 3 tahun lalu, dan saya sudah keluar dari LIPI sejak tahun 2007… hanya untuk meluruskan saja informasi supaya tidak ada fitnah heheeh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s