Sufiah Yusof : Homeschooling as a living hell

  1. Seru nih. Cerita ttg ambisi kejayaan malaysia. Jadi ingat Asia Carera yg IQ nya 150. Mantabf !.
  2. Btw, saya buka di wapedia, dia ini sekarang sedang kuliah ekonomi di SOAS, (satu kampus dengan soe tjen marching – milis jurnalperempuan), berarti universitas london, bukan oxford lagi. Gile yah … Bayar sekolah dengan melacur.
  3. Btw, sufiah yusuf sekarang memilih menjadi pelacur dan dalam artikel di media news of the world dikatakan kalau sufiah nampak ceria dan berbahagia.
  4. Akibat homeschooling yang diagungagungkan sekarang ini ?  ketika anak lari, masuklah dia pada trap feminisme yang kebablasan ? Hahaha…

—————-

foto dari sini

Hikayat wanita muda jenius bernama Sufiah Yusof…

Saat ini dia baru umur 23 (lahir 1985 di Inggris, UK), 1 dekade lalu, ia menjadi contoh hidup dari program NEP Mahatir Muhammad, meski WN Inggris, dia dibiayai oleh pemerintah Malaysia 10 tahun lalu masuk Prep school St.Hilda, Oxford Pre-Uni, Inggris, dgn full scholarship dari Kerajaan Malaysia karena jenius dalam Math, setelah itu diterima di Universitas Oxford pada umur 16 bidang Math. Dia juga menjadi role-model, berhubung ibunya kelahiran Muar, Johor, Mahatir yg terobsesi utk memajukan bangsa Melayu yg selama ini dianggap malas dan bodoh (fakta: tidak semua! Banyak yg rajin dan tdk manja) dengan selalu meng ekspos Sufiah yg jenius dan menjadi “Math-prodigy”. Adiknya yg selisih 2-3 tahun juga sama jeniusnya dan juga dibiayai oleh pemerintah Malaysia, …:” Ni otak anak Malaysia boleh..”.

7 tahun lalu, Sufiah kabur dari sekolah dan asramanya, mogok kuliah, menjadi pelayan internet cafe di hotel, sempat membuat polisi Inggris melakukan pencarian karena keluarganya mengklaim Sufiah diculik utk mencuri rahasia kejeniusannya, dia sempat kawin dgn pengacara magang (bule), lalu cerai setelah hidup bersama 13 bulan. Oke2 saja dan masih berjilbab.

Awal tahun ini,..jagad Melayu di Inggris maupun di Malaysia (dipelopori partai UMNO) heboh, Sufiah muncul dgn foto-foto diri nyaris bugil di internet yg mengiklankan diri sebagai pelacur (“prostitute”/ “Hooker”, check/ search Google, entry “Sufiah Yusuf”) dengan bayaran ‘hanya’ 130 Pounds/ jam, murah untuk ukuran Eropah Barat, foto2 seronok yg dikirim teman Malaysia (Mr. Tan) itu kini sudah dihapus dari blog. Bodynya aduhay, ‘kan? Otak jenius, senyum ramah bersahabat khas mengundang simpati.

Sekarang ini, media di Malaysia (termasuk yg milik UMNO) memberitakan Miss Sufiah Yusuf secara berseri, keluarga nya pun diekspos habis, ayahnya seorg keturunan Pakistan adalah guru tutor sekaligus penemu “Hothousing” yg mengajarkan Math dgn metode belajar cepat, semacam Kumon. Mr. Farook Yusof pernah divonis penjara krn penipuan kredit dan belakangan tersangkut kasus perundungan seks anak di bawah umur!! 2 anak itu tdk lain murid les Mathnya sendiri, serunya… alasan dia nyaris menggagahi si murid: “Saya berencana menciptakan Sufiah-sufiah yg lain”… (yg sama jenius maksudnya) dari gen unggulannya (sic!).

Melo-dramatik: Elemen dalam UMNO prihatin dgn nasib Sufiah yg mahasiswa keturunan Malaysia jenius berubah menjadi pelacur, menteri pendidikan, Dato Sri Zahid Hamidi dan Deputy Mentri dari kantor PM, Dr. Mashita berencana terbang ke London membawa rombongan yg terdiri dari ustaz, pendidik, psikolog utk menyadarkan Sufiah dgn misi yg dinamakan : “Save Sufiah Programme” (inspired by SAVING PRIVATE RYAN Hollywood movie), tp batal setelah dicemooh/ ditertawakan rakyat Malaysia: “WN Britsih nak dibagi duit, rakyat Malaysia sendiri ramai yang lapar, macam mana? Kan dia jadi hooker on her own will?”.

Sekarang, seorang Ustaz ternama To’ Guru Trimizi Zainal, menggantikan Dr. Mashita Ibrahim membawa rombongan ke Inggris dgn misi yg sama tapi ditambah pengobatan mental, beliau sangat haqul yaqin, Sufiah tak mungkin senista ini, tapi setan lah yg bekerja di dalam dirinya. Ada semacam BLACK MAGIC yg merasuki diri Nona Sufiah. It’s heart-breaking story.

Sufiah hanya salah satu korban ambisi….

baca juga :

  1. Kesaksian seorang tetangga tentang kehidupan keluarga sufiah yusof
  2. http://www.newsoftheworld.co.uk/3003_hooker.shtml
  3. http://www.telegraph.co.uk/portal/main.jhtml?xml=/portal/2008/04/01/ftgenius101.xml

 

NB :

sedih baca baca kisah para jenius muda ini.  Banyak yang hidupnya jadi kacau, dan menata kembali hidupnya dengan tertatih tatih.  Jadi ingat lord voldemort.

===

OTHER CHILD PRODIGIES – WHERE ARE THEY NOW?

Ruth Lawrence

Graduated aged 13 from St Hugh’s College, Oxford, with a first-class degree in 1985. Now lives with husband and two children – whom she is determined to allow to “develop in a natural way” – in Jerusalem and teaches maths full-time at the Hebrew University.

John Nunn

Went to Oriel College, Oxford, in 1970 aged 15. Got a first in maths at 18, a doctorate at 20 and became a chess Grandmaster three years later. Lives with his wife in Surrey and makes a living writing books about chess.

Adam Dent

Started reading chemistry at St Hugh’s College, Oxford in 1994 aged 14. Left the following year, having been accused and then acquitted of sexual assault on an older pupil. Did an Open University degree and got a job stacking shelves at Iceland. Later went back to Oxford (this time to St Catherine’s) and graduated with a first in chemistry in 2002. Is now an IT consultant.

James Harries

Presented himself on television – most memorably on Terry Wogan’s chat show in 1990 when he was 12 – as an entrepreneur and child prodigy with an encyclopaedic knowledge of antiques. Had a sex change operation in 2001. Now called Lauren, she is a counsellor and also teaches drama in Cardiff.

Terence Judd

Made his first appearance as a classical pianist with the London Philharmonic Orchestra aged 12. Won the British Liszt Piano Competition at 18. He committed suicide in 1979 at the age of 22 by throwing himself off Beachy Head.

 

34 thoughts on “Sufiah Yusof : Homeschooling as a living hell

  1. Kejeniusan dan sekolah bergengsi hanya salah satu bagian dari rangkaiang kehidupan. Selepas sekolah, nasiblah yang berbicara. Dulu kalau kuliah di FE, pasti anak Akuntansi dan Manajemen udah gede kepala duluan kalau mereka bakalan nasibnya kinclong selepas kuliah. Tapi bisa kita lihat sekarang, mau dari sekolah yang bagus sekalipun, jika nasibmu sudah ditakar jadi the ordinary ya terima saja. Orang-orang kaya jarang yang otaknya jenius secara ukuran akademistik kecuali si Oom Bayaran Pintu Gerbang-Gerbang alias Bill Gates. Itu pun doi DO dari Harvard. Einstein sudah lama mengingatkan bahwa kejeniusan hanya 1 % saja dari kesuksesan, selebihnya kerja keras. Para kaum nerd yang jenius biasanya malah jadi orang suruhan.

    Apalagi di negeri ini, otak tak diperlukan buat menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Cukup populer saja tanpa harus berotak MIT, Yale, Harvard dkk. Even buat lulusan Harvard, kalau bukan anaknya Gus Dur, jangan harap bisa jadi Ketum PKB huehehe. Apalagi mau jadi Ketua DPR.

    Upaya untuk tidak mematangkan dan mengedepankan otak di negeri ini sudah terlihat dengan begitu mahalnya biaya masuk PTN yang bisa mencapai ratusan juta Rupiah dengan program ujian masuk mandiri yang digelar oleh masing-masing PTN. Proporsi yang diterima lewat SPMB semakin kecil dan itu pun sudah mahal biaya kuliah per semesternya.

    Satu lagi, di Indonesia tak memerlukan otak untuk jadi pemimpin, cukup keluarkan kocek anda buat BERIKLAN. Jadi, potongan syair puisi Chairil Anwar lebih tepat sekarang Hidup adalah Beriklan. Dasar bahlul!!!

  2. orang kaya yang lulus sekolah sampai s3 juga banyak, lho ….

    1. mochtar riady
    2. martha tilaar
    3. dewi motik

    yang di luar negeri, politikus rata rata S3 dan nulis buku :

    1. hillary clinton
    2. barrack obama
    3. keluarga kennedy, S3 semua tuh ….

  3. Yaa…tapi mereka S-3 yang anda sebut di Indonesia itu sekaliber otak-otak Harvard? Kalau udah punya duit, malah Universitas yang nawarin gelar Doctor Honoris Causa. Apalagi di Indonesia, apo seh sing ora iso, Cak!!!

    Mengenai pemimpin di LN (dalam hal ini ente sebut semuanya berasal dari AS), nah ini yang perlu ditiru di sini, jangan kayak Saepul Jamil yang ngurus Dewi Perssik aja kelimpungan mau jadi Wawali Serang.

    Orang Indonesia juga suka lupa dan latah dan memblow-up hal-hal yang tidak substansial. Contoh, ketika banyak selebritis terjun ke politik, kaum seleb itu mengklaim kalau si Oom Arnold Schwarzenegger saja bisa jadi Gubernur California. Memang si Arnold itu seleb jagoan dan film-film yang dibintanginya box office. Tapi seleb Indonesia lupa bahwa si Arnold adalah pemegang Master of Economics dari Univ. Wisconsin at Madison.

    Lha, ini pengusaha dari Pekalongan yang tidak terlihat proses kaderisasinya macam si Obama tau-tau membombardir ruang publik kita dengan slogan “Hidup adalah beriklan”. Coba duit 20 milyar yang dikeluarin dan dibayar buat promosi politik, lebih baik buat si miskin saja buat nambahin BLT atau bangun sekolah gratis kek. Ada juga yang baru makan nasi akingnya setelah jadi purnawirawan. Lha dulu nggak makan nasi aking waktu operasi militer, Pak.

    Akh, puyeng mikirin nasib negerimu.

  4. udah deh sana baiknya sekolah s3 dulu, biar dianggap pinter juga …. 🙂 setelah itu bisnis yg bagus, biar tajir juga.

    yg pasti nama nama yg aku sebut tadi memang orang kaya dan s3 huehehehe 🙂

  5. Amin Gus Bonbon, doakan ya mudah-mudahan bisa S-3 and tajir. Semoga doa’nya Gus Bonbon adalah do’a yang diijabah oleh Allah SWT 🙂

  6. Ping-balik: Sufiah Yusof dan Rudi Santoso Sindrom « Anjar Priandoyo

  7. hahahaha..

    akhirnya papabonbon denger juga tentang si sufiah…:)
    kasian juga dia jadi tenar gara2 jadi komodisi politik di malaysia..

  8. Betatapun seorang anak masih membutuhkan bimbingan…anak yang genius kadang menjadi merasa sendirian, karena orang lain belum tentu memahaminya. Walaupun banyak juga anak genius yang berhasil dalam bidang ilmu pengetahuan, maupun sosialnya.

  9. Aduh… sayang banget seh kok genius jadi pelacur….. why? why why why? hanya dia yg tau jawabannya.. Life is about making choices everyday… The choices taken are not always true, but they do shape our lives. Skrg milih jadi pelacur, apa besok akan tetep pilih jadi pelacur ato pilih jadi orang laen.. hm….

    Untuk genius-genius laen yg malah milih nulis buku ato hidup tenang2 sajah setelah lulus kuliah.. again.. they choose so.. mungkin pilihan itu yang membuat hepi, so why not take the choice.. pikiran manusia memang paling kompleks..

  10. yah ampun sedih banget mendengar ceritanya ini..
    pendidikan memang harus mengenal batas.. tidak harus dipaksakan… pendidikan anak juga perlu hiburan tidak mulu dengan keterpaksaan belajar..
    semoga orang tua termasuk kita bisa belajar banyak dari semua ini 🙂

  11. IMO, karena terlalu muda untuk keluar dari keluarga dan hidup mandiri.

    Kata ibu saya, saya ini anak yang jenius loh.
    Duh gimana dong, pak..

  12. Ping-balik: Balada Seorang Anak Jenius Malaysia Yang Akhirnya Menjadi PSK « Kuatkan Tekadmu Nak…

  13. Salah satu kesalahan orang selama ini mengganggap bahwa Pendidikankan yang diberikan pada anak hanya untuk aspek kecerdasan intelektual saja padahal pendidikan juga harus melingkupi kecerdasan emosional dan spiritual.

  14. ah……………………………
    ga pnah kbayang atw terbersit skalipun
    seorang anak yang memiliki potensi sangat lebih
    tidak sesuai dengan harapan
    apakah itu cara dia ‘memberontak’?
    menunjukkan kalau dia bs m’ambil keputusan sndr
    kalau dia berhak menentukan ingin mjd apa dia
    atau dia ‘bosan’ memakai ‘topeng’?
    ia ingin menunjukkan sisi lain dirinya
    atau fantasi liarnya?

    ia lelah dengan semua ekspektasi masyarakat terhadapnya
    ia ingin menunjukkan bahwa ia ‘bebas’

  15. kalau menurut saya jenius kok bisa melacur, apa karna keenakan atau karna emang dia bodoh berarti bukan jenius

    wassallam

  16. hidup ‘kan juga pilihan,
    jika si Sufiah Yusuf milih jadi pelacur ya biarin aja,
    toh dia suka dan menikmati.

    mengapa kita yang ngributin?

    mengapa pemerintah malay juga ikut ngributin?

    bukankah sekarang zaman-nya kebebasan,
    berteriak-teriak mengumandangkan dan meng-agung-agung-kan kebebasan,
    kenapa mengusik kebebasan orang lain.

    Cuekin aja tuh ya fiah….

  17. Hmmm pendidikan mestinya “komplit” satu paket… hati, otak dan perilaku…. jika hanya satu yang diperhatikan,… pasti akan ada ketimpangan… akibatnya….
    Hmmm tidak perlu bersedih… memang setiap orang punya hak untuk memilih dan menjalani hidupnya… dan setiap orang akan bertanggung jawab atas dirinya masing-masing.

    Pertama gabung nih….
    klik balik ya… http://maaini.wordpress.com

  18. fyi :

    1. bapaknya sufiah dipenjara 3 tahun karena akan memperkosa dua orang murid matematikanya sendiri

    2. ibunya sufiah kepingin ngajar math secara fun pada sufiah

    3. ibunya kalah pengaruh dgn si bapak. bapaknya lebih suka pendidkan klasikal inggris yg tangan besi, ala pendidkan masa kecilnya filsuf ekonom john stuart mill yang legendaris, atau kalau yg udah baca trilogy bartimaeus, seperti pendidikan yang diterima nathanael

    4. sufiah, ketika hidupnya kacau, dia masih memilih dengan lelaki inggris yang islam – mualaf, bahkan suaminya kaget, kok sufiah jadi begono ?

    5. setahun dua tahun yang lalu tetangganya jaman masih kecil masih ketemu sufiah di mesjid bareng suaminya, sufiah pakai jilbab dan cadar tuh …

    untuk poin nomor empat dan lima silakan lihat artikel yang ada di link .. di new strait times dan the telegraph

  19. @ bang budi pru

    1. saya faham, sufiah sedang mengekspresikan kebebasan, dimulai dari mandiri. jadi penjaga warnet di bournemouth, dan berlanjut, mulai sekolah lagi. di oxford selesai s1, ketika lagi s2, bapaknya ketangkap akan memperkosa muridnya sendiri, dia jadi guncang, kabur lagi, menikah dengan bule muslim mualaf, cerai dgn suaminya, lanjut kuliah s2 di SOAS universitas london, sambil nyambi jadi pelacur.

    2. feminis di milis jurnal perempuan gak bisa menolak tuh kalo cewek cewek kayak sufiah yang lagi kuliah, buat tambahan biaya nyambi jadi pelacur. kan itu pilihan pribadinya si doi.

    nah menurut aku, itu ekspresi feminisme yang kebablasan. pilihan diri sendiri sih. dan bablas di sono 🙂

  20. Masih tetap ikutin pertanyaannya Budipru :

    Kalau dikait-kaitkan, berarti ada hubungan sebab akibat antara homeschooling, feminisme, dan pelacuran ? 😆

    Saya kok malah jadi teringat novel Dee : Supernova yang pertama. Dimana seseorang memilih utk melacurkan badanya ketika dia tidak mau melacurkan otaknya. Sebuah pilihan dilematis.

  21. mantap. Mau jenius kayak apa kalau naluri placur ya tetep placur, saya juga pernah ketemu mantan pelacur sedang S3 Economics di ETH Zurich, cewek Indonesia lho hehe…

  22. @ adhiguna :

    Eh, bisa juga di balik, mau goblok kayak apa kalau naluri pelacur ya tetap pelacur. Atau, mau religius kayak apa kalau naluri pelacur ya tetap pelacur.

    Intinya, pelacur itu naluri dan nggak berhubungan dengan hal lain. 😆

  23. @ bang fertob

    kekerasan dalam rumah tangga –> pembebasan melalui feminisme –> pelacuran … :p

    gue heran bang, kenapa kok kudu membandingkan dengan kisah di supernova.

    1. sufiah yusof juga pernah ngerasain kerja halal, jadi penjaga warnet
    2. dia kuliah jarak jauh, buat master ekonomi di universitas london tersebut
    3. kehidupan primer dia justru bukan kuliah, tapi melacurnya

    apa faktor faktor itu bisa dibandingkan dengan motif yang ada di novelnya dewi lestari ?

  24. Wah…masih terhormat TKW asal Indonesia yang kerja di Malaysia walaupun hanya sebagai pembantu rumah tangga. Daripada warga Malaysia?/Inggris? yang jadi pelacur.

    #tertawa terbahak-bahak#

  25. @ papabonbon :

    Karena bagi beberapa orang yang mempunyai kemampuan otak yang luar biasa alias pintar, alasan untuk menjadi pelacur (melacurkan tubuh) adalah sebuah pilihan dilematis ketika dia tidak mau melacurkan otaknya. 🙂 Dan itu ada di bukunya Dee-Supernova 1. Agak mirip-mirip dengan buku Perempuan di Titik Nol-nya Nawal el-Sadaawi.

    Apalagi bagi mereka yang tidak mau terikat, independen, berpikiran terbuka, dll. Segala hal yang berkaitan dengan “melacurkan otak” mereka tentang dengan keras, karena itu adalah penjajahan terhadap suatu kualitas yang lebih tinggi dari manusia. Sehingga pilihan lainnya adalah melakukan pekerjaan2 yang berkaitan dengan tubuh dan personifikasi tubuh. Pelacuran adalah salah satu pilihannya.

    “Ente dapat menyicipi tubuhku tapi tidak otakku”. 😆

    Ini memang pemikiran baru. Sangat jarang tapi mungkin saja jadi alasan. Apalagi misalnya tidak ada tanda trauma psikologis yang jadi alasan Sufiah memilih menjadi pelacur. Alasan kebebasan, dalihnya.

  26. bisa dimengerti dan dipahami , oom fertob. apalagi buat seorang manusia yang selama bertahun tahun hidup dalam eksploitasi dan kendali dalam ranah otak …

    btw, aku pernah baca autobiografinya john stuart mill dan komentarnya tentang sistem pendidikannya di masa kecil yang juga sekeras masa kecil sufiah. bentar yah ditulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s