Buruh atau Juragan ?

Kalau ngomongin kerjaan, terus dikaitkan dengan cita cita masa depan dan bumbu idealis nasionalisme, biasanya ada dua pertanyaan yang selalu terngiang ngiang dan tidak pernah hilang.

  1. sampai kapan aku kerja sama orang ?
  2. kapan pulang, dan kerja membangun negeri ?

gambar dari http://img178.imageshack.us/img178/1570/cashflowquadrantoj4.jpg

pertanyaan nomer satu, kiyosaki banget.  pertanyaan nomer dua, nasionalis banget.  kamu yang mana ?  huehehehe 🙂

Berikut ini beberapa lontaran nakal untuk dinikmati 🙂

1. mister T said :

Wah, bener banget kata abang, tapi eh Tapi, kalau seandainya papabonbon jadi Manager Pabrik Tahu, hmm…. bisa berblackberry ria gak yah papabonbon ?

well, What I am trying to say is: It would be very good and great if we can work in local company so that what ever we contribute is coming back to our country. tapi….. skalanya itu loh bro….

lah, Indosat aja udah bisa dibilang gak milik lokal lagi?

Idealis sih semua orang punya bro, tapi ketika kembali ke realita, semuanya akan jadi realistis….  dan ternyata, emang perusahaan PMA memberi better benefit to the employee, which in the end would be employees’ choice….

so, gimana menurut abang ?

2. mister D said :

Idealisme tak akan hilang, tapi mungkin kelelep ama himpitan tuntutan hidup. ketika tuntutan hidup bisa mulai terselesaikan, saya sangat yakin, semua kita otomatis akan keliatan sendiri idealismenya….

Makanya gue masih kerja di PMA :DSebetulnya akses ke sumber keuangan dan investasi yang masih lemah di kebanyakan perusahaan Indonesia. Jadi, ketika perusahaan harus menjadi besar, mau ngga mau FDI harus masuk. Salah satu faktor juga kurangnya framework, inovasi (RnD), future outlook dan implementasi ilmu ekonomi dan teknologi modern, sehingga sering tidak siap menjadi besar atau tidak siap menghadapi perkembangan teknologi. Termasuk Indosat, where I was for 3 years.

Harus ada yg mulai pengubah paradigma itu mister T. Dan kalau kamu agak apatis dengan idealisme, sangat disayangkan, kita tetap harus mulai dari situ: dari sebuah idealisme. Saya sih ngga mau lama di XYZ … Ngapain kerja buat orang Malaysia lama2 hehehe (jangan dikirim ke boss gue ya :D) Yang penting, kita selalu belajar dari setiap perusahaan tempat kita kerja. Ya frameworknya, ya organisasinya, ya strategy & future outlooknya. Saya juga kayak kamu kok Ted. Jadi kutu loncat. Tahun lalu ditawarin jadi kutu loncat lagi, tapi nahan diri karena masih ada yg pengen dilakukan disini. Love your work, not your employer

Anyway, gue jg pernah usaha sendiri, dan tahu banget susahnya mencari investasi dan berkembang di iklim usaha indonesia. Orang hanya percaya sama fast money. Yang long term, suka ngga percayaan. Ya mungkin karena hukum di indonesia ga terlalu melindungi, jadi takut investasinya melayang entah kemana hehhee. Selain itu, orang indo emang sukanya yang instan: ga bisa promosi, pergi ke dukun… Ga punya duit, pergi ke dukun lagi… Kalo jualan, maunya untung langsung gede. Susah kan? Makanya, di indo, bisnis jadi dukun dan lawyer yg ngerangkep tukang pukul kan laris manis 🙂

So, be skeptical but idealistic…

 

3. papabonbon said :
Hahaha :). Waktu owner nu**** jual perusahaannya ke da****, salah satu alasan yg dia bilang ke employeenya adalah : Di da**** ada strong financial muscle

Padahal waktu beberapa tahun sebelumnya da**** mau diakuisisi coca cola, penduduk perancis demo sak ndayak, alasannya hanya satu : nasionalisme 🙂

Agak beda, Dulu waktu krismon dan L-Astra, dari joint venture berubah jadi pma murni karena dibeli kroya seluruh sahamnya, wong ngindonesia tidak ada yang protes sedikitpun :). Apa karena orang indonesia sudah sedewasa orang walanda, dan menganggap strong financial muscle lebih utama ?

Pengalaman sih dgn urusan “muscle” ini, biasanya berkaitan dengan memeras perusahaan sampai keluar semua inti dan sari sarinya. Bahasa kerennya cost innovation/cost down, dan selain dgn ganti dgn komponen yg lebih murah dan kegiatan lainnya gak jauh dari telpon dibatasi 3 menit, peniadaan customer service bebas pulsa, memperbanyak karyawan outsourcing, mengurangi karyawan permanen dalam jumlah gede, beberapa perusahaan ac-nya diilangin, diganti blower udara :). Duh, inget L-P*******. 🙂

Suntikan teknologi baru sih, jarang jarang tuh dilakukan 🙂

Makanya bertanya tanya, masuknya modal asing di indosat, telkomsel, xl, dan lain lain ada pengaruhnya ke teknologi gak ? Ada asupan dana yg berguna memperbesar kapasitas ? Kayaknya ada yah :). Plus makin banyak outsourcing tentunya :). Teknologi yg lebih maju ? Udah masuk ke sana gak ?

4. mister D said :

 
Hmm… Berhubung gue di operator, teknologi mungkin tidak terlalu terasa yah, karena kami bergantung sama vendor. Tapi framework dan long-term strategy sih ada sedikit perubahan, termasuk asupan dana tentunya 🙂 ga bisa berharap terlalu banyak juga… Malaysia gitu lhooo. Gue malah merasa banyak belajar dari partnership XYZ dgn VVV, misalnya. Framework dan strategynya bagus.

Kalo untuk vendor, dari pengalaman selama ini, banyak vendor lokal yang cuma jd reseller produk luar negri. Naas nya lagi, si vendor lokal cuma jual koneksi pejabat… Ga mau tahu mahkluk apa itu yg dijual :p again, easy money. Padahal, kalo mau pinter, ya mbok diintegrasikan dengan offer yang lain. Kan sedikit demi sedikit bisalah buat software sendiri. Uangnya malah lebih banyak… Bukan persenan komisi doang. Temen2 gue di UI aja sekarang buat perusahaan vendor telco dan berhasil tuh membuat software monitoring salah satu operator terbesar. Anak2 Indonesia itu jago2 kok… Tinggal di manage yg bener aja.

Oh iya, soal nasionalisme dan bisnis yg disinggung Tewes juga, gue pikir salah kalau kita benar2 melepas keduanya untuk berdiri sendiri. Wong Amerika aja begitu getolnya membentengi ekonomi dan bisnisnya untuk kepentingan nasional, eeeh… Kita malah buka2an. India dan Cina, contohnya, walau mereka terbuka pada FDI, tapi mereka mensyaratkan adanya transfer teknologi. Sekarang dua2nya bisa buat macem2 sendiri, termasuk alat2 transportasi dan bioteknologi.

Kita? Masih sebatas babu dan kuli kan? Hehehe no offense ya… Kan gue juga masih babu dan kuli hahhahaa

5. mister T said :

kenyataaannya demikian bang. dimana2 pemain global selalu punya otot yang lebih kuat. kalau seperti kata papabonbon kembali ke masalah nasionalisme, gak jadi bisnis dong namanya… yang namanya bisnis itu selalu pake hukum ekonomi. kalau penambahan modal bisa menhasilkan persentase keuntungan lebih tinggi, itu sebabnya ada akuisisi dll.

soal orang indonesia pengen fast money? kayaknya bang D kurang tepat deh ungkapannya… yang bener kayaknya orang indonesia pengennya EASY MONEY, hehehehehehe  so, kalau buat investment gitu susah banget.. makanya sektor riil di indonesia itu kondisinya separuh nafas kalau gak mau dibilang mati.

Well, aye emang rada skeptik bang, tapi rada kurang idealis. sementara ini dimate aye idealis itu hanya kalau aye udah punya cukup modal dimana keuntungan 2% dan 20% makes no different to me. itulah pula sebabnya, aye lebih memilih jadi kuli sementara ini, karena ternyata, mungkin seperti yang pernah udah dirasain bang D, dengan jadi kuli ternyata dapur bisa ngebul tanpa harus ada kebakaran, anak bisa pergi sekolah, dan tagihan bulanan pada kebayar.

 

Iklan

One thought on “Buruh atau Juragan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s