Kartini sebagai Gerakan Anti Feminisme

Dalam masa ber-islam-nya, kartini telah menemukan pencerahan dalam tahapan ini ada tiga sikap yang dipeluk Kartini. Mendukung Poligami, Domestifikasi Perempuan dan Anti Barat. Tidak percaya ? Berikut ini buktinya :

1. Kartini Sendiri Berpoligami

Kartini menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903.

Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi untuk sekolah karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Tentang pernikahan poligaminya, Kartini juga mengatakan bahwa dia tidak menyesal.


2. Sekolah yang didirikan Kartini adalah Sekolah Kepandaian Perempuan. Jenis sekolah yang akan mendomestikkan wanita makin dalam.
Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Klimaksnya, nur hidayah itu membuatnya bisa merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh kebanyakan pejuang feminisme dan emansipasi, namun untuk lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai ibu.

Ibu Kartini menulis: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Pikiran beliau ini mengalami perubahan bila dibandingkan dengan pada waktu fase sebelum hidayah, yang lebih mengedepankan keinginan akan bebas, merdeka, dan berdiri sendiri.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan, juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya.

Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis. Wallahu a‘lam bi muradih [Iwan Setiawan; Mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati Bandung].

3. Kartini Sadar dan beralih menjadi Pendukung Gerakan Anti Barat

Pikiran beliau ini mengalami perubahan bila dibandingkan dengan pada waktu fase sebelum hidayah, yang lebih mengedepankan keinginan akan bebas, merdeka, dan berdiri sendiri.

Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Begitu komentar Kartini ketika bertanya kepada gurunya, Kyai Sholeh Darat.

Pemikiran Kartini berubah, yang tadinya menganggap Barat (Eropa) sebagi kiblat, lalu menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Hal ini setidaknya terlihat dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”
Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Setelah mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi al-Quran, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), “…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS al-Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini
http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2008/04/01/kartini-dan-islam/
http://moeb.edublogs.org/2008/04/16/pandangan-keliru-terhadap-kartini-dan-emansipasi/
http://taufik79.wordpress.com/2008/04/16/kartini-zaman-rasulullah-refleksi-buat-para-pejuang-emansipasi/
http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2008/04/01/kartini-bukan-pejuang-jender/

Iklan

16 thoughts on “Kartini sebagai Gerakan Anti Feminisme

  1. ” Kartini Sendiri Berpoligami ”

    Wuih, yang ini nancep banget, bro! 😀 Dibalik semua hujatan kaum wanita terhadap praktek poligami, ternyata tokoh wanita nya juga mempraktekkan poligami.

    ~belum ada komen balasan tentang Kartini sampai detik ini~

    sepertinya sedang menyusun senjata maut 😀

  2. Ping-balik: » Kartini sendiri berpoligami! firewalker is testing blogdetik.com

  3. Euh…setahu saya, Kartini itu ‘dipaksa’ menikah dengan si Bupati Rembang untuk membendung kebebasan dan semangatnya (dan tampaknya memang berhasil, kalau melihat kendornya aktivitas Kartini setelah suaminya kawin lagi). Jadi saya rasa poin 1 itu tidak sepenuhnya menggambarkan sikap Kartini yang sebenarnya terhadap poligami.

    Tidak ada komentar untuk poin 2.

    Soal poin 3. Berdasarkan surat-surat yang dikutip, apa nggak terlalu ‘melompat’ tuh kesimpulannya? Ia hanya tidak lagi menganggap Eropah sebagai yang no. 1 dalam segala hal (ini kayaknya justru kritik Kartini terhadap kolonialisme Eropa). Belum seekstrim itu rasanya sampai Kartini sampai pantas dicap ‘Pendukung Gerakan Anti-Barat’.

    Btw, apakah masih ada orang2 di luar sana yang belum tahu kalau kartini itu dipoligami? 😕 *nunggu sang pakar mengocehkan ‘temuan baru’*

  4. 1. kartini punya pilihan untuk dipoligami atau tidak. yg pasti dia sudah perwan tua untuk ukuran jaman itu ketika memutuskan menikah. [dipingit sejak usia 12 tahun dan menikah usia 25 tahun].

    2. ada pilihan sekolah daripada dipoligami.
    – ada tawaran sekolah ke belanda, tapi di tolak, karena ortu tidak setuju
    – ada tawaran sekolah guru di batavia atau kedokteran di stovia, ortu sudah setuju

    tapi kartini pilih untuk kawin. dan rela dipoligami.

    jadi memang ada perubahan pilihan dalam masa hidup kartini. dukungan dari banyak pejabat belanda yg menganut humanisme dan politik etis kepada kartini sangat kuat lho di masa itu. jadi kalau sekadar paksaan seorang ayah, tanpa kemauan kartini sendiri untuk rela di poligami, saya kira tidak akan bisa jadi sejarah sedemikian.

    it takes two for a tango. dan demikian kenyataannya, kartini rela dipoligami.

  5. ” Kartini Sendiri Berpoligami ”
    memang ada yang salah tentang kalimat ini?
    lagian kan sekarang dah banyakan perempuan dibanding lelaki, jadi wajar aja kan?
    tp setiap orang berhak berasumsi sendiri si….:))

    slm knl Bang,

  6. kartini waktu masih hidup sih kagak terlalu dihargai. malah partai kiri lewat kol dan abendanon yg memperjuangkan supaya kartini belajar ke belanda, merasa gagal, karena kartini gak jadi sekolah, baik ke belanda, sekolah dokter di batavia, ataupun sekolah guru di ikip jakarta, kartini malah pilih kawin.

    doi diresapi pemikirannya sebagai wanita pribumi yg berpikiran maju, dan punya pandangan sendiri tentang masyarakat dan cita cita pribadinya sebagai seorang individu merdeka, justru setelah surat suratnya diterbitkan. dan makin terkenal di negeri sendiri, setelah buku tersebut diterjemahkan armijn pane. manusia indonesia yg memiliki kemauan yg mandiri dan soliter, adalah hal langkah jaman itu.

    kartini sudah mendobrak mental inlander sejak jaman awal, dan itu seratus tahun yang lalu.

    *catat, abendanon maupun armijn pane sudah mengedit tulisan kartini, konon aslinya lebih radikal* terus terang jadi tertarik untuk baca versi aslinya dari microfilm yg menampilkan surat suratnya secara utuh. ada gak yah ?

    *ada tulisan menarik di sini. http://guratanpena.blogspot.com/2006_04_01_guratanpena_archive.html sayang pemetaan tentang keluarga abendanon, stella dan kol kurang tepat. karena orang belanda di jaman itu pun banyak faksi, tidak seragam dan sebangun. justru nama nama ini adalah orang kiri dengan aliran humanisme.

  7. Ping-balik: Kartini sendiri berpoligami! « Weblog Didik Wicaksono

  8. Hahahaha, kocak…

    Ada semacam paradoks yah. Pejuang hak wanita malah banyak melakukan hal-hal yang di awal ditentangnya. Tapi ya sudahlah, namanya juga perjalanan zaman, ga bisa disamain dengan kondisi sekarang. Gw pikir sih udah lumayan apa yang dia lakuin sejauh ini (jadi ingat Siti Nurbaya, hehehe)

    Eh, tapi katanya ada debat soal siapa sebenarnya yang lebih besar perannya dalam mengangkat peran perempuan, Dewi Sartika atau Kartini yah Pah?

    http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/04/raden-dewi-sartika/

  9. persoalan “polygami “bagi kartini bukan suatu ukuran bagi kaum wanita sekarang untuk harus sama denganya polygami. Motifnya lain abang, kartini ikhlas karena demi merebut hak dan kesempatan untuk memperjuangkan hak-hak wanita, TAPI sekarang kecenderungan wanita yang berpolygami motifnya lain, karena variasi alasan yang kurang menguntungkan orang banyak( kaum wanita) yaaah karena ingin diBILANG superwoman, demi memperoleh kekayaan/harta,mau bergaya, kepuasan seks, dll karena

  10. @ pak hariadhi,
    kenapa ndak sekalian dibandingkan dengan maria walanda maramis dan ibu siapa tuh yang pendiri INS kayutanam. atau sekalian dengan ibu siti walidah ahmad dahlan

  11. kebetulan aku lagi nyiapin materi ttg pro-kontra gerakan feminisme. satu kata kutipan terpenting yg aku ambil dr artikel ini adalah: “arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh kebanyakan pejuang feminisme dan emansipasi, namun untuk lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai ibu.”
    makasih banyak yah informasinya,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s