Ritel Rakus. Salah siapa ?

Kalau kemarin kemarin kita membahas carrefour yang kita cap sebagai raksasa tamak yang rakus.  Sekarang kita perluas horizon pemandangan kita, mari kita telisik, mengapa raksasa ritel seperti carrefour ini rakus ?  Apa benar mereka rakus ?  Dan, apa sebab mereka tampak rakus?

Di ilmu ekonomi ada produsen – distributor dan konsumen.  supply and demand sering kali digambarkan seolah olah hanya hubungan antara produsen dan konsumen saja.  padahal kalau mau bicara lebih detail, dalam urusan distribusi masih ada banyak pemain lagi.  misalnya saja :

  1. principal
  2. distributor
  3. ritel

Nah, tulisan ini akan menyoroti hubungan dinamis antara principal dengan ritel.  konon, dimasa masa awal [jaman kemerdekaan kali yah ..:p], hubungan antara principal dengan ritel adalah hubungan pertemanan yang hangat dan sangat dekat.  principal melempar barang ke ritel seperti membuka keran kamar mandi.  plus ditambah ngupi ngupi, makan makan, ngobrol kiri kanan.  paling paling keluar, kaus dan kalender.  masalahnya, hubungan seperti ini mungkin baru kita temukan lagi, kalau kita ke pasa klewer, ke pasar turi, atau tanah abang.

Nah, ceritanya principal kena tekanan buat nge-push jualan, sehingga principal lah yang duluan pasang tampang galak.

  1.  Mulai dari cara yang halus dengan pemberian diskon dengan syarat target penjualan sampai dengan
  2. cara memaksa dengan wajib beli perjumlah tertentu. jika tidak bersedia dikenai sanksi mulai dari harus bayar cash hingga tidak dikunjungi lagi.

Nah, belakangan ritel juga tumbuh besar dan menggurita.  Dan sejak mereka mulai punya demand signifikan dan otomatis berujung pada bargain power, mereka pun mulai “bergerak”.  🙂

jaman sekarang kira kira inilah yang dilakukan oleh principal maupun ritel :

  • Para principal sudah tidak bisa mengandalkan level Sales Canvas namun mulai menurunkan mulai dari Trade Marketing Manager hingga Key Account Manager yang punya keahlian untuk membawa kepentingan para principal di dalam retailer-retailer raksasa ini.
  • Para Retailer, mereka juga harus berkompetisi dengan Retailer-retailer lain. Operational Cost semakin meningkat sedangkan Margin harus semakin ditekan karena perang diskon semakin gencar. Jalan keluar?
  • Semua yang bisa di uangkan dari area mereka pun di jual. Mulai dari kantong plastik, dinding kasir, tempat rokok, shelf space, idle area bahkan mempertinggi biaya Listing. Pokoknya semua yang bisa menjadi uang harus jadi uang with any risk.
  • Persaingan antar prinsipal sendiri di dalam usahanya untuk meraih pangsa pasar seringkali menggunakan faktor harga sebagai paramater utama, dan memaksa
    retailer hanya mendapatkan margin kecil.
  • Kondisi ini secara sangat jeli dimanfaatkan oleh retailer untuk memperoleh back margin from principal by trading term condition. Jadi saya melihat ini merupakan
    pertarungan untuk mewujudkan kepentingannya prinsipal dan dimanfaatkan oleh retailer dan kondisinya (ke depannya) hanya dapat ditentukan sejauh mana pasar consumer dapat merespons setiap produk yang diluncurkan, sehingga kekuatan retailer sebenarnya masih ditentukan oleh aktivitas apa yang dilakukan oleh si pemilik merk (prinsipal).
  • Namun jangan lupa, hal ini telah diantisipasi dengan sangat baik oleh retailer dengan menciptakan private label / brand.  Ingat herosave dan carrefour dengan produk bluesky-nya ?

Joint promo ?  maju kembang bersama ? Ke laut ajah !  🙂  Nowadays, it’s all about capitalism.

baca juga :

Iklan

2 thoughts on “Ritel Rakus. Salah siapa ?

  1. baisanya juga terjadi perang antar distributor resmi principal sendiri…
    selain sikat competior juga sikat kawan sendiri.. ngeri tapi kayaknya dah umum gitu ya?

  2. ini berarti ada dua kemungkinan :
    1. principalnya goblok gak bisa ngatur pembagian area jualannya para distributor; atau
    2. distributornya bukan distributor nasional, tetapi pemain regional dan lokal, yg tentu saja daerah pemasarannya saling tumpang tindih.

    kayaknya ada yg protes sistem jualan oli yah ?

    btw, mau protes juga nih, distributor oli banyak lho yg “terpaksa” melakukan import ilegal. dan tentunya nggak masuk pajak, lah. haiya, yakin tuh dgn sistem proteksi thd oli asing “tertentu” ala pertamina itu ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s