Ikang Bakar

Kemarin mamabunbun dan Elsi sudah main ke laut / Pulau Bawean.  Kayaknya desember ini papabonbon yang balas dendam deh, mau jalan jalan ke Makasar hehehhe :).  Pertama kalinya ke Makassar geto lho!.  Ikang Bakar aku menunggumu.  🙂

nanya ke beberapa teman, apa saja sih yang bisa “dilahap” di makassar, berikut ini infonya mas R. Kaimudin yang cah asli Makassar.

Kalo mau nyoba makanan makassar, yang harus dicoba:
* Ikan(g) bakar di Lae-Lae dekat pantai Losari
* Coto makassar di jalan nusantara atau paraikatte di jalan Pettarani
* Konro (sop ato konro bakar) di jalan bawakaraeng
* Mie titi di jalan irian / wahidin atau boulevard panakukang mas
* Es pisang ijo, di Muda Mudi jalan rusa (sekalian beli pastel /
jalangkote dan kroket)
* Pisang epe di pantai losari
* Baso (di Donald jalan lasinrang), cobain baso urat. Kalo ke donald
di dekat situ ada penjual Lumpia Sulawesi di jalan karunrung.

jangan lupa beli obat anti kolesterol…di makassar adanya makan doang
sih hehehe. Tinggal di mana bang nanti? Coba pas saya ada bisa maen ke
rumah aja.

Buat konro dan coto, pake daging sapi kok, walo varian coto kuda
memang ada. Kalo mau coba kerbau, ada namanya (Tedong) Pallu Basa,
yang terkenal di jalan serigala (wah jadi lupa taro di list). Ini kalo
mau datang pagi jam 10, makannya sampe antri2 bo (kata kakak saya ini
makanan paling enak se dunia heheh)

Buat tempat yang harus dikunjungi, mas Wicak memberi saran tambahan:

Kalo sempet sih cobain mampir ke Pulau Samalona, bang. Saya dulu (awal 2004) mampir ke sono naik phinisi. Saat itu charge per orang Rp 300.000,00. Dengan biaya segitu saya dan temen ber-4 dapet makan siang ikan pindang segar, hamburger (maklum, yang punya kapal orang Prancis yang mukim di Makassar), dan mi rebus. Biaya snorkeling di Samalona juga ter-cover dengan duit segitu. Tapi ati-ati kalo snorkeling di perairan situ, soalnya sering ada hiu nyasar, he..he..he!

Satu hal yang bikin saya penasaran adalah Benteng Sombaopu (ada juga yang bilang Somboapu), yang pernah diceritain Pak Mul (Pamong Sejarah). Nggak taunya emang betul kata Pak Mul, bentengnya sederhana banget, terbuat dari batubara ditutup dengan gundukan tanah liat. Lebih mirip tanggul penahan daripada mirip benteng. Di situ juga ada taman yang berisi rumah-rumah adat Sulawesi. Ada rumah orang Makassar, orang Bugis, orang Tana Toraja, ada pula rumah orang Minahasa. Sayangnya kurang terurus, jadi turis yang datang rada kecewa. Kalo mau ke Benteng Sombaopu, kira-kira menempuh perjalanan 30-45 menit dari Lae-Lae (makan mulu, ha..ha..ha!)

Kalo makan(g) di Lae-Lae jangan sampe kesorean bang, supaya ikan, cumi, atau udang yang besar-besar masih kebagian.

Khusus untuk penggemar Sop Kepala Ikan[g], mas Ika Ardyanto sampai memberi nomer telpon tempat makan sop kepala ikan di panakukkang yang sudah terbukti asik, pak Faisal, 0411-5736000

Iklan

2 thoughts on “Ikang Bakar

  1. Kalo jalan sampe Kab. Jeneponto… dijamin cotonya serba “kuda”, sapinya yang jadi varian. Kangen juga pengen ke sana… terakhir tahun 2004… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s