Genk Motor & Kompetisi Honda, Yamaha, Suzuki

Capek juga baca berita tentang genk motor di Bandung, eh, kok tiba tiba baca komentar nyentriknya oom Poltak Hotradero.

Dari kaca mata ekonomi:

Geng motor meningkat karena harga motor yang relatif murah (bisa kredit pulak). Kalau harga sepeda motor dinaikkan secara signifikan misalnya sampai 1000% – pasti fenomena geng motor akan seketika itu pula menghilang. Mungkin akan berganti dengan geng sepeda… (kendaraan yang jauh lebih sulit buat dikendarai dalam keadaan mabuk, dan pengemudinya akan terlalu capek untuk bisa bertindak brutal)

Menaikkan harga sepeda motor mungkin menjadi cara paling efektif menghilangkan geng motor… (sekaligus menjadi pemicu munculnya geng sepeda….).

Geng sepeda tentu lebih jinak, nggak bisa pergi jauh-jauh, dan lebih gampang dikejar.

Ada benernya juga sih, huehehehehe 😀  btw, jadi ingat di blognya cafe motor pernah dibahas tentang Suzuki Satria F150 yang bebek tercepat di dunia itu …  reasonable sih alasannya, motor dengan cc besar kayak gitu gimana kagak dijadiin alat balap yang mengerikan ?

Sumber: Harian Pikiran Rakyat

Berantas Habis Geng Motor!
Sepak Terjangnya Semakin Meresahkan

BANDUNG, (PR).-
Polisi masih melakukan pengejaran terhadap anggota geng motor yang melakukan pengeroyokan hingga menewaskan Putu Ogik (21), PNS Bea Cukai Pelabuhan Merak Minggu (21/10) dini hari. Namun hingga Selasa (23/10), polisi belum berhasil mengungkap pelakunya. Sementara itu, sejumlah komponen masyarakat di Kota Bandung juga menyatakan perang terhadap geng motor.
 
Menurut Kapolresta Bandung Tengah AKBP Mashudi didampingi Kasatreskrim AKP Andree Ghama, beberapa saksi telah diperiksa, tapi pelaku belum tertangkap. Menurut dia, polisi juga belum bisa menentukan apakah pelakunya geng motor atau bukan.

“Memang, geng motor selalu melakukan aksinya seperti itu. Mereka membawa senjata tajam, di antaranya samurai dan bergerombol. Mereka beraksi pada malam hari menjelang dini hari saat jalanan sepi. Jadi, masyarakat harus berhati-hati jika bepergian larut malam. Bahkan kalau bisa, hindari keluar larut malam,” ujarnya.

Anggota geng motor sebagian besar anak sekolah SMP/SMA berumur 15 – 20 tahun. Meskipun berusia remaja, mereka akan menjadi garang saat berkumpul dengan sesama anggota gengnya, bahkan menjadi buas setelah meminum minuman keras dan obat-obatan. “Anggota geng motor yang berhasil diciduk rata-rata dalam keadaan mabuk,” kata Kasatreskrim Andree Ghama.

Sebelumnya, Mashudi menegaskan, keberadaan geng motor di Kota Bandung sangat meresahkan sehingga harus diperangi. Menurut dia, geng motor yang terdeteksi eksis di Kota Bandung ada empat, yakni Brigez (Brigade Seven), XTC (Exalt To Coitus), GBR (Grab on Road), dan Moonraker.

Mashudi menambahkan, pengadilan diharapkan menghukum anggota geng motor yang tertangkap dengan hukuman maksimal. Alasannya, mereka tidak segan-segan menganiaya korban secara sadis hingga cacat dan meninggal dunia. “Masalahnya bukan di bawah umur atau anak sekolahan, tapi perbuatannya sudah kriminal berat,” tuturnya.
Makin berani

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Dade Achmad menegaskan, Polda Jabar bertekad memerangi kelompok-kelompok yang berpotensi melakukan tindak kriminalitas seperti geng motor. “Tindakan yang mereka lakukan kian meresahkan warga. Tidak hanya di Bandung, tetapi juga di kota lain seperti Cirebon. Geng motor kini memang menjadi salah satu perhatian utama Polda Jabar untuk diperangi,” tuturnya kepada wartawan di Mapolda Jabar, Selasa (22/10).

Jika geng motor tidak diantispasi sejak dini, Dade khawatir makin besar dan menjadi sebuah jaringan kriminal terorganisasi. Indikasi itu mulai muncul dengan tindak penganiayaan yang dilakukan oleh anggota geng motor di Cirebon. Padahal, biasanya tindak kriminal geng motor lebih dikenal di Bandung.

Dade juga meminta bantuan masyarakat untuk menangani soal geng motor. “Kami mohon warga juga membantu memberikan informasi apa pun tentang geng motor, termasuk orang tua dan guru di sekolah. Jika mengetahui anaknya atau anak didiknya sebagai anggota geng motor, dibina atau laporkan ke polisi. Jangan sampai menyesal kemudian, ketika mereka ditangkap karena melakukan tindak kriminalitas,” katanya. (A-128/A-113)***

 

 

Iklan

30 thoughts on “Genk Motor & Kompetisi Honda, Yamaha, Suzuki

  1. Sama halnya dengan kemacetan yang makin menggila di Jakarta, solusi jangka pendeknya adalah dengan memberikan disinsentif terhadap private driving. Selama ini biaya menggunakan kendaraan pribadi masih “murah” dan belum mencerminkan biaya yang sebenarnya. Pertama, masih menggunakan BBM bersubsidi, kedua, mereka belum membayar social cost yang disebabkan private driving yakni polusi, kemacetan, dll. Kenakan pajak yan tinggi for private driving.

  2. wah, uneg unegnya orang yg belum pakai mobil nih … 😀 di luar negeri, disinsentif itu berasal dari :
    1. harga BBM yg mahal
    2. usia mobil yg hanya 3 tahun, makin tua pajak mobil makin mahal, berlawanan dengan di indonesia yang pajak mobil tua jurstru murah [makanya banyak penimbunan mobil tua di amerika]. selain itu asuransi kendaraan wajib banget kalau di luar negeri, di indonesia justru hanya applicable pada mobil baru, terutama yg kredit.

    untuk yg nomor dua sebenarnya untuk urusan emisi sisa pembakaran, yg kalau di India di akali dengan meski mobil dah bobrok, tapi mesin diplihara jadi emisi gas buangnya rendah, jadi masih ramah lingkungan.

    program disinsentif private car ini tetap harus dicarikan solusinya di MRT yg nyaman dan memenuhi hajat hidup orang banyak.

  3. Oleh karena itu, pihak2 yang mengatakan busway sebagai biang kemacetan mestinya ingat bahwa jah sebelum adanya busway, Jakarta memang semakin sesak dengan kendaraan bermotor.

    Uneg2 bukan karena saya belum punya mobil, tapi memang paradigma orang Indonesia mestinya lebih melihat kepada pertimbangan ekonomis ketimbang status sosial or prestise dalam memiliki kendaraan pribadi. Di LN, orang2 yang glantungan di MRT bukan berarti nggak punya duit buat beli mobil, tapi mereka lebih rasional dan ekonomis.

  4. Apa iya aksesibilitas yang mudah untuk memiliki motor serta harga BBM yang terjangkau (akibat subsidi) adalah faktor penyebab maraknya genk motor?

    Saya kita penjelasan ini kok terkesan menyederhanakan masalah. Ini bukan masalah insentif atau disinsentif ekonomi semata. Motif ekonomi ngga akan mampu berdiri sendiri sebagai penjelas di sini.

  5. udah azaaaaaaaaaaaaa
    anak muda jangan pke motor
    pke beca aja
    ha………….
    klo ngga
    tiap mlem klo ada anak muda pke mtor lg ngumpul,udah aja bawa ke kantor police
    ia ga ???

  6. Menaikkan harga sepeda motor mungkin menjadi cara paling efektif menghilangkan geng motor… (sekaligus menjadi pemicu munculnya geng sepeda….).

    Pernyataan yang bodoh…
    Motor itu bukan dibuat dan dijual untuk geng motor belaka, tetapi juga para pekerja dan pelaku bisnis yang mungkin sangat membutuhkan motor untuk menunjang aktivitasnya.

    Masak yang bener harus dikorbankan demi yang kriminal?

  7. sebaiknya para genk motor dimusnahkan secepatnya. banyak masyarakat sangat takut keluar kemana2..sebaiknya polosi bertindak tegas atas kelakuannya. banyak intel,knapa tidak di serbu sekalian. demi nama indonesia yang baik sebaiknya hilangkan motif kriminalitas… jangan biarkan mereka semakin berkeliaran.kalo bisa tembak langsung saja,karna mereka juga tidak segan2 menganiaya manusia… thanks

  8. Dewo juga bodoh, apa tidak melihat kemacetan di jalan raya akibat berjubelnya motor di jalan. Kalau mau usaha pasti mampu beli. Jangan seperti sekarang, masyarakat diiming-imingi agar konsumtif tanpa DP cuma dengan KTP bisa bawa pulang motor, ditenga jalan nggak mampu bayar cicilan, motor ditarik, uang cicilan tak kembali. Bodoh!!!!

  9. Dear Icho,

    Dewo juga bodoh, apa tidak melihat kemacetan di jalan raya akibat berjubelnya motor di jalan. Kalau mau usaha pasti mampu beli. Jangan seperti sekarang, masyarakat diiming-imingi agar konsumtif tanpa DP cuma dengan KTP bisa bawa pulang motor, ditenga jalan nggak mampu bayar cicilan, motor ditarik, uang cicilan tak kembali. Bodoh!!!!

    Rasanya Anda juga tidak kalah bodoh. Kemacetan jalan raya bukan hanya akibat berjubelnya motor. Toh kalau tidak ada mobil & hanya ada motor, jalanan tidak akan macet. Buktikan saja sendiri.

    Coba Anda pikirkan lebih baik lagi “penyebab kemacetan” di luar motor. Jangan berpikir terlalu sempit!!!

  10. Dear Dewo,

    Dewo,

    Anda masih bodoh juga rupanya. Anda masih pakai motor ya? Kalau tidak ada mobil tidak akan macet? Belum tentu. Dengan jumlah motor yang sudah keterlaluan ini, jalanan juga akan macet. Belum lagi kelakuan para pengendara motor yang seperti kera karena tak mau kalah dan main serobot sana sini.

    My point is, neither masalah motor nor mobil, yang diperlukan adalah kebijakan agar orang Indonesia tidak mudah beli mobil dan motor baru yang semakin menyesakkan jalan. Diberikan disinsentif kepada pengguna kendaraan bermotor (mobil dan motor) untuk mengendalikan populasi mereka di jalan raya dan mendorong berkembangnya MRT yang nyaman, aman, dan praktis.

  11. Dear Icho,

    Maaf jika saya masih bodoh. Tetapi melihat jawaban Anda, rasanya Anda lebih bodoh lagi dari saya. Kalau Anda orang Jakarta, tentu Anda akan melihat kondisi jalan tol yang khusus mobil itu tetapi tetap macet. Maaf, jika Anda belum pernah merasakan tol Jakarta. Tapi saya sering. Di tol tidak ada motor, Bung…

    Salam.

  12. Dear Dewo,

    Coba lihat point pada jawaban di atas sebelumnya Di situ saya katakan, saya tak mempermasalahkan apakah macet itu disebabkan oleh motor atau mobil. Dua-duanya, baik motor maupun mobil sudah bikin macet. Apalagi motor. Coba lihat kelakuan para pengendara motor yang sudah seperti kera di Jakarta. Serobot sana sini, dan rupanya akibat gebyar kemudahan yang berlebihan, orang2 sudah malas menggunakan kakinya dan naik motor. Makanya lebih baik motor dan mobil dibikin mahal pajaknya dan pajak tersebut buat bangun MRT. Kalau jalan tol mah kalau anda berpikir lebih jauh, sudah menjadi jalan TOL (OL).

  13. Bapak…bicara tentang genk motor, saya jadi berpikir…kenapa sampe ada genk motor ya? kalo liat di bandung sih….yang saya rasain adalah kurangnya media, arena, ajang yang diakomodir oleh “kota” untuk media ekspresi para anak2 ABG yang tergabung di genk motor tersebut…bayangin aja…begitu sedikitnya taman kota, area publik, apalagi yang bisa menampung anak2 ABG itu untuk belajar “kebut2an” secara legal…kalo pun ada…pasti dan amat pasti berbiaya sangat tinggi.
    Saya liat di TV, anggota genk motor itu rata-rata masih ABG banget….paling anak2 esempe….kasian loh mereka…..kalo menurut saya sih…harusnya ada upaya lain dari pemkot, jangan asal tembak di tempat….wah sekali lagi kasian deh mereka…anak2 asempe loh….

  14. ini bahas macet ato geng motor sih???

    ada geng motor bukan karena motor murah,,
    buktinya ga semua kota nongol yang namanya geng motor.
    menurut gw sih, lebih tepat kalo diulas sisi sosial-psikologisnya drpada dari sisi ekonomi (krn harga mtr murah),,

  15. mbak renny,

    kalau jaman dulu [lima tahunan yg lalu] di bandung ada polisi keamanan sekolah, nggak tahu deh sekarang. lumayan bisa nurunin kadar adrenalin anak anak itu.

    genk motor disuruh latihan di sentul gimana ? biar hobinya tersalurkan .. 😀

  16. walah, ternyata kurangnya media penyaluran adrenalin secara legal sudah dibahas yah. jadi pertanyaan, emangnya bandung kurang ? lha orang jakarta aja sampai berliburnya ke bandung lho kalau sabtu minggu.

    mestinya sih, lebih banyak area ekspresinya dibandingkan jakarta, misalnya …

  17. justru krn sepeda murah makanya pemilik jg banyak, otomatis geng sepda lebih banyak dr geng motor.
    anggep ja geng motor anggota 20an, tp klo jd geng sepeda bisa nyampe 500an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s