Paten & Jualan Pariwisata Ala Malaysia

Sejak masih kuliah dan berkutat di LSME  papabonbon menyadari kalau ekoturisme akan menjadi gacoan dalam jualan di bisnis pariwisata.  Ekoturisme itu cakupannya luas, tidak sekedar rafting dan nginep di gunung, tapi termasuk juga memberdayakan budaya dan kreatifitas seni masyarakat lokal.  Lagipula saling sinambung dan sifatnya tidak melulu capital intensive ala jualan pariwisata dengan membangun kawasan eksklusif dengan hotel besar dan membuat orang lokal tergusur ke pinggiran.

Akhir akhir ini kita kebakaran jenggot dengan terjadinya pencurian hasil karya anak bangsa, dan digunakan untuk komersialisasi dunia pariwisata yang dilakukaan secara terkoordinasi oleh Pemerintah Malaysia.  Tapi apa benar persoalannya sesederhana itu ?  Apa benar kita bersih dari perilaku serupa ?

Mari kita telaah sedikit.

Kalau di Jakarta banyak banget warung padang. Semua orang juga suka rendang. Harusnya orang padang pada marah,  apalagi terjadi penipuan konsumen, soalnya itu kan bukan rendang. Itu kalio … !!! Alias baru setengah tahap menuju rendang yg sesungguhnya.  😀

Di Surabaya banyak bebek goreng, tahu campur lamongan, soto ayam lamongan, soto daging madura, ini semua makanan dengan kultur non surabayaan … Nah, apa para madura dan orang lamongan marah ? Ternyata nggak tuh …

Orang Indonesia yang bisa nulis arab, nyanyi dan nari jafin banyak.  Masjid di Indonesia juga arsitekturnya banyak nyontek dari budaya lain. Yang jago kaligrafi juga banyak, apa orang arab marah ? Trus ketika kita bikin cabang baru dgn bikin qasidah, tari piring, tari saman, yang merupakan adaptasi, dan menganggap itu sebagai budaya kita sendiri, apa mereka marah ? Nggak tuh.

Malah kalau ada orang china suka nulis china, ngomong pakai bahasa china, malah kitanya yg justru marah. Padahal kita juga makan siomay, bakso, mie pangsit, ya mie dan lain lain.

Kalau dipikir pikir sih, yang tidak percaya diri tuh kita sendiri lho. Mendingan kita bikin usaha, bikin kursus tari jawa, dan guru les dangdut, kursus tari kecak, dan yg pasti buka kursusnya langsung di Malaysia. Lebih menghasilkan uang. Jadi everybody happy.

Kita sirik ama Malaysia karena mereka mengkomersialisasikan budaya [yg kita anggap itu milik kita]. Kalau ngomong komersialisasi, ya udah kenapa kita juga gak garap itu. Toh kita sudah melakukan hal yg sama dengan bakso, pangsit, siomay, sampai kelenteng dan liang liong.

Kalau gak percaya, okeh, kita lihat lagi deh ….. kita lihat dari kulinernya.

Siomay Bandung
Bakso Malang
Wingko Babat
Lunpia Semarang
Bika Ambon
Bandeng Presto Semarang
Martabak Bangka
Cwiemie Malang
Pisang Goreng Pontianak
Bakpia Jogja
Semur Jengkol Betawi

Nama makanan diatas jelas menunjukkan, kalau kita sudah mengakui bahwa semua jenis makanan diatas adalah asli milik orang Indonesia.  Sesuatu yang sekarang dilakukan oleh tetangga kita Malingsiah.

Siomay dari Bandung ? yg bener aja itu makanan cina
Bakso dari Malang ? yang bener aja … blab la bla
Wingko Babat bukan dari Babat, Lamongan lagi, tapi di kudus, semarang, klaten banyak …
Lunpia jelas makanan cina
Bika yg ada ambonnya malah yg terkenal dari medan
Bandeng presto, di Surabaya, Sidoarjo, Anyer pun banyak
Martabak Bangka malah di bandung [meski yg jualan suku Tionghua dari Bangka], itupun aslinya makanan sekitar Mesir sono ..
Cwimie .. jelas lah …
Pisang goreng ala Pontianak udah ada di mana mana
Bakpia, dari namanya aja keliatan. Malah aslinya harusnya dari daging babi kan. Bak itu artinya babi. Tapi karena kita mencuri budaya china, jadilah kita modifikasi dengan lokalitas kita, diisi dengan kacang hijau.
Semur Jengkol itu adaptasi dari Beefsteak Sapi Lada Hitam, karena nggak kuat beli daging dan kentang, jadilah jengkol yang kita pakai … lalu kita jadikan itu budaya kita …

Bedanya terus di mana ? Paten ???. Paten itu kan berkait dengan proses pembuatannya. Kalau proses pembuatannya beda, so what ? lampu aja patennya banyak kok.

Coba kita lihat ketika mereka mengakui reog sebagai dolanan Malaysia. Di Indonesia, reog ini berkait dengan kisah perlawanan Ronggolawe yg berontak thd majapahit. Dalam kisah orang Malaysia barong ini berubah jadi kisah di jaman Nabi sulaiman, dimana para pendakwah bertemu barong yang sedang menari bersama burung. Disini mereka memasukkan kekhasan ala lokalitas mereka sehingga barong mereka beda dengan barong kita.

Dimsum dan Tomyam yg mereka curi dari Thailand juga sudah mereka modifikasi, juga makanan Padangnya Malaysia sedikit banyak ada perbedaan dengan yang di padang. Mereka bikin standar yang berbeda, lalu mereka patenkan, selanjutnya di franchise dan dijual sebagai produk budaya ke luar negeri. Lihat hasilnya dengan chain restaurant Penang Village yang mulai merambah kemana mana. what a smart idea.

Tempe di patenkan di jepun, lha metode poduksinya beda. Bahkan rasanya dan bentuknya pun beda karena beda jenis jamur yg dipakai. Kalau pernah nonton kartun jagoan masak Mao Shin Ryu, tempe yang orang jepang punya itu namanya Nato. Itu bentuknya kayak cairan biji kedele yg berlendir kayak agar agar. Dan mereka memakainya buat bumbu semacam tauco. See the different.

Kalaupun mereka banyak menyerap budaya kita, lha dulu kita ekspor orang kita ke sana dan banyak yg jadi warga sana, wajarlah kalau mereka punya fusion culture itu. Makanya sekalian ajah, kita bisnisan di sana. Bawa dengan kekuatan tradisi yg lebih dalam dan asli, biar mereka termehek mehek. Bikin yang serius supaya efeknya lebih besar dibandingkan ketika orang kita termehek mehek belajar yoga, belajar karate, beli mcD, memakai jubah agama dan berserban, belajar origami, ngajarin anak anak pakai metode kumon [ metode gumun, alias gumunan huehehhee].

Seorang teman, mas Enade berujar, “Patenkan dan komersialisasikan! Permudah dan perjelas prosedur paten juga permudah dan perjelas prosedur komersialisasi barang yang dipatenkan!”.

Saya setuju itu !  😀

Iklan

19 thoughts on “Paten & Jualan Pariwisata Ala Malaysia

  1. Hehehe…setuju…..lha wong dari kondisi asal, ditambah sedikit-sedikit, bisa langsung dipatenkan.

    Ingat 3 N (ciri khas orang Jepang) : Niteni, Nambahi, Niru. Barang2 made in Amerika di rombak, dipelajari, kemudian ditambahi…dan jadilah produk Jepang yang sudah merupakan modifikasi (biaya risetnya lebih ringan).

    Pernah meneliti, mengapa kalau di Jakarta…adanya ayam goreng Pemuda, Surabaya…kenapa nggak ayam goreng asli Jakarta. Jadi jangan-jangan makanan Madura yang ditiru itu, kalau di daerah asalnya bukan made in Madura lagi…malah dibalik, sate kambing Surabaya?

  2. herannya mbak ratna, di Surabaya sini, kita malah bolak balik ketemu Mie Ayam Jakarta. 😀 salah satu menunya Song mie, yang kalau di Jakarta, song mie alias mie jamur ini sudah hampir tidak dikenal lagi … 😀

  3. Kita memang harus belajar banyak pada Malaysia. Problem kita bukanlah di Malaysia, tapi ada di sini. Problem kita adalah kita sendiri. Selalu menyalahkan orang lain tak akan menyelesaikan masalah kita. (nyambung enggak yah? 🙂 )

  4. Ping-balik: Promosi Budaya Bangsa di Negeri Orang « bum bum bum,parappapapap

  5. Sekedar sharing…

    Pas kemaren di KL, hari 1 conference dah dapet sajian menu “Rendang Bukittinggi”. Istri yang kebetulan pas hamil jadi mulai meradang teringat news akhir-akhir ini yg gencar memberitakan klaim Malay atas banyak produk kebudayaan Indonesia. Salah satu temen Indonesia yg baru kenal di forum dan kebetulan ngambil study di Uni Malaya menjelaskan bahwa memang ada daerah namanya Bukittinggi di sana, and kebetulan orang Malay juga doyan rendang. Istri masih aja gondok…

    Pas pulang ke hotel (maklum seminarnya di hotel mewah, budget travel cuman bisa pake hotel kelas melati… :)), kita ngeliat banyak bus2 berseliweran dengan body ditempelin slogan “kempen penggunaan aksara Jawi” dari Ministry of Tourism (maksudnya campaign huruf Jawa), plus contoh tulisannya yg… kalo yg sekolah SD-nya di Jawa Timur/Tengah swear pasti bisa langsung ngebaca kalo itu “hanacaraka”. Kita jadi tertarik and nanya ke cab driver yg org “Bumiputera”, tuh maksudnya apaan yach? Si driver juga gak tahu maksudnya…. Dia juga gak pernah tahu kalo ada tulisan kaya begitu… :)) Istriku jadi kambuh lagi gondoknya!…

    Malemnya pas jalan keluar balik ke Shangri-la buat ngikut Gala Dinner, eh iseng2 ngambil 1 brosur pariwisata dari Ministry of Tourism tentang salah 1 pulau yang -dipromoted oleh mereka- begitu exotic. Lagi2 kita jadi terkagum2… tuh pulau di brosur didandanin puu..eersiss Bali. Rumah2nya, patung-patungnya, n gak lupa… clothing cover yang di-wrapped over di statue and orang2 di foto yg lagi dance itu… motifnya kotak2 item-putih persis di Bali. Istriku jadi tambah gondok!…

    Di gala dinner bertempat di Ballroom, kita disuguhi full-set of dinner yang consist of 9 different menus of Chinese cuisine!!!. Duduknya di round dining table begitu…. Dan yang paling awesome adalah… sajian gamelan dan tari-tarian khas Jawa di depan (tapi pake baju kurung model Melayu…) yang bikin suasana homey banget… (bule Amrik sebelahku gak abis2nya muji2 show & dishes-nya!!!). Tapi above all… rupanya istriku dah kesel sampe ubun2… dia jadi migrain and mual-mual (mungkin pengaruh hamilnya juga) gara2 sensi setengah mati seharian disuguhin hostile acquisition kebudayaan Jawa & Bali (Indonesia??) so dia milih ngajak pulang ke hotel dan gak ngabisin dinnernya, padahal baru menu ke-5 yang keluar (keluar menunya satu-satu…). Jadilah aku yang setengah gondok soalnya masih setengah kenyang…. :))

    Salute buat mereka yang dah sukses mengkomersialisasi kebudayaan kita… Kapan ya giliran kita???…

  6. bnrnya yang salah tu ciapa sih??????????? mbk jgn RAKUS-RAKUS gtu dhong. mulai dr pulau Ambalat, para TKI kita, & yg terakhir ini BUDAYA MBAH BUYUT Q kok di klaim

    pa ngga ada yg lbh konyl lg tho?????????

    geeeeeeeeeeeeeeeeeeer!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  7. ternyata seru juga komentar temen2

    pertama saya setuju untuk tetap berfikir dingin dan mulai untuk introspeksi diri. apa kita sudah menghargai kebudayaan kita sendiri (SAYA ORANG PONOROGO).
    disisi lain kita juga harus konservatif terhadap apa yang menjadi milik kita. kalo bicara soto lamongan, rendang,dll, toh orang yang memakainya tidak mengakui kalau makanan itu dia yang menciptakan atau berasal dari daerahnya. mereka tetap menjaga keaslian dengan mencantumkan nama asalnya. soto LAMONGAN misalnya.
    kalo malaysia memakai budaya kita tanpa mengakui, it’s OK.
    reog sudah sering tampil di jepang n negara2 lain, namanya tetep REOG dari INDOMESIA.
    tapi bisa dilihat mereka mengklaim itu warisan budaya nenek moyang mereka.. warisan dari hongkong???

  8. Memang selama ini kebanyakan dari kita kurang menghargai budaya sendiri mas adang…walau bukan orang ponorogo, aku gondok setengah mati gara gara tetangga sebelah makin kurang ajar aja ama kita…dasar MALINGSIA….yah,mungkin kita bisa ambil hikmahnya dari kejadian ini…makin menghargai budaya kita and cinta tanah air…he..he

  9. no problem kalo soto lamongan maen d kediri jadi soto kediri, ato terserah deh namanya. Maseh Indonesia. tapi kalo tiba2 ada negara lain ngefans kebudayaan kita sampe mesen segala peralatannya dari tempat d mana budaya itu lahir. lho, kok tiba2 d ‘aku’ milik dia dg segala macam legendanya. trus peralatan yg d pesen dr tempat budaya itu lahir, apa? knp g bikin sendiri guoblog! mengenai “serumpun” sbg alasan bolehnya memakai kebudayaan tetangga, kok g memperlakuakn TKI d sana secara baik dg alasan yg sama! melihat latarbelakang bagaimana elo merdeka, gw g yakin lo punya budaya sebagaimana lo g punya pahlawan. bagaimanapun maling tetaplah maling!

    -sebut ‘indon” depan muka gw, gw kirim lo k neraka paling jahannam!-

  10. na gitu akhirnya kita berpikir secara dewasa ga pake ribut..
    tapi kita jangan hanya terbawa keadaan yang diciptakan oleh malaysia malah harus sebaliknya gantian kita harus membuat suasana baru dengan membalas mereka sebab kan dulu kita bangga kita banyak orang pinter yang ngajarin orang malaysia sekarang kita yang kalah
    jadi skorna 1 untuk malaysia dan 1 untuk indonesia ha2.
    ayo rubah bangsa ini lawan kita banyak kalau dulu jaman soekarno bangsa kita ada pengaruh no1 dia asean dan dunia sekarang kita malu men musuh kita banyak ada malaysia. singapura,thailand dan vietnam (kita musuh itu bersaing lo bukan maen perang ha2 tapi bole kalau mau) tapi setidaknya masih ada negara baru di asean yaitu negara timor leste jadi negara kitakan bukan peringkat yang paling buncit ha222
    hidup indonesia!!
    walau ku bisa kasi penilaian negara kita masih nilai D.
    he2
    tapi ku tetap bangga sama negaraku..
    i love indonesia

  11. Tenang aja….

    Yang baru klaim Malaysia,…
    Entar juga nyusul Timor Timur, Singapore, Papuanugini, Philiphine….

    Soalnya Pemerintah gak cukup duitnya mematenkan seluruh hasil kebudayaan Rakyat Indonasoa…
    masih pusing mengkonversi Minyak Tanah jadi Gas

    Bagaimanapun juga, i love Indonesia.

    Hidup Indonesia!!!

  12. Wah untung sekarang ada kasus seperti ini ya..
    Usaha-usaha untuk menyamaratakan budaya Indonesia menjadi kebarat-baratan ato kearab-araban jadi agak terkendala..
    Soalnya gerakan keindo-indonesiaan sekarang sedang bangkit..
    Ayo aku dukung.. MERDEKAAAAA!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s