Pindah Profesi, Seperti Apa Rasanya ?

Seorang teman, ingin pindah profesi dari database administrator menjadi dosen, for good. Seorang teman lain, menjadi IT marketing pindah jadi dosen karena ingin mengamalkan ilmunya, ada pula yang di konsultan lari jadi pns karena alasan memenuhi keinginan orang tua, sahabat papabonbon, dari R&D perusahaan swasta yang bolak balik di kirim ke luar negeri, terjun jadi pns di DLLAJR untuk kehidupan sederhana yang lebih tenang, dia mencari kedamaian, seorang teman lainnya dari auditor ingin menjadi dosen, dan dia sukses sukses saja, secara sudah memulai karir menjadi asdos selama ini. Ada yang dari peneliti di lembaga swasta pindah jalur menjadi staf dispenda disebuah kota kecil, karena ingin bisa bersama sama dengan istrinya

Ternyata ada banyak alasan, seseorang ingin pindah jalur, pindah profesi. Pantas saja kalau ada bursa kerja dan penerimaan CPNS, yang daftar selalu membludak. Banyak orang tidak happy dan tidak enjoy dengan pekerjaannya sekarang.

Ketika papabonbon berjibaku mencari kerja baru, tujuannya juga ingin jadi akademisi, dan kepinginnya merambah dunia sosiologi, anthropologi atau sejarah. Karenanya dengan enteng, papabonbon melepaskan pns di BPK, karena memang bukan tujuan utama. Sekarang pun, ketika sudah menjalani kerja di swasta, yang dilakukan papabonbon adalah mengamati. Asik aja ketemu hal baru. Meskipun kerjaan utamanya balik lagi ke keuangan dan sedikit sedikit audit dan internal control.

Jadi polemik, ketika seorang teman menyarankan kita untuk mengambil jalur akademis yang searah. Jadi polanya harus S1 akuntansi, S2 akuntansi, dan S3 akuntansi. fiuh …. terus terang memang tergoda. Tapi kalau hati ini tidak tulus, gimana yah … Pun kalau memang serius mau pindah jalur, papabonbon sudah benar benar rela dengan segala konsekuensinya gak, yah … πŸ™‚ Ketika minggu lalu ngobrol dengan kawan Eric – dia lintas jalur juga. S1 HI UI, loncat ambil S1 ekonomi UT, dan ambil S2 Ekonoi di Amrik. Sedangkan istrinya yang gadis jepun asli, malah sudah post doktoral di bidang sosiologi. Asik juga mendengar ceritanya kalau istrinya rajin datang ke pertemuan ibu ibu PKK di suburban Jakarta.

Ternyata yang menjadi kendala, adalah diri sendiri. πŸ™‚ Semoga Tuhan memberkati sumpah dan janjiku. Dan papabonbon bisa berketetapan hati, mengambil jalan lurus yang menjadi cita cita.

29 thoughts on “Pindah Profesi, Seperti Apa Rasanya ?

  1. Papabonbon,
    Yang jadi kendala memang diri sendiri. Dulu saya sempat mau pindah kerjaan, yang akhirnya dengan berbagai pertimbangan), tetap diperusahaan sejak awal masuk sampai pensiun.

    Setelah MPP, sempat mau ke jalur eksekutif, anehnya mau test, hati ga tenang, karena akan kerja lagi dari pagi sampai malam, bahkan Sabtu Minggu juga. Akhirnya kembali berpikir. Apa yang saya cari? Kan hanya kesibukan, agar pikiran masih terbuka. Akhirnya memilih seperti sekarang, kadang-kadang saja ke daerah untuk mengajar, dan tetap bisa memperhatikan keluarga.

    Sekarang anak bungsu saya yang baru lulus juga gundah, mau kemana? Kebetulan dapat sms dari perusahaanku untuk ikut test…pada saat yang sama dia apply beasiswa S2 di dalam negeri…dan diterima. Walau saya dan suami ingin dia ambil S2, tapi tak berani memaksa…akhirnya dia ikut test pendahuluan…dan pulang test malah merasa kurang nyaman. Hari ini memutuskan balik ke Bdg untuk melanjutkan daftar ulang, ikut S2. Mudah2an ini pilihan yang terbaik….

  2. ooo.. papabbn rupanya temennya eric ya πŸ™‚ hebat tuh anak dari fisip pindah ke ekon dg sukses.

    dulu saya punya prof advanced micro yg hobinya “membongkar” buku mas-colell dan sargent, ternyata S-1nya dari hukum hitotsubashi… DR amrik, skrg expert di IFPRI.
    jadi soal pindah profesi, asik aja!

    kalo saya pindah profesi lagi, mungkin sekarang akan pilih jadi fotografer πŸ™‚

  3. papabonbon sering ngajak diskusi dengan saya tentang hal ini, saya termasuk orang yang mendukung papabonbon untuk ambil S2. Masalahnya adalah kemana harus S2? Jurusan apa yang harus diambil? Mengambil cepat S2 di dalam negeri atau menunggu dapat beasiswa S2 keluar negeri?

    Persoalan pertama, kemana harus mengambi S2?
    Iya siapapun pasti ingin kuliah di kampus yang bagus, bonafid. Kalau menurut pandangan saya di indonesia minimal papabonbon ambil S2 di UGM or UI (ring pertama) ata di UNIBRAW/UNAIR/UNDIP (ring kedua). akan tetapi yang menjadi pertimbangan adalah bolehkah tempat kerja mengijinkan kuliah di Yogya or Jakarta sementara papabonbon di Surabaya? so kalau demi kepentingan prakmatis (asumsi kerja di surabaya keluarga juga mau di boyong ke surabaya, plus biaya sendiri mending ambil di airlangga atau di unibraw kelas sabtu minggu)

    kedua, jurusan apa yang harus diambil?
    ketika saya membaca tulisan papabonbon keliatan ada keragu-raguan akan mengambil jurusan apa untuk S2nya? sementara papabonbon saat S1 mengambil jurusan akuntansi. Banyak cerita dan pengalaman menarik ketika seseorang mengambil jurusan non linear untuk S2nya bahkan ada beberapa kawan saya yang mengambil lagi S1 bidang ilmu yang lain (aksin ambil S1 hukum yang sebelumnya ambil akuntansi S2 Manajemen S3 akuntansi, ferdi ambil S1 syariah UIN Syarif, S1 akuntansi UI, S2 EP). tujuan mereka mengambil bidang ilmu yang lain karena ingin lebih paham, nuruti hati (seneng), banyak ilmu tapi bukan demi kepentingan akademik. Jadi kalau papabonbon nyari ilmu silahkan ambil bidang ilmu apa saja, teapi kalau tujua akhirnya masih ingin menjadi dosen saya sarankan ambil S2 Akuntansi di kampus yang bonafid (minimal negeri)

    Mengambil cepat S2 di dalam negeri atau menunggu dapat beasiswa S2 keluar negeri?
    Saya yakin papabonbon sudah pernah mencoba melamar beasiswa luar negeri, so haruskah S2 menunggu dapat beasiswa dulu? kalau menurut hemat saya cita-cita ini memang bagus tapi kalau sampai dengan sekarang masih belum lolos haruskah menunggu lagi? sampai dengan kapan? kalau kemudian ada kesempatan kenapa tidak dilakukan sekarang, meski kualitas S2 di dalam negeri tidak begitu bagus tapi itu bisa menjad syarat untuk daftar menjadi dosen, itupun harus linear (S1 akuntansi, S2 juga akuntansi)

  4. hooh, eric sementara ini kerja di lembaga riset. akhirnya sukses menyelesaikan PR nya di virginia, danlagi nunggu nunggu jadi peneliti di bappenas, or whatever lah … BI curang sih, katanya. Sejak dipegang LPEM batas umur jadi 28, lewat deh setahun .. πŸ™‚

    halo eric, kalau baca blog ini, jgn lupa, tgl 10 september kita traktiran bebek goreng yah … ntar aku turun ke lantai bawah deh … πŸ™‚ wahahaha

  5. halo, fanani. thx masih memantau isi blog ini. makasih banget buat masukan masukannya. kalau ndak ada temen diskusi kayak kamu, emang garing sih … πŸ™‚

    memang nih, buat urusan sekolah, memang bimbang. yang pastinya sih, pengen buru buru sekolah sih sekarang ini. kalau bisanya biaya sendiri, yah, mau gak mau dijabanin lah. dan kalau bisa, karena uang sendiri, ambil jurusan yg juga disenangi, atau sesuai tujuan.

  6. Oh ya… ndak saya lagi sama mas nurkholis (BI) di unair ada pelatihan ARIMA, ECM, dan VAR. Bagaimana nanti malam mau ngajak makan bebek goreng jl dharmawangsa? aku di sby sampai dengan besok alias malam in free.

  7. Ya…memang kualitas sekolah S-2 dalam negeri tak sebaik di LN tapi itu tergantung orangnya dan tergantung universitasnya. kalau UNIBRAW sih memang jelek…:P Apalagi dosennya banyak yang katrolan organisasi kemahasiswaan tertentu πŸ˜›

  8. Rekrutmen BI bukan dipegang LPEM, tapi LM. kayaknya dari dulu juga segitu syaratnya. lho eric bukannya masih di feui? kapan gitu pernah liat nongol di milis dosen ngabarin udah lulus masternya..

    Kalo balik ke soal rasanya pindah profesi, senengnya kalo orang ngomongin isu multidisiplin dari bidang2 yang pernah saya pelajari. Enak jadinya, ngga buta dan bisa merasakan berdiri di dua sisi itu.
    Jadi kalau teknokrat vs ekonom berantem, saya suka ketawa sendiri… πŸ˜€

  9. haik. sama geolog yg juga ngambil s2 teknik industri abis itu ambil ekonomi di jepun s2 dan s3 sih … πŸ™‚ nyerah nyerah dan minta ampun.

    btw, yg aku heran sih, kirain dengan latar belakang mbak fau itu bakalan konsen ke ekonomi mineral atau sejenisnya, eh, ternyata malah mengkaitkan ekonomi dengan dimensi sosial politik. bener bener salut deh dengan multidisiplinnya … πŸ™‚

    si eric ini ndoble mbakyu, sambil ngajar di UI doi juga kerja di perusahaan riset. tempatnya masih seputaran gatsu situ deh …

  10. @ fanani, ajakin nurkholisoh makan bebek goreng 75 di ngagel rejo. aku dah janji ama dia makan bebek goreng, belum terlaksana juga … πŸ™‚ sejak fitness, jadi ngurangin makan bebek :p

  11. oh ya… di blognya papabonbon ini kok pada membenci setengah mati unibraw dan HMI. Saya malah curiga beliau-beliau ini (Gunadi, Fanono) malah alumni unibraw yang “dulu” atau “sekarang” belu pernah mencicipi kehebatan unibraw karena suatu alasan yang “tidak obyektif”. Saya memang bukan alumni HMI (ikut aja enggak) tapi dalam setiap organisasi pasti ada sisi “baik” dan “buruk” nya. Siapa yang berani jamin bahwa PMII pasti lebih baik dari unibraw, siapa yang berani jamin bahwa KAMMI lebih baik dari PMII dst… hanya kalau ambil kader dari HMI yang ambilah yang memiliki kualitas (kompetensi) untuk menjadi dosen.
    Toh unibraw mau mengambil apa dan siapa dengan kriteria tertentu ya tersera mereka, jangan dikira dosen-dosen di unibraw sendiri tidak protes ?? he..he.he..

    Kalau ada yang bilang dosen unibraw itu katrok menurut saya itu sangat betul… betul sekali…he..he.he.. (Syehk iwan bangkalan, Bambang subroto trenggalek dll)
    Tapi dosen UGM juga pada katrok lho… Prof mas’ud itu Blitar dueso pisan,…. Dr. Ainun Naim juga kediri ndueso… Tapi senajan katrok yo podho pinter kuebeh ki…

  12. mau jadi apa mas sekarang ? nggak tertarik jadi psikolog ? πŸ˜†

    kalau sudah berumur biasanya mikir seribu kali untuk pindah, saya sekarang malah tertarik ke antropologi dan filsafat, sementara psikologinya dilepaskan. sama seperti depkeu dulu….

    jadi kutu loncat nih… πŸ™‚

  13. Buat fanono… kayaknya aku kenal dengan gaya tulisan dan dialog jenengan deh… Aku dah jarang nulis mas… buat nyari makan aja susah boro-boro ngurusi tulisan. inginnya sih seperi jenengan nulis terus, neliti terus.. gitu…

  14. @ fanani. kalau bisa nebak orangnya, jgn terlalu di ekspose lah … apalagi bicara yg terlalu pribadi, gak enak ajah. kan orang kadang salah sangka kalau lihat tulisan sahaja. sorry di edit.

  15. masalahx papabnbn sama denga saya nich, tp ad embel2 belakangx. sy ingin pindah profesi ke prof yg lebih tenang n nntx bs bagi waktu u keluarga klo sudah married en syaratx sy harus lanjut S2…ya apalg klo bukan jd pendidik n dosen. kerjaan skrg mah benar2 mnguras tenaga, jd berfikir bgm nnt klo sudah married, kan kasihan suami klo terlantar :). mslahx skrg ortu mdesak kpn nikahx?? krn klo lanjut S2 bs2 telat nikah n aku kan cewek :). mslah biaya S2x jg, dlu sih pnah ditawarin kantor u beasiswa tp syaratx hrus ikatan dinas, klo biaya sendiri gmna ya…? spy gak terikat dg siapapun. pusing jg mikirnya…:)

  16. Ping-balik: Kerjaan yg cocok buat Cewek ? « besar pasak, DARIPADA KENTANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s