Office Politics di FE Akuntansi Unibraw

Kalau Unibraw itu kampus “Hijau”. Biasanya kandidat dosen di sana adalah alumni HMI. Terutama di fakultas atau jurusan tertentu. Katanya lho wehhahahaha …

Nah, info office politics terbaru adalah adanya dua gank di jurusan akuntansi :
– gank kelompok alternatif, pak Iwan Triyuwono, pak Gugus Irianto, Unti Ludigdo,
– gank kelompok mainstream, pak Sutrisno, dkk

Kalau yang sekarang sih, urusannya bukan ideologi lagi, tapi tentang isu filsafat dan berujung pada positioning program master di pasar akademis dunia pendidikan. Pak Tris, secara doi adalah oang yang kaffah dengan akuntansi, SMEA akuntansi, s1 akuntansi, s2 akuntansi dan s3 akuntansi, dan jebolan UGM sangat menolak isu :

– para pengajar akuntansi yg rame ame ambil S3nya di jalur non akuntansi [di unibraw para Ph.D nya ternyata banyak yg jebolan s3 di bidang manajemen, dan juga hukum].
– paradigma alternatif dijadikan mainstream pengajaran akuntansi – terutama untuk kelas kelas S2 dan S3.

Apa kata dunia ? Mungkin itu yang beliau katakan, kalau kita mencermati kurikulum Magister Sains Akuntansi – MSA multi paradigma [TM] dan kurikulum MSA hukum bisnis – yg merupakan konsolidasi dosen fakultas ekonomi dan fakultas hukum.

Tentangan ini keras, soalnya, kenyataannya S2 dan S3 unibraw jelas jelas tidak diarahkan jadi praktisi akuntansi yg handal. Oh ya, yg dianggap handal itu adalah yg berpatron pada UI dan UGM. Meskipun jadi polemik juga, yang ambil jalur S2 dan s3 – alias jalur akademisi ini, memangnya ada yg jadi praktisi handal … huahahahaha πŸ˜€

Yang pastinya, sekarang ini kelompok alternatif sedang di atas angin. Apalagi secara pemasaran memperlihatkan tren yang bagus. Kelas master yang reguler ada dua kelas, dan kelas sabtu minggunya laku keras. Juga untuk kelas doktor ilmu akuntansi yang baru dibuka, dari 12 orang yang akan diterima, sudah 25 orang yang daftar, sehingga [akan] terpaksa perlu diseleksi .. :p

Program MSA juga laku keras soalnya barrier to entry juga diciptakan serendah mungkin. TPA cukup 450 dan Toefl score 450 yang [toefl ini] bisa disetor ke pengelola program kapan anda siap. Bisa ditengah semester, bisa juga ketika mau lulus.

Beda sama passing grade masuk S2 UGM yg pakai sistem nilai total dan kudu lolos ketika belum masuk kuliah. Beda juga dengan program pasca sarjana Unair yang saking tekor manajemennya, sampai sampai ketika acara guyub rukunnya akademisi akuntansi – SNA di makassar kemarin, sama sekali tidak tergerak untuk nyebar brosurnya babar blas … [psst, gimana mau laku keras, kalau sebar brosur saja malas, pun kurikulum juga standar standar sahaja – banyak pilihan lain di luar sana, dari unpad, undip, ugm, ui, sampai stiesia … πŸ™‚ ].

36 thoughts on “Office Politics di FE Akuntansi Unibraw

  1. Tidak semua yang dimomongin papabonbon itu benar. Saya yaqin setiap kampus memiliki kebijakan sendiri-sendiri. Kita lihat aja 10 tahun yang akan datang masihkah unibraw berada di bawah UGM or UI ?

  2. @ komen yg diatas saya ini rada bersayap alias ambigu.ambigunya karena di satu sisi ngomongin kalau data diatas ndak bener, tapi ternyata punya sayap, sepertinya tujuan akhir kata katanya sebenarnya adalah, kalau langkah yg dilakukan unibraw sudah menjadi langkah terbaik sementara ini.

    padahal posisi papabonbon ketika menulis ini justru setuju dengan itu. Thrad ini ketika ditulis memang tujuannya untuk menunjukkan kedinamisan internal di unibraw, menghasilkan setting program s2 seperti sekarang, dan positioning dan segmentasinya secara pemasaran adalah langkah cerdik [jadi sebenarnya punya pemaknaan sama dengan “mahasiswa unibraw”].. so, pada akhirnya saya jadi bertanya tanya, makna sebenarnya sanggahan diatas mau diarahkan ke mana yah .. ke pribadinya papabonbo0n yg tidak bisa dipercaya atau ke datanya yang gak valid ?

    lagi pula :

    1. kalau ada info yg menurut “mahasiswa unibraw” dianggap sebagai tidak benar. silakan diberi informasi yg lebih valid.

    2. kalau masalah output program pasca yg ingin anda bela, silakan tanggapan anda disampaikan pada gunadi. yang sebenarnya adalah samaran eks mahasiswa unibraw juga dan sekarang jadi peneliti. doi juga jebolan luar negeri. menunjukkan meski doi kritis pada unibraw, tapi toh outputnya oke juga.

  3. ohya…
    1. Mulai dulu sampai dengan sekarang isu di unibraw tetap sama artinya kalau anda bukan dari HMI kayaknya nggak bakalan bisa jadi dosen disananya deh (khusus akuntansi). Bukan isu filsafat seperti yang anda sampaikan.

    2. Anda mengatakan bahwa TPA dan TOEFL dapat diserahkan kapan saja siap? justru yang kami rasakan tidak, karena peminatnya banyak maka TPA minimal 450 dan harus sudah segitu pada saat daftar, tapi kalau TOEFL emang syarat kelulusan 450 bukan syarat masuk. Kalau dibuat tinggi semua kasihan teman-teman kita yang dari indonesia Timur kalau mereka mau ambil S2 ke UGM dan UI tidak bisa mau kemana lagi? jadi saya kira Unibraw sangat membantu. Disamping itu ini merupakan strategi unibraw untuk mendapatkan murid banyak, kalau peminatnya banyak maka akan sangat mudah untuk melakukan seleksi. Bandingkan dengan kampus yang seleksinya ketat, apanya yang diseleksi kalau peminatnya sedikit ? he..he..he

    3. Sejak kapan patron handal dialamatkan ke UI dan UGM? dari sudut pandang mana UGM dan UI lebih handal dari Unibraw? masih banyak yang lebih handal dari UI dan UGM. Banyak alumni unibraw yang jadi praktisi handal lihat saja pak bogat, Arif Budi, Yusuf wibisana, Zaki baridwan, Kuspandi, sabirin dll toh mereka juga S1nya bukan dari UGM atau UI

    4. Justru S2 di unibraw paling mendekati dunia praktisi dibandingkan dengan UGM dan UI. S2 MSA terapan betul-betul aplikatif dan diperuntukkan bagi praktisi dan kurikulum dibuat sedemikian rupa agar sama dengan kebutuhan mereka bahkan unibraw sudah menawarkan program non tesis dalam program ini. S2 di UGM malah akan menghadapi dunia teori yang daqi2. ibarat orang melayang, tapi program ini juga diperlukan bagi orang yang emang ingin belajar teori dengan benar. so keduanya merupakan simbiosis mutualisme.

  4. Kecerdasan finansial sih boleh…tapi kalau mutu dikorbankan ya nggak ku-ku lah…Jangan bikin inflasi master tapi ra’ mutu. Isu HMI di FE-UB itu memang betul. Banyak anak HMI yang (maaf) mutunya payah diangkat jadi dosen, tunggulah zaman kegelapan di Unibraw. Pengecualian buat Erani.

  5. setau saya, pasca akuntansi FEUI itu ada 2 macam: Ilmu Akuntansi dan MAKSI. Yang pertama memang cenderung akademisi, cocok buat dosen atau yang ingin lanjut S3. Yang kedua praktisi. Dan setau saya lagi, lulusan MAKSI itu laku banget (dominan isinya lulusan ITB dan STAN, adik temen lulusan ITB ambil situ trus kerja di BP). Selain itu ada PPAK (keprofesian).

    Soal praktisinya terkenal atau tidak? Saya bukan akuntan, tapi kayaknya nama2 semacam Wahjudi Prakarsa, Benny Redjo, Siddharta Utama, Hans Kartikahadi dkk cukup sounding di dunia akuntansi indonesia? cmiiw.

    Yang jelas, pecel ayam didepan MAKSI itu bener enak lho… sluurrp..

  6. Ya…saya juga kebetulan lulusan MAKSI-UI. Emang mantep, jauh lah dengan Unibraw tempat saya menempuh S-1 Akuntansi dulu in terms of pengajarnya yang kebanyakan kroni HMI yang kerap mengesampingkan kualitas calon dosen. Karena aktivis, kebanyakan mereka tidak cerdas secara akademik yang notabene diperlukan untuk jadi dosen. Hanya membesarkan aktivisme di HMI saja modalnya. Tunggulah kehancurannya akibat banyak dosen ra mutu.

  7. @ mahasiswa unibraw, untuk poin nomer dua. sepertinya kata kata yg saya gunakan tidak ambigu deh. toelf yg 450 yg bisa disetor kemudian. coba saya kutipkan lagi di bawah ini.

    “TPA cukup 450 dan Toefl score 450 yang [toefl ini] bisa disetor ke pengelola program kapan anda siap. Bisa ditengah semester, bisa juga ketika mau lulus”.

    untuk poin nomer tiga. “Sejak kapan patron handal dialamatkan ke UI dan UGM?”. lha, ini kan keliatan ke mana aja dosen unibraw menyekolahkan sdm nya. patronnya dari dulu UGM dan UI.

    Malah, waktu kelas sabtu minggu program pasca baru dimulai tahun 2000an dulu, yg didatangkan jelas jelas orang UGM dan UI. jadi ini pengakuan dari orang UB sendiri. termasuk juga dosen yg sedang ambil s3 di malaysia [dan dulunya s2nya di UGM]

  8. @ mahasiswa unibraw, kayaknya sebel juga ama kroni HMI yah … πŸ˜€ btw, yg ditolak jadi dosen, beberapa pernah ikutan HMI juga lho, tapi belakangan lebih aktif di kegiatan lain, yg jadi saingan unibrw. misalnya HT, UAKI, dll. intinya LDk deh.

    Gak tahu juga sih, apa komposisi seperti ini yg mempersulit eks HMI tapi dengan haluan terkini berbeda itu yg membuat mereka sulit masuk unibraw.

    Abis komen ini, yg anak HMI dan jadi dosen unibraw bakalan gantian marah sama saya deh wakakakakak !

  9. TOEFL segitu mah cocok sekolah di Uganda sana, kalau mau hebat minimal 550 lah…Tapi gimana bisa wong dosennya wong ndeso, Katro kalau kata si Tukul.

  10. tolong … ! aku nyerah deh aku ndak ikut ikut …. πŸ˜€ dan tidak bertanggung jawab atas komentar “mas gunadi” … :p

    btw, oom, gunadi asli bisa mati berdiri kalau liat namanya dicatut orang. at least kalau dikena stigma negatif orang orang eks HMI, kan bikin rusuh juga urusannya buat dia … :p

  11. wah…ok juga nih isu yang diangkat…..kenapa baru realise sekarang? bukannya dari dulu hal itu udah jadi “rahasia” umum…(kecuali yang program S-2 dst itu loh)…..btw…apa bener om gunadi dari s-1 akuntansi unibraw? kayaknya dari jurusan laen deh???? he….he salam buat om gun ya….

  12. Buat Mas Gunadi…

    Saya kira Unibraw pernah buka juga (at least di Jur Ak) lowongan dosen dan merekrut orang bukan ex HMI… dan hasilnya??? Sama saja… Ybs wong pas daftar S2 UGM saja harus matrikulasi… Bisa dicek tuh ke Jur namanya siapa, yang jelas bukan alumni Unibraw dan juga bukan Kahmi… Selain itu ada juga terima lulusan UGM cum-laude, tapi sekarang, hasilnya ya tetep sama… abis ngajar (kalo ndak absen), ya pulang…

    Kalau membandingkan dengan yg ex HMI, sekarang ini adalah contoh menarik karena saya yakin tidak ada yang sangsi kalau KAHMI yg sekarang jadi Sekjur Ak (tahu dong siapa…) adalah lulusan IP tertinggi di angkatannya… Apakah ini kebetulan, yaa.. saya tidak tahu… Saya juga tidak tahu kenapa org2 ex HMI (at least Akuntansinya…) 90%-nya diterima di institusi2 bagus… Mungkin lagi2 juga kebetulan yach…

    Saya setuju kalo dikatakan di Unibraw –terutama Ak yg saya tahu– ada priviledge kemudahan utk org2 ex HMI jadi dosen, tapi saya kurang setuju bahwa kemudahan ini dikatakan membabi-buta… Banyak juga temen-temen ex HMI yg waktu itu apply gak bisa tembus kok karena persyaratan akademis yg kurang memadai… Just for info, saya bahkan diberi tahu oleh salah seorang pejabat jurusan bahwa utk mencoba memberi perimbangan yg sehat terhadap recruitment dosen, mereka sudah mencoba membuka peluang lebih besar utk golongan heterogen… Tapi apa mau dikata, hasilnya malah lebih parah… (seperti contoh di paragraph 1 saya). And BTW… apa mau dikata, wong pendiri jurusan Akuntansi di Unibraw memang orang-orang ex HMI Unair (Pak Mus, Pak Wiyoko, saya ndak tahu apa beliau2 ini termasuk golongan katro’ juga menurut definisi Mas Gunadi… :)), lha mau ngomong apa…

    Utk mahasiswa unibraw:

    Hanya meluruskan yg point 3…

    3. Sejak kapan patron handal dialamatkan ke UI dan UGM? dari sudut pandang mana UGM dan UI lebih handal dari Unibraw? masih banyak yang lebih handal dari UI dan UGM. Banyak alumni unibraw yang jadi praktisi handal lihat saja pak bogat, Arif Budi, Yusuf wibisana, Zaki baridwan, Kuspandi, sabirin dll toh mereka juga S1nya bukan dari UGM atau UI…

    Pak Bogat Agus Riyono S1-nya di UGM, cum-laude. Beliau mengambil S2 di UC at Fresno… Pak Yusuf Wibisono adalah alumni UGM sekaligus KAHMI, beliau S2 di Aussi, dan sekarang sebagai Partner di PWC sekaligus Ketua Dewan Standar Akuntansi Keuangan (itu lho… yang bikin PSAK). Yang terakhir ini termasuk opponent kuat dari –seperti yang dikatakan papabonbon– golongan mainstream, yang sempat berseteru tajam dengan Prof. Iwan Triyuwono…

    Dan seperti kata papabonbon, ini memang bukan lagi perang bendera, tapi perang gaya akuntansi yang diusung…

    Trim’s

  13. Tapi masih belum kedengaran di kancah nasional apalagi internasional. Kalau ada lulusan UGM terus ngajarnya juga sama malesnya, berarti memang ada yang salah dalam lingkungan pengajaran di FE-UB apalagi di Ak.

  14. Saya kira juga benar…, tapi of course bukan cuman FE-UB. Emang ada yang salah di lingkungan pendidikan tinggi di Indonesia, terutama PTN-nya. Kebetulan istri saya juga dosen senior di Ak FE-Unair, kondisinya gak jauh beda, bahkan di beberapa aspek, lebih buruk dari FE-UB. 2 hal paling tidak bisa saya quote: kaderisasi dosen dan akreditasi (sempat memperoleh B). Dan saya yakin ini juga berlaku di semua PTN. Bagaimana recruitment dosen di UGM juga harus memperoleh “restu” dari Prof Zaki… Bgm di UI juga banyak sekali dosen Akunt yg ngobyek dan ngajar yang dititipkan ke asisten (temen kebetulan dosen muda di sana)…

    Hal ini bisa dibandingkan misalnya dengan Binus. Binus 10th yang lalu bukan apa-apa, tapi sekarang menjadi salah satu authorized institution utk CIA dan CISA review training di Indonesia (UI pun tidak). Keduanya merupakan gelar sertifikasi International bergengsi masing2 utk internal auditor dan IT auditor. Dan satu lagi, ia PT pertama yg memperoleh sertifikasi ISO. Kalau mau memang sekarang ini jamannya belajar bagi org2 yg ngaku2 pinter yg banyak bercokol di PTN2 itu, untuk gimana caranya bisa meniru professionalism temen2 di PTS.

    Utk jurusan Akuntansi, dari semua PT memang belum ada yg masuk kelas International… Mungkin bisa disebut orang per orang, seperti di Usakti ada Prof Sofyan Safrie H. dan Ak UB punya Prof Iwan T. serta Unair yg ada Pak Cip. Tapi sekali lagi, mereka bukanlah produk dari system yg memang proven dan menurut saya; lebih banyak merupakan unintentional success…

    Termasuk saya dan istri yang tercatat sebagai penulis Indonesia pertama di Internal Auditor Magazine, the IIA Inc. – Florida, US… ha… ha… ha…

  15. Prof. Sofyan dari Flinders Uni dan Prof.Iwan dari Wollongong Uni di Australia. Kebetulan dua universitas ini di Australia bukan termasuk top university. Jadi, ya….anda lihat saja kualitasnya. Belum ada dosen UB yang bisa tembus ke HBS, Kellog, Northwestern dll. Ada yang dulu sekolah di AS, tapi ya katrolan, apalagi anak rektor.

  16. Pengembangan keilmuan tidak harus kaku seperti yang diutarakan, fleksibilitas dalam muatan perkuliahan memberi kesan bahwa pengembangan ilmu akuntansi tidak hanya bicara angka yang tertuang dalam laporan keuangan, serta hasil laporan audit. Sebagai PT “Pembaharu” kenapa tidak? UB merespon Kebutuhan untuk akademisi dan praktisi telah ditawarkan melalui program S2 & S3. Artinya PT juga harus merespon kebutuhan stakeholder, kiranya output yang dihasilkan layak dijual apa ndak?

    Mengenai mainstream or alternatif, tidak lain adalah “PEMUTAKHIRAN KEILMUAN”. kalo Mas Gunadi suka lagu kroncong, ya emoh di suruh nyanyi lagu rock alternatif. Kalo peminat lebih suka warna musik rock alternatif yach ojo ngenye juga yang kroncong mas. karena lebih awal yang dikenal yang kroncong. Tapi gak salah juga kok kalo lagu kroncong di buat versi rock alternatif atau sebaliknya. tinggal kuping siapa yang mau dengerin.

    Mungkin Mas Gunadi hanya respek dalam paradigma yang dianut, kayaknya perlu dech mengamati sesuatu dalam “META PARADIGMA” jadi lebih obyektif. Nggak usah malu untuk nanya ke Prof.Iwan dkk.

    Banyak orang cerdas yg bukan output dari UGM & UI, namun tidak sedikit pula alumni UGM & UI yang dibutuhkan. Sama halnya Flinders n Wollongong, meski gak termasuk top university, tapi outputnya cukup memberi warna di RI.

    Perbanyaklah berkawan & bersaudara, karena 1 musuh terlalu banyak mas. kayaknya panjenengan mesti perbanyak nonton sinetron rahasia ILLAHI yang lebih banyak mengambil hikmah.

    Maaf, jika kurang berkenan.

    Wassalam

    crepunk_papua

  17. To Gunadi:

    Kualitasnya ya bagus khan??!!

    Apa anda melihat kualitas itu dari lulusannya apa gitu???…. Yang lulusan Berkeley juga banyak yang jadi mafia ekonomi yang bikin bangkrut negara.

    HBS dan KBS adalah sekolah bisnis paling top di dunia, tapi saya juga kenal banyak nama yang tidak sekolah di sana mampu memberikan hal2 yang bermanfaat bagi rakyat…

    Saya kira kalo sudah dari sananya anda apriori, ya… emang semuanya jadi jelek terus… Banyak dosen Ak-UGM sekolah di Univ Kentucky, emangnya Univ Kentucky itu bagus??!!, wong saya pernah ditawari beasiswa dari situ gratis tanpa nglamar… (waktu diundang di forum IIA Asia-Pacific)

    Saya kira kalo alumni2 Flinders & Wollongong memang less qualified, paling tidak kedua orang yang dibilang Gunadi kualitasnya dipertanyakan tadi lebih terkenal dan recognized di academic world dari Gunadi sendiri…

  18. alooo, si oom yg pakai nama gunadi, harus membersihkan nama gunadi yg asli lho. soalnya yg mempertanyakan sudah orang orang alumni akuntansi unibraw sendiri tuh. jgn sampai gunadi yg asli yg ketiban pulungnya, huahahaha

  19. Wah, saya baru tau neh ada diskusi seperti ini. Menarik sekali, sangat perlu untuk kemajuan jur akt fe ub. Setelah minal minul, diskusi sebaiknya terus berjalan.

  20. abis rame diskusi di milis Kahmi, jadi pengen nulis lagi ttg S2 akuntansi di unibraw. tapi ngeliatnya dari sisi marketing ah … ada yg bisa suppot datanya gak ? mas aulia fuad atau kang ghofar mungkin ?

  21. Saya malah dengan bangga ngaku DO … ninggalin skripsi … tapi dah slese semua perkuliahan …

    Setalah saya bandingin antar kampus akuntansi di UB, Unair dan Unej … sebetulnya gak beda-beda amat …

    Hanya saja yang saya tahu … untuk bidang akuntansi syariah, UB beruntung punya Pak Iwan … kalo di kampus lain … syariahnya belum terlalu berkembang, jadi yang minat konsen di syariah, masuk UB aja …

    Just a note, sebelum konsen di syariah accounting … banyak-banyak baca buku syariah … kondisikan diri anda dengan perbandingan konsep dasar mainstream dan konsep syariah, jadi nggak ‘digejlak’ pas konsen di syariah …

    Tentang politik2an … saya nggak ngurus … lha wong saya tidak pernah merasa punya almamater mulai SD, SMP, SMU sampe kuliah … yang penting saya dah nyerap ilmunya …

    Buat saya yang penting profesionalisme …

    Kuliah ya kuliah aja yang serius … jangan DO -pas tinggal skripsi- kayak saya …

    Nah kalo kerja … ya kerja yang serius … learning by doing … kayak saya …

    Bagi yang nggak sanggup kuliah … banyak baca di internet, ikuti komunitas yang ada, baca blog akunting … atau nongkrong aja sama mahasiswanya …

    Kalo sanggup ngikutin … saya jamin ilmu S-3 pun bisa anda serap … gratis, murah dan mudah …

    Ilmu itu berharga dan mahal ……

    Tapi ada tempat-tempat yang menyediakan ilmu secara murah, gratis malah …

    Satu lagi … jangan keblinger kalau belajar … PAHAMI makna BELAJAR (baca : KULIAH) itu apa !?!

  22. Wekkk…saking bingungna kemana arah akuntansi di FE Unibraw… ada dosen S3 Akuntansi yang nggak ngertim akuntansi babar blass hehehe… karena dia S1nya Jurusan Pertanian wekkkkkl… cuman karena politik KKN penguasa program S3nya aja dia bisa jadi dosen S3 akuntansi…. Quo Vadis atuhhhh?

  23. @agus… siapa tuh?? sebutin nama donk..
    seatau saya buat ngajar s3 akuntansi aja harus profesor, masak bukan bidangnya ngajarin s3 akuntansi.. kalo ente gak bisa nyebut nama, sama aja nyebar fitnah

  24. ada sih alumnus s3 akuntansi ub, yang s1 nya pertanian. s2 dan s3nya akuntansi. rajin menulis akuntansi syariah, dan papernya seingat saya dapat paper terbaik di SNA seminar nasional akuntansi.

    yah, kalau bicara teknis akuntansi, doi mungkin beda. secara spesialisasi di filosofi.

    saya juga kurang paham, apa benar beliaunya sekarang jadi staf pengajar di s3 akuntansi ub

  25. lho …lagi open koq rame….. bisa ditebak lho yah papabonbon = alumni UGM n Ausiie ya. diskusi ini harus jujur gak usah samaran. udah jamannyakan !
    kalau yang pinter bicara/ kritik tapi gak/males ngajar nggih sami mawon! gk ada kader , jangan kalah dengan PTS. thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s