The Amulet of Samarkand

Novel ini thrillernya Jonathan Stroud.  Di Indonesia baru diterjemahkan dua judul, the Amulet of Samarkand ini dan the Golem’s Eye.  Papabonbon dapat pinjem dari perpusnya koh Ong Bing di TP I lt LG.  Bing Cahyono ini penampilannya ndak ngawaki lho.  Tampang cool bersahabat, badan tinggi kurus, dengan wajah cling anak muda, kendati rambutnya sudah banyak beruban.  Benar benar tampang yang cocok sebagai siutjay andalan komunitas tjersil.  Dan dia benar benar cinta buku.

sumber dari : wikipedia

Di perpusnya tidak hanya bisa mendapatkan tjersil, tapi komik komik klasik Indonesia, dan novel novel berbobot terbaru sampai teenlit pun ada.  Surga buku yang menyejukkan.

Amulet Samarkand ini bisa jadi thriller karena beda positioningnya dengan Harry Potter.  Dan ini sangat menarik, karena dia mampu membuat differensiasi, dan itu semua diawali dengan ide yang kuat.  Imajinasi, sesuatu yang ternyata jarang kita miliki ketika kita belajar menulis.  Terus terang saja, papabonbon ngeblog kebanyakan berdasarkan informasi sekitar.  Jadi sedikit banyak unsur pribadi dan subyektifnya sangat berpengaruh. 

Jadi, apa sih yang “istimewa” ?

  1. Trilogi pak Stroud ini konon dibagi dalam berbagai sudut pandang.  Buku pertama dengan sudut pandang jin Bartimaeus, buku kedua dengan sudut pandang Kitty Jones, dan buku ketiga berganti ganti sudut pandang nathaniel si penyihir dan Kitty Jones, yang resistant – mereka yang secara alamiah lahir dan memiliki antibody terhadap sihir. 
  2. Trilogi ini, dengan Amulet Samarkand sebagai buku pertama membawa kita pada ide yang tegas, perbedaan antara penyihir, manusia biasa [commoners], dan manusia yang tidak terpengaruh sihir [resistant] berkelindan dalam sejarah hubungan manusia dengan jin, dan jatuh bangunnya peradaban.
  3. Baru buku pertama, papabonbon sudah jatuh cinta dengan dialog dialognya.  Bartimaeus diposisikan sebagai jin yang sok tahu, sok keren dan jenaka.  Bayangkan sosok jenaka yang berusaha jahat – dan gagal melakukan “hal hal jahat” ketika tiba waktunya 😀  Membuat kita pada posisi dialog dengan diri sendiri, akan pilihan pilihan moral yang kita lakukan setiap hari.  Ego kita, pengalaman kita, jalan hidup yg kita tempuh yang ternyata zappp begitu saja. 
  4. Berbeda dengan Rowling, Strout memberikan penekanan, garis tegas, bahwa kekuatan penyihir sebenarnya hanya berasal dari jin.  Dan dengan setting latar belakang yg menggabungkan jaman victoria akhir dengan latar modern, Stroud bisa berimprovisasi dengan menciptakan kelindan konflik yang mencengangkan.
  5. Konflik yang seperti apa ?  jika di Harry potter dunia sihir adalah dunia sana, maka dalam trilogi ini, dunia sihir sedang “menjajah” dunia manusia biasa.  Dan dunia lain, di buku ini, justru dunia para jin – yang justru baru diotak atik dan dijadikan klimaks dalam buku ketiga. 
  6. Ketegangan hubungan antar makhluk, dominasi penyihir, dan perlawanan manusia, serta pemberontakan jin justru menjadi inti cerita.  Agak berbeda dengan persoalan Harpot dengan Kreeacer dan Dobby – yang nampak menghalalkan perbudakan- dan makluk makluk yang dikuasainya yang tidak dituntaskan.  Dalam konflik ini, disetting para penyihir adalah kaum bangsawan yang mendominasi peradabaan saat itu dengan senjata rahasianya adalah : para jin.  Ketika para penyihir tidak mendominasi, maka mereka jatuh pamor, hanya menjadi tukang sulap dan pemain sirkus.  Jadi ini cerita tentang dominasi dan sifat sifat manusia.
  7. Ada pendewasaan karakter.  Dari Nathaniel kecil yang polos namun temperamental, tidak sabaran dan suka menentang bahaya, dan di buku kedua, menjelma menjadi Nathaniel dewasa yang hidup dengan rasa luka, bersalah, ketakutan, paranoid, dalam sosok birokrat pemerintah yang muram dan penuh intrik – khas penyihir saat itu, dan di buku ketika ketika dialektika antara Bartimaeus, Kitty Jones dan Nathaniel mengembalikan rasa kemanusiaan Nathanial menjadi pribadi yang percaya pada kesetaraan hubungan antara sesama makhluk Tuhan

Itulah hal hal yang menurut papabonbon menarik.  Oh ya, papabonbon menyelesaikan novel Amulet Samarkand hari ini, dan akan meminjam buku berikutnya Mata Golem di toko perpusnya Bing Cahyono.  See you there, untuk melihat perpus yang menggairahkan ini !

7 thoughts on “The Amulet of Samarkand

  1. Buku kedua bagus. Oh ya, jedanya 2 tahun. Jadi si Nathaniel sekarang berusia 14 tahun. Makin ambisus dan makin tegaan, makin tidak percaya bahwa kemungkinan apapun bisa terjadi. Kitty diceritakan asal usul keluarganya, juga asal usul resistance, dan bagaimana kelompok ini dimanfaatkan oleh penyihir pencoleng yg tidak terungkap. Seru melihat bagaimana keluarga Cheko yg awam melakukan balas dendam pada penyihir secara tidak langsung dengan caranya yang khas.

    Jadi inget pesan pakliknya spiderman, jadinya. In a great power, there is a great responsiblity.

    sayang buku ketiga lagi proses diterjemahin. terbitnya september 2007 ini, terjemahannya.

  2. buku2 bagus kayak gini biasanya mahal. hiks..hiks…mo bli buku LOTR aja nyarinya susah, begitu ada…MAHAL (utk ukuran kantongku ya…)!!! mo minjem, jrg yg punya. beruntungnya papabonbon punya teman yg bisa meminjamkan. Gratis pula. Andaikan aku di Sby…

  3. Wah, lord of the ring [seri lengkap] ada di perpusnya Ong bing juga ada lho. Psst, doi gak gratis. dia cuman ngebebasin uang jaminan. kalau sewa 1000 per hari mah jalan terus lah .. 😀

    btw, di jogja dan bandung bukannya ada perpus juga. di jkt malah lebih lengkap lagi. di perpus nasional atau perpus depdiknas [yg turunannya british council] itu pasti ada. belum lagi perpus komersial lainnya.

  4. Ping-balik: Antara Makhluk Jin dan Manusia « bum bum bum,parappapapap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s