Expat Kita Memang Sedang Bermasalah ! [I]

Masalah itu hal yang sangat wajar.  Dalam kondisi apapun kita akan ketemu masalah.  bahkan kita akankehilangan makna hidup jika kita merasa tidak menemui masalah yang harus digeluti.  Kalau mas Anjar bilang expat kita bermasalah maka itu adalah suatu keniscayaan.  Tinggal kita yang harus memindai, posisi masalahnya secara global seperti apa.  Dan bagaimana mengatasi masalahnya.  Selanjutnya perlu pula kita melebarkan pandangan apa saja tanjakan tanjakan masalah yang ada.

Papabonbon melihat ada beberapa layer permasalahan ketika kita bekerja dan hidup di luar sistem sosial kita [alias sedang berexpat ria].

  • masuk dunia kerja
  • kesesuaian antara pendidikan dengan pekerjaan
  • kemampuan mengekspresikan diri
  • problem pribadi dengan lingkungan sosial [penyakit generasi I]
  • bagaimana supaya menjadi bagian dari komunitas ? [penyakit generasi II]
  • mengatasi kecemburuan sosial [penyakit generasi III]
  • menjadi icon masyarakat

Orang Indonesia banyak yang baru belajar migrasi di luar negeri.  Jika sebelumnya didominasi pengalaman sosial berupa kerja musiman [musim tanam ngerjakan tanah sendiri, musim panen jadi buruh tani], dan ketika era industrialisasi ditandai dengan migrasi sirkuler [banyak yang bekerja di kota untuk beberapa tahun sebelum kembali ke desa].  Sejak abad 19 sebenarnya ini telah merubah wajah bangsa ini.  Orang Padang yang merantau ke jawa, banyak yang beranak pinak dan tidak kembali ke kampung halaman.  Juga banyak suku suku lain, Batak, Madura, Makasar.  Namun kebanyakan migrasinya di level nasional.  Tidak banyak yang menjadi migran di luar negeri.

Perubahan demografi dengan level di luar negeri sebenarnya pernah terjadi, di Ceylon, di Amerika Selatan [Paramaribo], namun karena sifatnya dipaksakan, tidak ada kelanjutan sejarah yang berarti.  Agak berbeda denan para hoakiau perantauan dari suku hakka dan theochew yang memang sengaja migrasi dari china daratan ke asia tenggara dan Amerika.  Atau orang orang India Selatan ke Afrika.  Atau orang orang Jepang sebelum perang dunia II ke benua Amerika.  Mereka migrasi dengan motif ekonomi atas dasar dorongan individual.

Sejak kemerdekaan baru bangsa kita belajar bermigrasi.  Dimulai dari para mantan KNIL dan keluarganya yang migrasi ke Belanda.  Lalu para pekerja di kapal pesiar dan perusahaan minyak yang belajar hidup berpindah pindah di luar negeri.  Sejak tahun 60an, ditandai peristiwa G 30 S dan konflik politik yang diakibatkan kebijakan poros jakarta beijing dan asas ius sanguinis, banyak suku tionghua peranakan di Indonesia yang migrasi ke luar negeri. 

Di jaman kontemporer, sejak IPTN bermasalah, mulai banyak engineer kita yang lari ke Jerman.  Sejak malaysia makin berkibar, para geologist kita mulai terbang ke malaysia, sementara generasi muda mulai diiming imingi via jalur pendidikan ke Singapore, dan Australia. Sejak peristiwa mei 98, banyak pula yang mencoba peruntungan migrasi ke Kanada dan Selandia Baru.  Di Darwin, australia juga banyak orang timor yang mencari suaka di sana akibat konflik. 

Nah, yang ingin papabonbon bahas adalah generasi muda kita yang berekspat ria via jalur pendidikan atau masuk via jalur pekerja tambang di perusahaan minyak atau pekerja IT di perusahaan yang makin mengglobal.  Alasannnya ?  Karena mereka merupakan representasi dari orang orang yang tidak lagi bicara nasionalisme dalam batas batas region suatu negara, dan mereka punya hasrat untuk kehidupan yang lebih baik.  Jadi motif terbesarnya adalah ekonomi.  Dunia bagi mereka adalah sebentuk desa kosmopolit yang bisa dijangkau.

Problem pertama mereka alami ketika memasuki dunia kerja.  Ini sharing dari alumni NTU dan NUS di Spore :

– perusahaan yg mature, butuh diskusi, masukan dan pemahaman dari karyawan,  dengan hubungan atasan bawahan yang bersifat humanis satu sama lain, dan bersifat perusahaan jasa atau konsultan biasanya cari orang orang yg bener bener jago bahasa inggrisnya dan bisa mengekspresikan maksudnya dengan pilihan bahasa dan diksi yg baik.  kalau mereka ambil pekerja ekspat, biasanya ambil orang india dan filipina, karena mereka sudah native.

– kalau tipikal perusahaan yg pabrik, vendor lapangan, dan bossnya tipikal suruh suruh anak buah dengan gaya militer, model pak turut – atasan bawahan, biasanya mereka mau saja rekrut orang indonesia lulusan spore.  karena iklim kerjanya memang bukan untuk mendiskusikan kerjaan secara detail dengan ekspresi ekspresi terhalus.

Menyedihkan, namun ini kenyataan.  Bahkan orang indonesia lulusan universitas di spore, yg notabene bahasa inggrisnya menurut kita juga sudah jago, sehingga bisa masuk dan kuliah di sana, hanya bisa menembus pasaran kerja di perusahaan perusahaan kelas dua.

Ini salah satu masalah dari ekspat yang orang Indonesia. [Poin lanjutan dibahas di thread selanjutnya].  Semoga terus rajin nulis, hueheheh 🙂

Iklan

5 thoughts on “Expat Kita Memang Sedang Bermasalah ! [I]

  1. biasanya cari orang orang yg bener bener jago bahasa inggrisnya dan bisa mengekspresikan maksudnya dengan pilihan bahasa dan diksi yg baik

    Oo, jadi ini inti permasalahannya. Kemampuan komunikasi yang terarah pada diplomasi. Kalau begitu sebenarnya strategi yang baik adalah pendekatan budaya. Saya cendrung membaca literatur atau menonton film untuk tujuan ini, ketimbang mengikuti kelas-kelas khusus. Saya pikir lebih efektif secara saya.

  2. kalo bahasa inggris yang dipermasalahkan, rasanya inggrisnya orang India juga sulit dipahami, meskipun mereka lebih kaya kosa kata dan lebih lancar menuturkannya.

    tapi pemilihan kata2 tidak selalu tepat kok, tergantung orangnya juga.

    logat Indianya juga membuat kita sulit memahami kata2 yang diucapkannya.

    alasan kenapa orang India lebih dipilih menurut saya karena di spore ras utama adalah china kemudian india baru yg terakhir melayu. Nah ras melayu ini dipandang ras lemah yg gk bisa apa2. karena orang Indonesia mirip orang melayu, para boss di sana udah punya stereotip terhadap kemampuan tenaga kerja dari Indonesia (dan jgn lupa para TKI/TKW kita yg dalam sisi negatif menguatkan kesan kalo orang Indonesia itu gk bisa apa2).

    kalo orang filipin setahu saya inggrisnya memang bagus, mudah ditangkap. Bahkan lebih bagus dari orang spore sendiri (yg singlish, jelek bgt tuh bahasa).

  3. menurut saya sih, bang, semua orang itu ada masalah. bukan expat doang kok. kalo udah ngga ada masalah di dunia ini, berarti orangnya dah mati. 😀

    terus kalo masalah basa inggris, sebenernya eloquency basa inggris itu bukan faktor utama. yang penting gimana attitude kita waktu meluncurkan kata-kata.

  4. Nah, yang ingin papabonbon bahas adalah generasi muda kita yang berekspat ria via jalur pendidikan atau masuk via jalur pekerja tambang di perusahaan minyak atau pekerja IT di perusahaan yang makin mengglobal. Alasannnya ? Karena mereka merupakan representasi dari orang orang yang tidak lagi bicara nasionalisme dalam batas batas region suatu negara, dan mereka punya hasrat untuk kehidupan yang lebih baik.”

    Bisa njelasin ga pap, kamsudnya apaan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s