Para Expert di Surabaya Undervalued

Dengan harga property seperti saat ini di Surabaya, namun dengan level penghasilan yang seringkali tidak mencapai 60 persennya Jakarta, maka keluhan untuk masalah undervalued dan tidak dihargainya skill, relatif jadi topik menarik.  Ujungnya rumput tetangga selalu lebih hijau.  Namun harga property jelas bukan masalah utama.  Yang jadi problem adalah, persaingan untuk naik ke jenjang lebih tinggi, pindah ke level piramidal, di surabaya ini, gesekannya lebih keras daripada Jakarta.  Lingkup bisnis yang lebih kecil, membuat pergesekan lebih rapat.  Pilihannya, stay or out.  kalau out, ada yang lebih menjanjikan ndak ?  Dududuh, pertanyaan klasik. 🙂

Dulu hari sekali, papabonbon sempat merasakan demikian sehingga memutuskan untuk pindah merantau ke tanah Betawi.  Dua hari yang lalu, papabonbon dihadapkan pada kata kata ini lagi oleh seorang teman, kopral jono, seorang Senior II divisi business assurancenya EY Surabaya.  2004 adalah hari terakhir gaji EY Surabaya disamakan dengan EY Jakarta.

 Kalau mau dibilang sih bener juga, dengan kemampuan dan pengalaman yang sama, di Jakarta, orang seperti dia biasanya sudah di level supervisor atau bahkan manajer. 

Kejutan yang sama kembali beredar ketika papabonbon ngobrol sambil kerja dengan mbak mbak telemarketing.  yang jadi TC – telemarketing coordinator ternyata jebolan administrasi niaga unitomo.  Dan sempat setahun membaktikan dirinya menjadi spg sebelum naik posisi sekarang ini di tahun ke dua.  Bahkan diapun adalah contoh yang  bagus dan sukses. 

Lebih miris kemarin.  Ada tiga spg yang sedang apply internal vacancy sebagai medical representatif.   Iseng tanya tanya pada salah satu pelamar, “dulu lulusan fateta, akzi, biologi, atau dimana ?” jawabnya, “Jurusan teknik industri, pak”.  PTN pulak.  Gimana papabonbon ndak nggeblak ?  😀  Yah, kenyataannya medrep di tempat papabonbon ini, gaji dan insentifnya kalau memenuhi target setara dua sampai tiga kalinya gaji pns sih memang.  Dan tidak banyak yang tahu peluang menarik ini.  Di sini ini, pilihan si mbak satu ini jadi sangat rasional. 

Cuma, jadinya papabonbon menarik napas panjang aja sih.

Iklan

2 thoughts on “Para Expert di Surabaya Undervalued

  1. Kayaknya saat ini tak ada pilih memilih pekerjaan deh…medrep menurut saya juga menarik. Saya ingat zaman dulu, para ortu menginginkan anaknya kalau nggak jadi dokter ya jadi insinyur(bahkan ayah nongkrongi saya saat test di kedokteran Unair, padahal saya takut mayat….untung IPB hanya mengirim lamaran per surat, tanpa test)….boro2 dibolehkan mengambil kuliah di ilmu sosial.

    Ternyata dalam kehidupan, dan pekerjaan, saya banyak belajar dari teman-teman yang dari latar belakang sosial, yang menurut saya rendah hati, komunikatif, siap menolong. Walau begitu, saat ketemu sesama teman alumni, mereka masih terheran-heran melihat saya nyasar di perbankan yang nota bene wilayah orang-orang ekonomi (rekan saya satu tingkat di atas dan di bawah saya masih setia pada jalurnya)…padahal saat ini perbankan bisa dimasuki latar belakang pendidikan manapun.

    O,iya soal penggajian….di perusahaan, ada istilah tunjangan kemahalan. Jadi memang ada wilayah-wilayah yang dari hasil survey menunjukkan biaya hidup lebih tinggi dibanding wilayah lainnya…seperti Surabaya, dianggap biaya hidup lebih murah dibanding Jakarta. Jadi kalau suatu ketika seseorang dipindahkan dari Jakarta ke Semarang atau ke Surabaya, gajinya lebih kecil, selisihnya karena tunjangan kemahalan tadi.

    Nahh ini yang perlu di survey papabonbon…alasan apa yang mendasari penggajian tersebut..kalau expert sih ditaruh dimana saja mestinya sama.

  2. 1. med-rep nya menarik bu, tapi yg jadi masalah [dan membuat papabonbon sangat curious], dgn kualifikasi S1 teknik Industri sebuah PTN, dia mau setahun terakhir ini bekerja sebagai SPG, dan statusnya pegawai kontrak. Dan yg bergelar S1 dan berprestasi sehingga mendapat kesempatan wawancara untuk naik tingkat dari SPG ke Med Rep ini ada tiga orang kemarin itu. Luar biasa.

    2. Ttg med-rep lagi, di beberapa persuahaan, rate buat med-rep memang menarik, di tempat papabonbon, 3 bulan saja sudah bisa ambil kredit motor – 60 persen dibiayai perusahaan, juga daat loan beli laptop yg 70 persennya dibayari perusahaan.

    3. Sisi lain medrep, kenyataan di lapangan, sebagian perusahaan menerapkan rate gaji yang mencekik leher, sementara kebalikannya, di lain tempat, justru bisa berlagak gaji jakarta, tinggal daerah juga lho [memang sangat tergantung industrinya si principal ini]. Seorang teman, Enade, anak farmasi ugm jogja, sekarang dosen UKSW, mengkonfirmasikan hal yg sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s