Jadi Expat Seperti Peneliti Sosial

Karena papabonbon belum pernah kerja expat, dan dalam hati besar keinginan berada dalam posisi seperti itu, tanpa sadar papabonbon suka mengamati para pakerja expat. Hobi ini muncul tiba tiba dan terjadinya di tempat kerja yang lama.

Sisi kulit luar

  • mereka adalah lapisan dewa.

  • semua yang mereka inginkan akan dilayani dan disiapkan oleh orang lokal dengan sebaik baiknya.

  • yang paling kerasa bikin gap adalah diskriminasi pola pelayanan orang IT antara ke ekspat dgn ke lokal

  • mereka dapat gaji dolar – minim 3000 usd tiap bulan

  • dapat apartemen mewah dan mobil sewa plus supir, gratis. dibayarin perusahaan

  • mereka yang paling getol menghabiskan jatah entertainment group

  • laporan expense mereka dibuat di sesi tersendiri di laporan keuangan, yg orang lokal yg manajer akunting sekalipun ndak bisa lihat detail-detailnya pengeluaran mereka

  • sekolah anak mereka di sekolah internasional yg taraifnya ribuan dolar per tahun dibayarin

  • fee main golf ditanggung prshaan

  • pulsa telepon dan internet ditanggung perusahaan

deeper insight

  • jiwa yang kelelahan , jauh dari keluarga, cari pelampiasan ala anak muda [seks, minuman keras, artificial modern life style kadang jadi jebakan paling gampang terjadi

  • banyak lho ternyata generasi mudanya yg ndak mau minum minuman keras, tapi di Indonesia ini, karena pergaulan dengan sesama kalangan kroya [dan bahkan karena situasi bisnis dan gaya entertainment di indonesia], seringkali banyak juga yg harus bersoju ria kembali demi pergaulan

  • beberapa yang punya bakal melt in dengan orang lokal, pendekatannya pun [yg dilakukan para expat pencilan ini]sangat luar biasa, makan nasi goreng pinggir jalan barengan, panas panas di tengah hari bolong cari ketupat sayur dan rujak barengan. contoh gampangannya kayak ms. kim yang cantik dan idola semua orang ms kim ini sekarang malah berekspat ria di India [bayangkan, India boks!] dan kawindengan orang Indonesia.

  • Lee jangkung sampai malam malam suka rokokan bareng, makan nasi padang kelas 5 ribuan ama kita kita, makan sambel pecel lele yang biasanya suka bikin perut orang luar negeri sakit dgn santainya – dia vendor logistics lagi sama sama ngurusin closing sales akhir bulan, menguasai bahasa Indoensia sampai level yang sangat ekstrim lancarnya dengan cara belajar sendiri bahasa indonesia hanya dgn sering ngobrol dan ngumpul bareng bareng kita selama 1 tahun, dan voila, dia jadi native.

  • royalis, setia kawan, selalu datang menjenuk kalau ada yang sakit, selalu hadir di acara kawinan anak buah yang orang lokal. sering ngajak acara outing bareng.

obrolan sara

  • Kurang jujur, kalau tidak bicara blak blakan. Kenapa orang kroya ndak identik dengan kristenisasi ? Padahal kaum mudanya banyak yg ternyata pengikut gereja bethani, alias aliran kemakmuran yang di Indonesia sering dijadikan sasaran tembak kaum fundies dengan sebutan “Gereja yang pengikut lokalnya sering terlihat agresif dalam berdakwah” ?.
  • Yah, soalnya mereka banyak yang atheis – konghucuis. Dan kalaupun generasi mudanya sedang dekat dgn kristen, namun posisi mereka ketika sedang berekspat ria ini membuat pretensinya hanyalah inner kalangan mereka, bukan untuk disebarkan dengan semangat misi ke luar kalangan.
  • Cara berpikir dan tuntutan mereka akan berbeda dgn orang Indonesia yang sedang di luar negeri, Entah bagaimana awalnya, orang Indonesia yang sedang di luar negeri [baik kuliah maupun kerja ekspat] banyak yang justu meluap luap semangat dakwahnya ke kalangan eksternal. Pantas saja banyak yg merasa “terusik”.
  • Bisa terlihat dengan banyaknya upaya mempertahankan eksistensi komunitas Indonesia dengan acara yang agak eksklusif, bahkan melibatkan aliran agama partai tertentu yang berbasis keagamaan. Nuansa di dunia maya, yang melibatkan orang Indonesia di luar negeri sangat sangat terasa. Sebut saja PPI Jepang, PPI Belanda, PPI ANZ, PPI Jerman dan lain lain.
Iklan

7 thoughts on “Jadi Expat Seperti Peneliti Sosial

  1. Hal yang patut ditiru dari expat;
    – kerja keras
    – selalu well prepared
    – rendah hati…lha iya, harus senyum walau dimaki-maki dan diomelin (maklum mereka di kontrak jangka waktu tertentu dengan gaji tinggi, sehingga pekerja menginginkan mereka selalu bisa memberikan solusi)
    – pandai dalam melakukan presentasi, laporan (report writing), juga komunikasi dengan sesama
    – Umumnya royal membagi ilmu….karena mereka juga menginginkan kita sharing

    Jadi sebetulnya adanya expat harus dimanfaatkan untuk sharing pengetahuan, transfer of knowledge….saya sendiri jadi lebih paham, bahwa accounting tak sekedar pembukuan, tapi bagaimana strategi akuntansi dan manajemen keuangan…agar mencapai sasaran perusahaan. Apalagi untuk perusahaan go public, hal ini sanagat diperlukan.

  2. kalau masalah skill, di tempat papabonbon dulu malah sebaliknya. mereka yg belajar dari orang lokal. kelebihan hanya di kemampuan komunikasi dalam dialek kroya dan kemampuan menjadi informasi terbatas di lingkongan kroya saja. ujungnya orang lokal selama sekitar 6 bulan hanya pusing ngurusin dan ngajarin mereka saja.

    alamak, tiap 5 tahun, harus ada bos kroya baru. untuk orang akunting/finance dan corporate planning, plus produksi, purchasing [bagaimana bagi bagi duit tip ke kalangan meeka sendiri dan bagaimana duit perusahaan bisa berputr dengan cara menghidupkan perusahaan vendor dari kalangan merka] dan QA, insight yang diberikan mbak Edratna benar sekali adanya. Tapi buat bagian lain, signifikansi kehadiran mereka sangat perlu dipertanyakan.

  3. Papabonbon ini sebenarnya punya peluang besar jadi expat dan bahkan jadi pemimpin negara. Apalagi dulunya Papabonbon ini bersekolah di bilangan Lembah Tidar sana yang dibuat untuk mencetak calon-calon pemimpin bangsa.

    Visi sekolah Papabonbon itu akan menemui kebenarannya jika Papabonbon mau jadi expat di Uganda dan rakyat Uganda akan terkeseima dengan kembalinya IDI AMIN DADA. Abis, Papabonbon mirip banget sama doi hueheheh. 🙂

  4. cuman kurang item yah … 🙂 idi amin ini musuhnya orang india [dia ngusir orang india dari uganda – posisi orang india di afrika mirip seperti orang hakka/suku tionghua di indonesia, emnguasai perekonomian]. Dari para pengungsi India yg terlunta lunta ini, lahirlah generasi muda pemberontak seperti …. sapa tuh yg dari kanada, muslim lesbian keturunan india yg nulis buku : “what’s wrong with Islam ?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s