Bicara Surabaya

Ya, inilah dia debut pertama dengan email baru. Laporan info dari kota Buaya.

Sudah seminggu tinggal di sini dan masih excited dengan kota Surabaya. Masih ngapalin jalan dan kadang, sering juga kalau pagi atau sore hari, tatkala berangkat dan pulang kerja, masih suka bablas kelewatan jalan ketika mencoba rute rute baru. Lucu juga, karena menemukan rute perjalanan baru, sekaligus juga menemukan tempat makan enak yang masuk dalam daftar incaran. Surabaya masih panas dan kumuh, bagi mereka yang tidak suka tempat ramai, panas, dan bau. Tapi bagi orang yg 6 tahun lalu pertama kali kerja di SBY sejak lulus, dan waktu itu masih polos dan lugu, kota ini punya arti dan pemaknaan yang berbeda.

Sekilas pandang memasuki wilayah Surabaya, kota ini makin penuh mall. City of Tomorrow di samping BNI sedang dibangun. Gedung BNI yg dulu selalu sorangan wae ini, tempat yg selalu dilewati dalam perjalanan bus Surabaya – Malang, dulunya gagah perkasa sekaligus berkesan muram dan sendirian. Namun itu dulu, karena tiba tiba dia berubah. Jadi kecil mungil disamping mall yg sedang di bangun. Kalau mau main ke daerah Ketintang, lihat lihat sekolah bapak dan ibu guru, IKIP Surabaya d.h Unesa, kita harus melewati kemegahan Royal Plaza. Bahkan kalau mau terus berjalan ke arah Waru, terlihat Maspion pun menggaet Giant, mereka punya mallnya sendiri :P. Arah ke kantor, menuju ke Tugu Pahlawan, kita juga akan bertemu dengan BG Junction, alias Carrefour. Bahkan pasar Keputran pun dirombak, ada pedestrian, tempat orang jalan kaki bisa merasakan hawa Surabaya kota lama. Gak cuma pasar Wonokromo yg dirombak jadi DTS, perubahan mendadak ala pasar tanah abang yg jadi ruko mentereng itu.

Heits, Duh, bosan juga yah, kalau melisting perubahan dengan sederetan nama mall baru itu. Entah kenapa Surabaya yang bersolek dengan pemeo Sparkling Surabaya itu, kadang membuat jenuh jiwa kalau hanya diceritakan dengan standar jumlah mall dan toserba.

Yaaaa, Surabaya tentu bukan hanya deretan mall, dan tidak sekedar menjadi pelarian orang orang yang memindahkan asetnya dari ancaman marabahaya Lapindo Sidoarjo, kalah oleh alam dan memutuskan kembali ke tengah kota dan kesumpekan Surabaya. Di Kota buaya ini, komunitasnya juga digarap kok. Selain speedy yg jug makin murah di SBY, 3 G yang juga merambah Surabaya lewat telkomsel dan proXl, aku yg masih suka cari tempat buat internetan gratis juga dipaksa ketemu wireless hotspot di SBY. Taman Bungkul. Aku dulu Cuma ingat kalau di sana ada pecel yang enak. Reccomended !! gitu deh judulnya. Taman itu dulu cuma ruang terbuka, rumput acak acakan, dengan mainan khas anak tk yg sudah kadaluwarsa, berkarat dan nampak tidak menarik. Sekarang berubah, tempat itu senantiasa hidup bahkan sampai jam 2 malam. Bersih, rapi, modern, model model kayak taman bermain buat warga di luar negeri. Asli gak malu maluin tempatnya. Oleh telkom dipasangin hot spot, ‘GRATIS’ yah model model starbuck atau bandara, atau hotspot wireless di plaza Semanggi gitulah. Jadi sampai jam 2 malam masih ada aja orang kongkow kongkow sambil bawa laptop, sambil makan bakso atau lontong balap. Yg abg juga menggunakan ruang terbuka buat skate board ama breakdance. Beberapa mall juga sudah setting wireless di mana mana. Menarik juga sih. Ketika tinggal di Bekasi, menjangkau hal hal begini kok serasa susah banget yah … Ada yang salah ? huehehehe

Yang pasti di Tunjungan Plasa berhasil ketemu dengan toko bukunya komunitas tjersil – cerita silat [Lokasi di Tp1, lantai LG, dekat BII]. Setelah bolak balik lirak lirik [termasuk melirik mbak mbak yang jaga toko yang manis manis danimut punya], buka buka kiri kanan, beli dengan rela, Pendekar Riang. Buku tjersil setebal kamus yang dicetak ulang, terjemahan Tjan I.D. Lucu ketika ketemu Ong Bing alias Bing Tjahyono, teman milis dan hanya kenal lewat sms-an ketika pesan buku jarak jauh, motor komunitas tjersil di Sby ternyata masih nampak muda [kalau ngaku masih dibawah 25 pasti pada percaya, meskipun aslinya kelahiran 69], tampang klimis, simpatik, kacamataan, tinggi kurus dan kolektor buku sejati.

Akhirnya kompienya datang juga … meskipun awalnya back to CRT monitor old ages, mana kagak flat lagi hayah ! … [kalau dikasih LCD takut dibawa pulang kali huahahahhahaha]. Akhirnya bisa juga switch ke LCD. Moga moga bisa terus …. 😛 Ruangan baru pindahan pagi ini, dari sebelumnya nebeng di ruangan boss consumer team, soale ruangan lantai tiga masih di re-lay out. Masih nunggu meja, kursi, dan telpon juga, sampai minggu depan.

Buat yg suka makanan enak, seafood, bebek goreng dan baksonya Surabaya emang top markotopb deh .. 😛 [terakhir malam kemarin baru makan bebek goreng Kranggan yang maknyuss punya]. Yang gak nguatin, Suroboyo itu memang kehidupan malamnya 24 jam. Orang sini kayak orang jogja, karena udara lumayan panas, jadi kalo malam banyak yg cari nyamikan dan makan makan di warung warung pinggir jalan. Yang kayak warung hik di Jogja, juga ada di semua sudut kota buaya. Ndak ada matinyee begetooo …. Jum’at malam kemarin ketemu ama temen sma yang satu angkatan, yang kebetulan baru 5 tahun kerja di di Surabaya. Yg satu kerjaannya jadi marketing di supplier batubara, satu lagi pak dokter yang lagi ngambil spesialis. Seru juga, secara yang pak dokter ini temen main juga waktu di malang, dan ampir tiap hari mampir ke kostan dia. Wapo unair tempatnya makin asik dan cozy, meskipun kita jam 10 malam udah diusir gitu .. 😀 hwahahahaha.

Kesimpulan, harga makanan di Sby ini sangat bervariasi, dari yg mahal kelas resto para ningrat sampai kelas anak kost kostan. Jadi relative lebih terjangkau, asal ngerti tempatnya ajah. Dampak dari murah, yah, wajah Surabaya lebih kumuh dari Jakarta. Abis orang dagang ada di tiap sudut jalan, dan sepertinya mereka pada rela menunggui jalanan dan kedainya dari pagi sampai malam dan dari malam sampai pagi lagi. Timbal balik lah ya dengan penampilan kotanya… 😀 Ada daerahyang duah sparkling, dan sebagian lagi ya masih kumut kumut.

sabtu minggu kemarin liat liat lokasi di Sby. Wih, tanya tanya info sama temen, rumah petak paling murah 2.5 jt [di dekat unair]. Terus rumah petak di lokasi yg agak lumayan [karah agung, kebonsari, dan jambangan –> 4.5 jt, dan di tempat rame, manyar –> udah 6 juta]. Itu rumah petak lho, dan aku jelas jelas gak nyari itu … 😛

Pegimana dengan kontrak rumah ? Di daerah ketintang, untuk rumah yang lokasinya enak dan bener bener rumah, [dekat unesa, termasuk juga karah, kebonsari dan jambangan] udah 17 jt, manyar dan Jemur udah 12 jt. jadi gak jauh beda tuh ama harga jakarta. :D. Hopeless buat cari kontrakan di Surabaya. :D. Sabtu besoknya libur, jadi kita survey survey rumah ke sekitaran wage, gunung sari, kebraon. Sekalian nginep di teman SMA yang jadi tentara di Gedangan.

Bener gak nampang, meski jebolan S2 Australia, dia udah balik berpenampilan tentara abis dengan keterbatasan seorang tentara. Waktu banyak, tapi abis buat apel, apel, apel, trus tennis, lari, gitu gitu deh. Dengan kesempatan buat berpikir bebas dan aktualisasi diri yang otomatis rada rada susah, gitulah. Dia lagi bangga, sukses nyelenggarain acara turnamen sepakbola antar kampong di sidoarjo [Turnamen memperebutkan Piala Komandan Arhanud], bisa ngerancang acara yg sukses dapat sponsor beberapa perusahaan, bikin anak buahnya bungah dan bangga karena dapat kaos sponsor dan minuman gratis. Jadi history, karena secara jaman dulu, kalau tentara bikin acara gituan, caranya ngasal banget.

Ujung ujungnya, kayaknya bakalan nyari kontrakan daerah sidoarjo sekitaran aloha. yg pinggir jalan dan perumahan yang rada keren seperti Puri Surya Jaya, harganya sama saja bikin mabok. Yah, masih main di 10-17 gitu deh wakakakakak … meski kalau di jkt, untuk kondisi yang sama mungkin sudah 30 jt di tebet. Yah, ujung ujungnya cari yang rada masuk ke dalam. Sekitaran Taman Aloha atau Taman Pondok Jati infonya antara 5 -6 juta, tipe 45 dengan kondisi mirip daerah Ketintang yg diidamkan itu [ada halaman, udah banyak pohon, lokasi aman dan sangat teratur], dan yg pilih perumahan dengan kelas second tier atau third tiernya bisa 3-4 juta. kalau di kampungnya bisa dapat 1-2 juta. [yang agak aneh baru saja mendapat sms dari teman yang pakkapten itu katanya : “di Perumahan Puri ada empat rumah yang dikontrakkan seharga sekitar lima – enam juta rupiah setahun. Typenya 36 atau 45. Kalau kamu mau ngecek, silakan”. wah, ini kejutan yang menyenangkan. Hebat juga relasinya babe satu ini. 😀

Kemarin berhasil ngumpulin sekitr 10-an alamat di Taman Pondok Jati dan Pondok Aloha. Kayaknya besok besok bakalan mengarahkan pencarian alamat lebih banyak di sekitar Kebraon dan Gunung Sari. Lumayan nanti, buat bahan survey bareng istri bulan depan. Cocok cocokan tempat dan lokasi, biar istri yg jadi decision maker. Kan si doi yang nantinya akan tinggal di rumah dalam waktu yang lebih panjang.

Kesimpulan lihat lihat dan ambil brosur di Expo perumahan di mall maspion, harga properti sudah ngamuk seperti Jakarta. Dari Sidoarjo banyak yang memarkir uangnya ke properti di Surabaya nampaknya, karena harga tanah dan rumah di Sidoarjo justru stagnan. Jelas jelas, yang beli properti mahal di Sidoarjo dalam posisi kebingungan. Mau jual, harga kok undervalued. Hueheheh So far, aku sendiri sampai dua tahun ke depan bakalan menikmati jadi kontraktor dulu di Sidoarjo. Kontraktor : orang yg ngontrak ngontrak … >_<

So far so good di sini. Menyenangkan. Apalagi tingkat harganya [kecuali property] lebih menyenangkan dibanding Jakarta huehehhehe [Yang orang Jakarta silaken protes :P]

Iklan

14 thoughts on “Bicara Surabaya

  1. wifinya itu lho oom … ? btw, ini lagi ngomongin ama tmen, bisnisan makanan thailand model tom yam kung kayaknya asik juga, dan kena dilidahnya orang jawa timur.

  2. Wahh…seneng baca ceritanya…ingat jaman masih baru-baru kerja, jobtraining di Sidoarjo selama setahun…tiap Minggu keluyuran ke Surabaya (maklum bemo Sby-Sda cuma Rp.50,-)…dan sering nonton Srimulat di THR (sekarang udah bubar ya)…makan tahu petis dipinggir jalan.

    Kalau ke Sby seringnya temen2 ngajak makan di Ria…dulu yang terkenal Handayani…padahal banyak juga makanan lain yang enak. Bagaimana dengan daerah Kembang Jepun? Kalau malam kayaknya makan di situ asyik.

  3. rumah makan Ria masih top markotopb kok bu. Ini restoran memang lumayan rapi, bersih dan berkelas. Pakde saya yg orang PDFCI yg sering ke sana. Kebetulan lokasinya dekat kantor lama saya di Deloitte. sama sama di jalan Kombes M Duryat. Dekat dekat basuki Rachmat, beberapa ratus meter setelah Hyatt.

  4. Ada rumah T45 /LT 128 pagar keliling, kamar 2,kamar mandi 1
    dikontrakkan per tgl 5 Juli 2007 ( sekarang masih dikontrak orang)
    minimum 2 tahun . Biaya kontrak Rp 4 juta/th.

    Atau kalau ada yang beli silahkan hub 08161444487 , 0251 7539174 atau 031 7661175
    Budy S

  5. setahu papabonbon, badak bercula satu kandangnya dikelilingi kolam/parit yg cukup dalam … 🙂 tapi gak ada pagar kelilingnya. ted, kok dari Lipi bisa ngenet cepet. bukannya biasanya lambreta di sono. antum lagi di mana nih ?

  6. permisi numpang iklan mas…rumah saya juga ada hasrat saya jual dgn spec:
    T36 belakang renov cor siap tingkat ,depan pagar keliling,tlp ada,sumur bor,
    dekat jalan raya sidoarjo-sby (dari jalan raya sidoarjo- surabaya masuk kebarat sekitar 100m aza )dekat dgn station komuter sidoarjo-surabaya, harga penawaran 80jt.
    serius hub: via email or 08123065993

  7. ikut nimbrung, rumahku direwwin kondisi renovasi tinggal finishing. 2 lt pojok di perumahan rewwin- sidoarjo, strategis, bandara-bungurasih- sby- + ada garasi, bebas banjir, aman, lingkungan ramah dan tenang, tak jual murah 400jt, kalau kontrak 10 jt/thn, 25 jt/ 3thn jika berminat hubungi 031-8533112 terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s