Orang Pabrik Lebih Demokratis

Titipan pertanyaan dari seorang teman.

@papabonbon: bisa tolong mengurai agak panjang (panjang banget jg gpp ^^) soal ini: “orang pabrik biasanya kulturnya lebih demokratis dibandingkan orang di sektor jasa”? atau mas pri? (ya, saya “mesan” postingan soal itu kalau tak keberatan). terima kasih

Sektor jasa : bank, keuangan, audit, konsultan, training centre, vendor pengalur tenaga kerja

  1. Kulturnya atasan bawahan, senior junior
  2. Pemilik bisnis hanya beberapa orang, perusahaan modelnya firma, atau bahkan milik pribadi [audit dan konsultan]
  3. Tidak punya spsi / serikat pekerja
  4. Gaji tidak ada standar jelas
  5. Jenjang karir tidak diukur melalui penghitungan performance yg jelas
  6. HRD tidak berperan banyak dalam masalah training dan benefit [apalagi di audit dan konsultan].  Banyak yg system jaminan kesehatannya tidak jelas [manajer ke atas baru bisa menarik nafas lega]
  7. Pengalaman selama jadi auditor jaman jebot : bikin koreksi di laporan keuangan bank tuh sama aja impossible, klien akan fight mati matian [klien takut kena warning BI juga sih, dan situasi ini berakibat mereka dah pinter nyembunyiin data dan fakta].  Selain itu, kasus di lembaga keuangan biasanya melibatkan jumlah uang yang besar.  jadi informasinya sangat sensitif.
  8. Orang di sektor jasa, dituntut berpenampilan chick dan menarik, kadang biaya untuk penampilan sangat signifikan lho.  Gaya hidup ini juga membuat beberapa orang jadi terbawa bawa jadi agak kemaruk dan somse.

Sektor manufaktur : mnc company atau BUMN hasil pemecahan dari induknya, yg usianya masih muda

  1. Pemilik orang asing, sehingga semua orang local adalah sesama buruh
  2. Untuk BUMN, pemilik adalah Negara, jadi semua pekerja hanya abdi negara
  3. Kulturnya setara, karena usia masih sama sama antara 20-35
  4. Punya spsi yg sedikit banyak memperjuangkan standar mutu kehidupan tertentu dan transparansi dalam remunerasi dan pengambilan kebijakan dalam perusahaan di pabrik, semua orang tahu gajinya satu sama lain [tahu dengan berbagai cara]
  5. Kadang jenjang karir juga gak jelas sih, like and dislike terasa, tapi semua sama sama tahu, kalo orangnya bagus, masih dapat anginlah , urusan sara tidak mengemuka dan tidak relevan … [kecuali pabrik milik etnis tertentu yg terkadang di setting dgn cara tertentu].  Kalau mnc rata rata sudah mempelajari budaya lokal via multicultural management sebelum berangkat berekspat ria ke Indonesia
  6. Rata rata pabrik yg sudah stabil, system jaminan via asuransi kesehatannya jelas [kebutuhan minimal terpenuhi]
  7. Pengalaman dan pengamatan secara tidak mendalam : orang pabrik lebih terbuka menceritakan masalah di tempatnya, berharap auditor atau eksternal membantu menciptakan perubahan menjadi lebih baik lewat temuan yang ada.  namun hal ini tidak berlaku untuk highly regulated industry.  semacam makanan yg mendapat sertifikasi halal, farmasi, rokok, makanan bayi, isu etika akan menjadi isu yang sangat sensitif.
  8. Penampilan orang pabrik apa adanya.  Cukup dengan kaos dengan krah dan lengan pendek.  kemana mana naik motor.  penampilan sederhana dan bersahaya, yang penting kan dompetnya tebal.  huehehehe 😀  jadi masalah, karena standar orang pabrik ke lawan jenis juga jadinya menurun drastis … 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s