Singkarak Bagaikan Lautan

singkarak bagai lautan
lepaskan biduk pandangan

lihatlah warna hijau
dan biru

dan gadis penjual ikan bilis
kemasan kecil harga bikin hati miris

dan gang gang nelayan pendatang
rumah sempit tak beraturan

ku tersadar hatiku menderu
mengetuk hati terasa pilu

masuk lokasi dipalak pengemis
berhenti pun, dikutip pak kumis

Padang, Padang, Ondeeeee … Ondeeeeee …

Sumatera Barat memang bagus banget pemandangannya, sayang sadar pariwisatanya kadang masih nanggung. Terutama di kalangan pendatang, dari daerah pelosok pelosok nun jauh di sana yang ingin ikut mengais rejeki. Ujungnya adalah, tata kota yang belum ada ditambah gaduhnya kesemrawutan. Untung saja penduduk Sumatera Barat sedikit, kalau dibuat dalam skala masif, mungkin ndak jauh beda dengan carut marutnya Jakarta.

Aku sendiri mengagumi pantai pantai di Padang. Rata rata indah dan asik punya. Kalau boleh saran, jika ada waktu mainlah ke pulau Sikuai dan pulau Cubadak. Berikut ini coretan kecil papabonbon setelah paginya memandangi lautan luas dibelakang hotel Pangeran,

sambil tepekur, kulihat laut,
dan note kecil dan tinta di lautan
memanggilku dalam lamunan ombak,
subhanalLah pantai indah nian

Iklan

8 thoughts on “Singkarak Bagaikan Lautan

  1. Memang Minangkabau indah sekali, layak direkomendasikan untuk bulan madu. Jarak antara daerah wisata satu dan lainnya juga tak terlalu jauh, makanannya enak…sayangnya pedas banget.

  2. Bukannya kurang sadar pariwisata bang, tapi serba salah sih kayanya. Dulu maninjau sempat rame ma turis dari luar, tapi trus masyarakat sekitar nolak coz gak cucok ma budaya nya. Makanya di “Air Tenang Menghanyutkan” ab cuma nemu turis lokal..whekeke…

  3. coba bandingkan ama sikap orang Palau di bawah ini deh. menurut Cece gimana ….

    http://naked-traveler.blogspot.com/2006/09/susah-selingkuh-di-palau.html

    kutipan yang agak menarik, dikaitkan profesi dan duit dari turisme adalah di baah ini, eniwei, ada banyak sisi lain dalam artikel itu, lebih baik diresapi dulu semuanya.

    Penghasilan Palau hanya dari turisme, mereka tidak mengekspor atau menghasilkan apapun. Jembatan, jalan, museum, semuanya dibangun dari grant negara asing. Sepertinya orang Palau malas-malas. Mereka yang punya tanah dan property disewakan ke para pendatang jadi setiap bulan mereka tinggal nagih duit sewa, sehari-hari mereka leyeh-leyeh aja. Kalaupun ada yang bekerja, kebanyakan pekerjaan mereka adalah jenis ‘kerah biru’seperti tukang kapal dan kasir supermarket, selain kerja di pemerintahan dan jadi polisi. Meskipun demikian, semua orang punya mobil dan semua rumah ber-AC, GDP mereka saja 5800 $ (Indonesia 900$).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s