Tidak Ada Tempat Bagi Demokrasi [di hati penggemar wayang]

Di banyak negara Asia, demokrasi tidak jalan.  Macet total, dan institusinya jadi sarang korupsi.  Sebut saja DPR, yang seharusnya mewakili rakyat jelata, justru jadi perompak dan pembegal.  Ini yang sekilas yang akan anda tangkap ketika membaca uneg uneg rekan kita, den mas Kombor dan kang mas Tadjib yang tercinta.

Lha, ndilalah, justru Papabonbon kira justru hal ini wajar. Kejadian ini, umum, dan jamak terjadi. Di banyak negara asia, dan afrika, hal ini sudah ditengarai berkali kali. Terutama terjadi di negara yang sistem sosialnya otoriter, dengan sendirinya, tanpa diharapkan atau diajarkan di sekolah, hal ini akan sangat mudah terjadi.

Foto ini diambil dari site : http://abc.net.au/rn/deakin/pics/anderson.jpg 

Sejak beberapa hari yang lalu, papabonbon membaca buku hadiah jeng H, teman di milis wm. Buku menarik dari pengarang yang juga menarik. Judulnya “Mitologi dan Toleransi Orang Jawa”, pengarangnya Benedict R. Anderson. Buku ini tidak aneh, dan apa yang diutarakan oleh bung Benedict ini juga sesuatu yang kita ketahui secara bawah sadar. Bahwasanya,

  • Orang jawa secara tradisi lama, diajarkan tentang beragam kepribadian dalam wayang. Dari masing masing tokoh wayang, menjadi representasi suatu nilai diri. Dan seringkali, kita mencari idola kita, dalam tokoh tokoh wayang ini.  Perlu diingat, bahwa oom Benedict juga sudah wanti wanti, bercerita bahwa tradisi lama ini sudah bergeser pola pewarisan dan pemaknaannya.
  • Pengenalan etika dengan sistem wayang ini ternyata ada implikasi dalam filsafat etika orang jawa. Bung Anderson memberikan kita insight bahwa dalam kosmologi orang jawa, ada sistem nilai yang berbeda untuk tiap kelas masyarakat. Filsafat etika orang jawa bersifat fungsional. Tidak seketat orang India, karena di negeri kita yang ramai dan beraneka warna ini, orang dengan mudah melakukan migrasi sosial, dari satu peran dan fungsi di masyarakat ke strata sosial yang lain. Pelanggaran nilai ideal yang dipegang dalam kelompok fungsional tertentu ini, dianggap sebagai “tidak pantes”. Dalam dunia nyata, kaum ksatria yang mencuri uang negara[korupsi] untuk kepentingan pribadi, akan dilihat sebagai perilaku yang tidak pantas.
  • Dalam tokoh tokoh wayang, juga terdapat tokoh tokoh dari masing masing kelas, dengan sifat sifat protagonis dan antagonisnya. Filsafat fungsional dan beragamnya karakter dan role model dalam kosmologi wayang ini, membuat orang jawa menyadari akan pluralisme karakter dan pandangan, dan dari sanalah lahir pandangan orang jawa akan sesuatu tatanan yang dianggap harmonis.

Foto cover diambil dari web – http://www.ekuator.web.id/coverbesar/b-mitologi_dan_toleransi_orang_jawa.jpg

Contoh beragamnya karakter dalam wayang misalnya :

  • tokoh Sembadra dan Srikandi. yang satu model gadis lugu, putri lemah gemulai, anak rumahan,  sementara yang lainnya, wanita koleris, pekerja kras, tomboy, yg nyaman dengan gaya bersikap asertif, tegas, ceplas ceplos, uptown girl. 🙂  mengingatkan saya pada jeng Eci. 🙂
  • tokoh Gunawan Wibisana dan Kumbakarna. yang satu memegang prinsip superhuman [yg diletakkan diatas wilayah negara, contohnya dalam dunia nyata, seperti penganut paham humanisme, Islam, penganut Kristen garis keras, de el el], sementara tokoh yang satunya, mengambil sikap berpihak pada nasionalisme ketat, gaya Churcill dengan “Right or wrong, my country”.
  • tokoh Kresna dan Durna. Mereka berdua, adalah tokoh sakti dari masing masing pihak pandawa dan kurawa. Kresna itu raja bijak dari sebuah kerajaan kecil, Dwarawati [pak kepala desa kalo jaman sekarang], dan Durna adalah seorang begawan, seorang guru besar, ahli dibidang rohani, seni dan militer.

Tokoh Kresna adalah pengejahwantahan para dewa, Kuasa besar pemelihara Alam, titisan Wisnu. Tokoh kresna sering bersikap seperti nabi Kidhir a.s dan sering memposisikan dirinya dalam aktivitas machiavelian. Membuat Pandawa bisa mengambil keputusan menghabisi semar demi mengakhir paceklik dunia [diakhir kisah Mahabarata], membuat Arjuna dalam kontemplasinya dituntun untuk mengambil nilai nilai filsafat legalisme gaya Chin Shi Huang Ti [bhagawadgita] dan hasilnya adalah Arjuna mengambil keputusan menghabisi saudara sedarahnya sendiri [Kurawa], di sisi lain, bersinis ria, hingga membuat Bima yang kasar dan sedang memancarkan sifat sifat raksasanya harus menelaah lagi dirinya kembali sebagai bagian kecil semesta [lakon dewaruci].

Di saat yang sama, tokoh Durna adalah begawan sakti, satu satunya manusia yang mampu menikah dengan makhluk gaib, bidadari, dan menjadi guru bagi kedua pihak, pandawa dan kurawa. Kekuatan besar, yang tidak bisa lepas dari keduniaan, contoh bagi mereka yang berada dalam jalan penyucian, dan bisa tersandung kerikil kecil kehidupan dengan tiba tiba.

  • pihak Pandawa dan Kurawa. Pihak yang satu memegang ketat nilai nilai kasta ksatria, sementara yang lain merupakan representasi, bagaimana dunia menjadi bergejolak, ketika nilai nilai ksatria diombang-ombingkan oleh anasir anasirnya.
  • tokoh Semar dan Petruk. Semar adalah punakawan, orang biasa, di mana kebijaksaan semesta, jiwa buana terepresentasikan dalam dirinya. Sementara Petruk, yang dkondisikan sebagai anaknya, namun dalam banyak sifat sifat antagonis, tampil asal asalan, elek elekan, oportunistis, harus diikat dalam aturan dan disiplin untuk membuat segala sesuatu berjalan sesuai tatanan.

Yah, tulisan ini dibuat untuk memperingati kawan saya, yang bertekad akan korupsi jika anak anaknya suatu saat nanti ingin sekolah ambil S2 di Amerika. Kosmologi rekan saya ini memang beda dengan kosmologi Jawa.

Kata teman saya [edited version] : “Tuhan Maha Kasih. Dia tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan seorang hamba. Dia tahu, bahwa umatnya melakukan sesuatu yang tidak benar, karena terpaksa”.

Kembali ke Laptop,
Beda kosmologi, memang bisa beda kesimpulan, tapi
Beda kosmologi, bisa jadi sama sama korupsi 😀

Oh ya, tidak lupa, di dunia wayang tidak ada role model demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Setting sosialnya memang demikian, jadi kalau orang Jawa yang pertama tama mempertontonkan kaum ksatria alias birokrat yang korupsi, ya begitulah adanya. Dan kalau para punakawan [yang tiba tiba jadi anggota DPR atau dulu di jaman soviet jadi anggota politbiro].  Yang tiba tiba jadi anggota DPR,  secara mental limbung, kehilangan persepsi dan role model, kehilangan panutan etika, serasa rentan kok tiba tiba serasa jadi ratu [naik ke kelas ksatria] yah sebenarnya ini hal yang sudah bisa diprediksi kan ?

Jadi –> anggota DPR banyak yang limbung, karena gak ada role modelnya di dunia wayang [sebenarnya anggota DPR masuk kelas mana hayooo ?] Apa Brahmana ? atau ksatria/birokrat, sudra/para punokawan ? kaum waisya/pengrajin, petani atau pedagang, atau apa yah …. ?

Papabonbon pikir, selama ndak ada role model baru dalam alam pikir dan setting sosial masyarakat kita, yah selama itu pula institusi DPR akan jadi sarang para perompak 😀

Catatan Serius buat PKS : 

Oh ya, sudah ada role model yg dikembangkan untuk gaya permerintahan bersih anti korupsi, yaitu yang dikembangkan oleh rekan rekan PKS, dengan merujuk pada Umar bin Abdul Azis, r.a.  Sekarang tinggal kampanye dan tingkat acceptancenya di masyarakat.  Hiyah ….  ini proyek susah, soalnya umat Islam juga sudah terkenal biang KKN dan ndak profesional sih, jadi ya ……  Apa betul, prakteknya PKS bisa bersih.  [that’s the other question].

Update : Kata seorang teman, ” itu kan jualannya aja.. prakteknya?”

Iklan

12 thoughts on “Tidak Ada Tempat Bagi Demokrasi [di hati penggemar wayang]

  1. demokrasi juga ndak ada di kisah “Lord of The Ring”.
    atau Ksatria Meja Bundar-nya King Arthur pengejawantahan dari demokrasi? Ndak juga …
    jadi demokrasi memang ajaran antah berantah yang ndak ada tuntunannya di alam semesta ini.
    Lha wong Tuhan saja otoriter kok. Mana ada cerita Tuhan ngajak voting bareng2 malaikat menentukan nasib dunia 😛

  2. @ Wikan :

    1. Umar bin Abdul Azis itu contoh buat pemerintahan bebas korupsi, tapi bukan contoh buat demokrasi.

    2. Kalau dibilang gak ada role model demokrasi, kita ada Lembaga Subak di Bali yang pengambilan keputusannya sangat demokratis dan rapat tua tua [ninik mamak] juga proses pengambilan keputusan di Nagari kalau di Padang.

  3. Bahasan papabonbon kali ini berat tenan. Keluar dari pakem mak nyuuussss… Kang Kombor nggak bisa memberikan sanggahan. Kalau bahasanya penggemar wayang: “wis kelangan ukara” (sudah kehabisan kata-kata).

  4. Iyo, abot kang postingane. Bawa-bawa Srikandi, Kresno, Durno sampai Umar ra. Tak unduh dulu ahh, tak pelajari di weekend, sambil crosscheck dengan referensi perwayanganku, hehehe. Komennya minggu depan aja ya? Itu kalau ndak sibuk ngurusi warung…

  5. Mau dong bukunya…

    Oh iya..
    karakter Radeya (putri Radha).
    Dia menyimbolkan kaum Sudra yang ingin berontak.
    Menantang Para Ksatriya seperti Pandawa tetapi malah dihina, diejek-ejek, direndahkan.

    Tiba-tiba ada seseorang bernama Duryudana yang memang tidak suka basa-basi dan melihat kemampuan Radeya, mengangkat dia sebagai sahabat dan sebagai raja Awangga (Angga).

    Kesetiaan Radeya bukan right or wrong is my country tetapi kesetiaan seorang sahabat. Bahkan ketika ia mengetahui jati dirinya sesungguhnya, ia tetap memilih sahabatnya.

  6. kasih alamatnya deh, ntar aku kirimnya. komplimen dari teman 😀

    Wah, tentang Radeya ini aku malah udah samar samar. lupa terus terang,. thanks buat tambahan karakter menariknya. abis baca baca tentang wayang gara gara kasus plagiat itu toh ?

  7. Pak SBY mengaku dirinya ksatria. Kira-kira di dunia wayang tokoh yang cocok untuk menggambarkan pak SBY siapa ya ? Ksatria yang ingin tampil sebagai sosok yang baik hati, kalem, halus, penyayang, pengayom. Tapi punya hobi menyindir. Tidak bisa menyembunyikan perasaan jika disakiti, suka berkeluh kesah. Merasa dikeroyok saat dikritik rame-rame.
    Saya sulit menemukan ksatria seperti apa pak SBY ini ? Ada yang bisa membantu saya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s