<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: kodrat wanita</title>
	<atom:link href="http://papabonbon.wordpress.com/2008/04/26/kodrat-wanita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://papabonbon.wordpress.com/2008/04/26/kodrat-wanita/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Jan 2010 17:13:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Pyrrho</title>
		<link>http://papabonbon.wordpress.com/2008/04/26/kodrat-wanita/#comment-7207</link>
		<dc:creator>Pyrrho</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 06:19:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://papabonbon.wordpress.com/?p=300#comment-7207</guid>
		<description>&lt;blockquote&gt;Tapi seringkali, justru si perempuan dari awalnya memilih untuk membatasi bidang studinya supaya memiliki peluang untuk suatu saat membesarkan anak. Meskipun dia sebenarnya tertarik pada bidang2 yang masih majoritas diisi lelaki.&lt;/blockquote&gt;

sepertinya jadi fear of success bagi para perempuan. tetapi fenomena ini sudah jauh berkurang di kota-kota besar, IMHO.

Saya juga pernah ditanya oleh seorang teman perempuan yang juga aktivis feminisme : &quot;menurut kamu, fer, apakah hamil itu kodrat ataukah pilihan ?&quot; :lol:

Dan saya jawab dengan jawaban diplomatis :

&quot;sebagai perempuan, kemampuan untuk hamil adalah kodrat biologis yang tidak bisa dielakkan. tetapi sebagai manusia yang punya kebebasan, kamu bisa memilih untuk hamil atau tidak. Itu dua hal yang berbeda.&quot; :lol:

Ngeles tingkat tinggi, supaya nggak dibilangin anti feminisme. :)

Kalau soal mengurus anak dan rumah tangga, saya cuma mau bilang, jadi bapak rumah tangga itu tidak berarti seluruh konsep maskulinitas laki-laki hancur karenanya. Hari gini masih mempertahankan konsep maskulin abad pertengahan ? :mrgreen:</description>
		<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Tapi seringkali, justru si perempuan dari awalnya memilih untuk membatasi bidang studinya supaya memiliki peluang untuk suatu saat membesarkan anak. Meskipun dia sebenarnya tertarik pada bidang2 yang masih majoritas diisi lelaki.</p></blockquote>
<p>sepertinya jadi fear of success bagi para perempuan. tetapi fenomena ini sudah jauh berkurang di kota-kota besar, IMHO.</p>
<p>Saya juga pernah ditanya oleh seorang teman perempuan yang juga aktivis feminisme : &#8220;menurut kamu, fer, apakah hamil itu kodrat ataukah pilihan ?&#8221; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dan saya jawab dengan jawaban diplomatis :</p>
<p>&#8220;sebagai perempuan, kemampuan untuk hamil adalah kodrat biologis yang tidak bisa dielakkan. tetapi sebagai manusia yang punya kebebasan, kamu bisa memilih untuk hamil atau tidak. Itu dua hal yang berbeda.&#8221; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ngeles tingkat tinggi, supaya nggak dibilangin anti feminisme. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kalau soal mengurus anak dan rumah tangga, saya cuma mau bilang, jadi bapak rumah tangga itu tidak berarti seluruh konsep maskulinitas laki-laki hancur karenanya. Hari gini masih mempertahankan konsep maskulin abad pertengahan ? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Baja</title>
		<link>http://papabonbon.wordpress.com/2008/04/26/kodrat-wanita/#comment-7206</link>
		<dc:creator>Baja</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 06:16:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://papabonbon.wordpress.com/?p=300#comment-7206</guid>
		<description>Salam kenal Mas @papabonbon :-)
Kalau bicara pengalaman pribadi, meski Ibu saya cuma berpendidikan tamat SMA, tetapi saya amati beliau lebih berhasil daripada beberapa wanita berpendidikan S1 (bahkan S2) yang saya kenal dalam mencetak bibit unggul :-) Padahal Ibu saya punya delapan orang anak dan beliau menikah di usia 18 tahun. Jadi saya rada kurang setuju tuh dengan tulisan Eilleen Rahman yang disebut di atas.

Satu yang saya hakul 1000% setuju adalah bahwa memang peran Ibu-lah yang paling menentukan berhasil tidaknya anak-anak dalam keluarga.  Ilustrasi kasarnya begini, seandainya saat kami masih kecil Ibu tidak ada dan kami cuma punya Bapak saja, saat ini saya yakin kami berdelapan sudah jadi anak-anak yang berandalan dan tidak punya masa depan. Sebaliknya, jika saat itu Ibu sendirian saja mengasuh kami, saya masih yakin bahwa kami anaknya yang berdelapan akan tetap sanggung jadi orang benar dana meraih masa depan yang baik. 

Tentang kehebatan Ibu saya, kapan-kapan akan saya ceritakan dengan detail. Yang pasti, semua itu menurut saya bukan kodrat. Tuhan menganugerahkan fungsi-fungsi itu (melahirkan, mengasuh, dsbnya) kepada wanita (i.e. Ibu) karena Tuhan tahu bahwa mereka sanggup menanggung semuanya itu dengan cinta dan kasih sayang tak terperi pada anaknya. Kalau Bapak, boro-boro mau rasakan sakitnya melahirkan, baru bergadang malam hari gendong anak aja belum tentu mau..hehe..(mudah2an kelak kalo jadi Bapak saya bisa sedikit lebih baik..)

Ada tulisan yang bisa jadi supplement buat pernyataan saya di atas...silahkan maen ke blog saya ya , boleh lihat di : Istriku hebat sekali.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal Mas @papabonbon <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Kalau bicara pengalaman pribadi, meski Ibu saya cuma berpendidikan tamat SMA, tetapi saya amati beliau lebih berhasil daripada beberapa wanita berpendidikan S1 (bahkan S2) yang saya kenal dalam mencetak bibit unggul <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Padahal Ibu saya punya delapan orang anak dan beliau menikah di usia 18 tahun. Jadi saya rada kurang setuju tuh dengan tulisan Eilleen Rahman yang disebut di atas.</p>
<p>Satu yang saya hakul 1000% setuju adalah bahwa memang peran Ibu-lah yang paling menentukan berhasil tidaknya anak-anak dalam keluarga.  Ilustrasi kasarnya begini, seandainya saat kami masih kecil Ibu tidak ada dan kami cuma punya Bapak saja, saat ini saya yakin kami berdelapan sudah jadi anak-anak yang berandalan dan tidak punya masa depan. Sebaliknya, jika saat itu Ibu sendirian saja mengasuh kami, saya masih yakin bahwa kami anaknya yang berdelapan akan tetap sanggung jadi orang benar dana meraih masa depan yang baik. </p>
<p>Tentang kehebatan Ibu saya, kapan-kapan akan saya ceritakan dengan detail. Yang pasti, semua itu menurut saya bukan kodrat. Tuhan menganugerahkan fungsi-fungsi itu (melahirkan, mengasuh, dsbnya) kepada wanita (i.e. Ibu) karena Tuhan tahu bahwa mereka sanggup menanggung semuanya itu dengan cinta dan kasih sayang tak terperi pada anaknya. Kalau Bapak, boro-boro mau rasakan sakitnya melahirkan, baru bergadang malam hari gendong anak aja belum tentu mau..hehe..(mudah2an kelak kalo jadi Bapak saya bisa sedikit lebih baik..)</p>
<p>Ada tulisan yang bisa jadi supplement buat pernyataan saya di atas&#8230;silahkan maen ke blog saya ya , boleh lihat di : Istriku hebat sekali.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Mas Kopdang</title>
		<link>http://papabonbon.wordpress.com/2008/04/26/kodrat-wanita/#comment-7205</link>
		<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 03:28:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://papabonbon.wordpress.com/?p=300#comment-7205</guid>
		<description>duh..kalau sudah soal Istri, Ibu dan peran perempuan dalam sebuah keluarga..nyerah deh...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>duh..kalau sudah soal Istri, Ibu dan peran perempuan dalam sebuah keluarga..nyerah deh&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: edratna</title>
		<link>http://papabonbon.wordpress.com/2008/04/26/kodrat-wanita/#comment-7199</link>
		<dc:creator>edratna</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 07:09:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://papabonbon.wordpress.com/?p=300#comment-7199</guid>
		<description>Kompas hari ini, tanggal 26 April 2008, karangan Eileen Rahman dan Savitri, menjelaskan bahwa ibu yang berpendidikan adalah ibu yang akan mampu mencetak bibit unggul manusia baru. Bagaimana jika pendidikan kurang? masyarakat perlu membantu pengarahan/pelatihan  (di Kompas hari ini, tulisan seorang dokter), agar ibu mampu memberi gizi yang sehat bagi anak-anaknya, walaupun kondisi tak mampu.

Memang ditangan ibulah, bagaimana memberi gizi yang baik bagi keluarga (makanan, baik fisik maupun jasmani). Sebetulnya dengan kerjasama yang baik antara pasangan, maka akan diperoleh anak yang sehat, jasmani dan rohani. Mendidik anak merupakan proses, orangtua perlu belajar terus agar bisa mengikuti dan memahami anak....masalah perempuan itu bekerja atau tidak sebetulnya bukan masalah pokok....di Indonesia masih banyak keluarga, atau pembantu yang bisa menolong melancarkan roda rumah tangga...tentu saja mereka hanya membantu, ayah ibu tetap yang bertanggung jawab. Dan mereka membantu untuk hal-hal yang memang tak menimbulkan risiko bagi anak, namun pendidikan, mengatur menu sehat, pendidikan akhlak tetap ditangan otangtua.

Kerjasama menjadi lebih penting jika hidup di luar negeri, tapi saya juga mengenal beberapa keluarga, yang ayah ibunya bekerja, dan anaknya tetap berkembang secara baik...jadi yang penting adalah kerjasama kedua pihak, bentuk kerjasamanya seperti apa, itulah yang dirumuskan oleh masing-masing pasangan, karena keluarga yang satu berbeda dengan lainnya.

Jujur saja, sebagai wanita yang bekerja di luar rumah, tanpa iman yang kuat, masalah pendidikan anak bisa membuat stres tinggi....namun dengan kekuatan doa, dan selalu mau belajar dan mendengar ...semuanya bisa dilalui, walaupun penuh dengan terpaan gelombang....dan hasilnya sangat manis.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kompas hari ini, tanggal 26 April 2008, karangan Eileen Rahman dan Savitri, menjelaskan bahwa ibu yang berpendidikan adalah ibu yang akan mampu mencetak bibit unggul manusia baru. Bagaimana jika pendidikan kurang? masyarakat perlu membantu pengarahan/pelatihan  (di Kompas hari ini, tulisan seorang dokter), agar ibu mampu memberi gizi yang sehat bagi anak-anaknya, walaupun kondisi tak mampu.</p>
<p>Memang ditangan ibulah, bagaimana memberi gizi yang baik bagi keluarga (makanan, baik fisik maupun jasmani). Sebetulnya dengan kerjasama yang baik antara pasangan, maka akan diperoleh anak yang sehat, jasmani dan rohani. Mendidik anak merupakan proses, orangtua perlu belajar terus agar bisa mengikuti dan memahami anak&#8230;.masalah perempuan itu bekerja atau tidak sebetulnya bukan masalah pokok&#8230;.di Indonesia masih banyak keluarga, atau pembantu yang bisa menolong melancarkan roda rumah tangga&#8230;tentu saja mereka hanya membantu, ayah ibu tetap yang bertanggung jawab. Dan mereka membantu untuk hal-hal yang memang tak menimbulkan risiko bagi anak, namun pendidikan, mengatur menu sehat, pendidikan akhlak tetap ditangan otangtua.</p>
<p>Kerjasama menjadi lebih penting jika hidup di luar negeri, tapi saya juga mengenal beberapa keluarga, yang ayah ibunya bekerja, dan anaknya tetap berkembang secara baik&#8230;jadi yang penting adalah kerjasama kedua pihak, bentuk kerjasamanya seperti apa, itulah yang dirumuskan oleh masing-masing pasangan, karena keluarga yang satu berbeda dengan lainnya.</p>
<p>Jujur saja, sebagai wanita yang bekerja di luar rumah, tanpa iman yang kuat, masalah pendidikan anak bisa membuat stres tinggi&#8230;.namun dengan kekuatan doa, dan selalu mau belajar dan mendengar &#8230;semuanya bisa dilalui, walaupun penuh dengan terpaan gelombang&#8230;.dan hasilnya sangat manis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
