besar pasak, DARIPADA KENTANG

kodrat wanita

Ditulis oleh papabonbon di/pada April 26, 2008

Kalau bahasa agama dan bahasa budaya yang digunakan, ujungnya adalah dua hal :

  1. melahirkan, dan
  2. mengurus anak dan rumah tangga

dari blog aku bukan monyet

gambar dari blog amadeo

anda pilih gambar satu atau gambar dua ? mana yang lebih cocok dengan diri anda.  yang satu politis ideologis, yang lainnya punya pilihan pribadi, mau di domestik, atau dua duanya, di luaran iya, di rumah oke.

Apakah benar, itu kodrat wanita ?  Ada tulisan menarik di bawah ini.

——Original Message——

From: Edith Koesoemawiria
To: jurnalperempuan@yahoogroups.com;
Subject: Re: [Jurnal Perempuan] Re: Ibu Pencetak Generasi Unggul

Dear Rafina dan Iscab,

Pengamatan saya sih, teliti mengurus dan membesarkan anak itu sesuatu yang harus dipelajari. Bukan kodrati. Kayaknya, pertanyaannya terletak pada pilihan pembagian tugas setiap pasangan.

Pasangan2 yang baru pertama kali punya anak menjalani proses untuk tahu apa yang dibutuhkan oleh insan baru yang berada di antara mereka. Serta bagaimana mereka memenuhinya.

Buat yang punya adik dengan perbedaan usia agak jauh, bisa menimba dari sedikit pengalaman mereka dengan adiknya. Jadi ya tetap dari proses belajar, kendati dari pengalaman.

Tentu saja, kalau pengertian tentang membesarkan anak hanya terbatas pada mengantarkan anak, makan bersama atau bermain, ya si ayah, atau bahkan ibunya bisa, tidak tahu bagaimana feces anaknya.

Tapi bila ayah seperti masih banyak ibu- turut menggantikan popok, memandikan, bangun tengah malam bila si bayi menangis, menyiapkan susu, nyuci sepre, nungguin si bayi waktu sakit, ngepak tas yang perlu dibawa kalau mau membawa bayi atau anak untuk jalan2 dan pokoknya segala tetek bengek yang berhubungan dengan mengurus anak dari bayi, saya sulit percaya bahwa si ayah tidak memperhatikan detil.Masalahnya bila si ayah atau si ibu tidak punya peluang (atau tidak bersedia) untuk melakukan itu, maka pengetahuan mereka tentang perkembangan si anak menjadi kurang. Pantes juga kalau dokter mengharapkan PRT-nya ada di situ.

Pertanyaannya mungkin berapa banyak lelaki atau perempuan yang siap turun tangan secara langsung. Mungkin saat ini di Indonesia, masih lebih banyak perempuan ketimbang lelaki.

Di pihak lain, kalau perusahaan, instansi dan lembaga lebih ramah keluarga dan tidak bias bahwa kalau mempekerjakan perempuan berarti usaha/penelitian mereka bisa terputus (dan artinya merugi) karena karyawannya mengandung, maka bakal lebih banyak perempuan yang bergerak di bidang2 kerja yang disebut-sebut itu. Apalagi kalau perempuan tahu bahwa pasangannya betul2 berbagi mengurus anak.

Tapi seringkali, justru si perempuan dari awalnya memilih untuk membatasi bidang studinya supaya memiliki peluang untuk suatu saat membesarkan anak. Meskipun dia sebenarnya tertarik pada bidang2 yang masih majoritas diisi lelaki.

Menurut saya ini sayang. Bukan saja karena harus si perempuan mengorbankan minatnya, tapi juga karena akhirnya mengurangi isi dan kesempatan untuk bisa bertukar pengalaman dengan suaminya soal kesulitan, tantangan dan solusi yang mereka temukan dalam mengurus anak mereka. Buat lelakipun ini patut disayangkan, karena kehilangan kesempatan untuk lebih kenal dengan anaknya.

Rasanya buat semua pihak jadi lebih banyak ruginya deh. :) Mungkin saya salah? Bisa saja lo. Saya juga ndak tahu kok, apakah hidup dalam dua jalur yang jauh berbeda (yang satu hanya kerja dan yang satu hanya ngurus anak) itu merekatkan atau merenggangkan hubungan antar pasangan.

Yang pasti kalau pengalaman si perempuan terbatas pada mengurus anak, kalau ditinggal pasangan yang selama itu menghidupinya, maka dia bakal keteteran untuk cari nafkah.

Salam

Edith

baca juga :

 

4 Tanggapan ke “kodrat wanita”

  1. edratna berkata

    Kompas hari ini, tanggal 26 April 2008, karangan Eileen Rahman dan Savitri, menjelaskan bahwa ibu yang berpendidikan adalah ibu yang akan mampu mencetak bibit unggul manusia baru. Bagaimana jika pendidikan kurang? masyarakat perlu membantu pengarahan/pelatihan (di Kompas hari ini, tulisan seorang dokter), agar ibu mampu memberi gizi yang sehat bagi anak-anaknya, walaupun kondisi tak mampu.

    Memang ditangan ibulah, bagaimana memberi gizi yang baik bagi keluarga (makanan, baik fisik maupun jasmani). Sebetulnya dengan kerjasama yang baik antara pasangan, maka akan diperoleh anak yang sehat, jasmani dan rohani. Mendidik anak merupakan proses, orangtua perlu belajar terus agar bisa mengikuti dan memahami anak….masalah perempuan itu bekerja atau tidak sebetulnya bukan masalah pokok….di Indonesia masih banyak keluarga, atau pembantu yang bisa menolong melancarkan roda rumah tangga…tentu saja mereka hanya membantu, ayah ibu tetap yang bertanggung jawab. Dan mereka membantu untuk hal-hal yang memang tak menimbulkan risiko bagi anak, namun pendidikan, mengatur menu sehat, pendidikan akhlak tetap ditangan otangtua.

    Kerjasama menjadi lebih penting jika hidup di luar negeri, tapi saya juga mengenal beberapa keluarga, yang ayah ibunya bekerja, dan anaknya tetap berkembang secara baik…jadi yang penting adalah kerjasama kedua pihak, bentuk kerjasamanya seperti apa, itulah yang dirumuskan oleh masing-masing pasangan, karena keluarga yang satu berbeda dengan lainnya.

    Jujur saja, sebagai wanita yang bekerja di luar rumah, tanpa iman yang kuat, masalah pendidikan anak bisa membuat stres tinggi….namun dengan kekuatan doa, dan selalu mau belajar dan mendengar …semuanya bisa dilalui, walaupun penuh dengan terpaan gelombang….dan hasilnya sangat manis.

  2. Mas Kopdang berkata

    duh..kalau sudah soal Istri, Ibu dan peran perempuan dalam sebuah keluarga..nyerah deh…

  3. Baja berkata

    Salam kenal Mas @papabonbon :-)
    Kalau bicara pengalaman pribadi, meski Ibu saya cuma berpendidikan tamat SMA, tetapi saya amati beliau lebih berhasil daripada beberapa wanita berpendidikan S1 (bahkan S2) yang saya kenal dalam mencetak bibit unggul :-) Padahal Ibu saya punya delapan orang anak dan beliau menikah di usia 18 tahun. Jadi saya rada kurang setuju tuh dengan tulisan Eilleen Rahman yang disebut di atas.

    Satu yang saya hakul 1000% setuju adalah bahwa memang peran Ibu-lah yang paling menentukan berhasil tidaknya anak-anak dalam keluarga. Ilustrasi kasarnya begini, seandainya saat kami masih kecil Ibu tidak ada dan kami cuma punya Bapak saja, saat ini saya yakin kami berdelapan sudah jadi anak-anak yang berandalan dan tidak punya masa depan. Sebaliknya, jika saat itu Ibu sendirian saja mengasuh kami, saya masih yakin bahwa kami anaknya yang berdelapan akan tetap sanggung jadi orang benar dana meraih masa depan yang baik.

    Tentang kehebatan Ibu saya, kapan-kapan akan saya ceritakan dengan detail. Yang pasti, semua itu menurut saya bukan kodrat. Tuhan menganugerahkan fungsi-fungsi itu (melahirkan, mengasuh, dsbnya) kepada wanita (i.e. Ibu) karena Tuhan tahu bahwa mereka sanggup menanggung semuanya itu dengan cinta dan kasih sayang tak terperi pada anaknya. Kalau Bapak, boro-boro mau rasakan sakitnya melahirkan, baru bergadang malam hari gendong anak aja belum tentu mau..hehe..(mudah2an kelak kalo jadi Bapak saya bisa sedikit lebih baik..)

    Ada tulisan yang bisa jadi supplement buat pernyataan saya di atas…silahkan maen ke blog saya ya , boleh lihat di : Istriku hebat sekali.

  4. Pyrrho berkata

    Tapi seringkali, justru si perempuan dari awalnya memilih untuk membatasi bidang studinya supaya memiliki peluang untuk suatu saat membesarkan anak. Meskipun dia sebenarnya tertarik pada bidang2 yang masih majoritas diisi lelaki.

    sepertinya jadi fear of success bagi para perempuan. tetapi fenomena ini sudah jauh berkurang di kota-kota besar, IMHO.

    Saya juga pernah ditanya oleh seorang teman perempuan yang juga aktivis feminisme : “menurut kamu, fer, apakah hamil itu kodrat ataukah pilihan ?” :lol:

    Dan saya jawab dengan jawaban diplomatis :

    “sebagai perempuan, kemampuan untuk hamil adalah kodrat biologis yang tidak bisa dielakkan. tetapi sebagai manusia yang punya kebebasan, kamu bisa memilih untuk hamil atau tidak. Itu dua hal yang berbeda.” :lol:

    Ngeles tingkat tinggi, supaya nggak dibilangin anti feminisme. :)

    Kalau soal mengurus anak dan rumah tangga, saya cuma mau bilang, jadi bapak rumah tangga itu tidak berarti seluruh konsep maskulinitas laki-laki hancur karenanya. Hari gini masih mempertahankan konsep maskulin abad pertengahan ? :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>