Mengapa Karyawan PLN Demo ?

Sampai sekarang papabonbon belum bisa memahami, mengapa karyawan PLN demo ?

Okelah, sepanjang yg papabonbon tahu:

  1. Pesangonnya orang PLN = 38 x gaji
  2. PJB dan Indonesia power sejak dulu jadi sapi perahnya PLN
  3. ada dana pensiun juga kok
  4. jadi kalau dipisah pisah, bukannya bagus, bisa lebih mudah mengatasi korupsi terutama thd orang PLN yang ada didaerah daerah itu ?

===

Metrotvnews.com, Jakarta: Ribuan karyawan PT PLN masih berdemonstrasi depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (30/1) siang. Mereka menolak hasil keputusan rapat umum pemegang saham (RUPS) PLN pada 8 Januari silam yang memecah perusahaan tersebut. Para pengunjuk rasa yang diwakili sejumlah orang akhirnya diterima Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi.

Sebelumnya, wakil pengunjuk rasa juga diterima di Mahkamah Konsitusi. Mereka menilai keputusan RUPS melecehkan konsitusi. Keputusan rapat juga dianggap tak mematuhi keputusan judicial reviev MK yang menyebutkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang ketenagalistrikan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Para pengunjuk mengancam akan tetap berunjuk rasa sampai keputusan RUPS dibatalkan. Mereka juga mengancam akan memadamkan listrik di seluruh Indonesia jika tuntutan mereka tak didengar. Pada 8 Januari silam, RUPS PLN memutuskan PT Pembangkit Jawa-Bali menjadi BUMN yang terpisah dari PLN. Diputuskan pula PT PLN Distribusi Jawa Bali dan PT PLN P3B Jawa Bali menjadi anak perusahaan. Sementara PT PLN Kantor Pusat Pikitring Wilayah Luar Jawa, P3B Sumatera dan lain-lain menjadi perusahaan umum.(BEY)

About these ads

54 gagasan untuk “Mengapa Karyawan PLN Demo ?

  1. korupsi??? anda tahu dr mn? bisa ngasih contoh??
    anda org PLN atao orang luar kok bs tau???? hemmm..
    klo anda org PLN mungkin termasuk pelakunya
    klo bukan knp g dlaporrkan (kaya pahlawan gitu loh….)
    ato klo bukan REKANAN kali. klo iya bearti ikut korupsi jg hehehehehe…

  2. Karyawan PLN demo? Jangan heran Pak.
    Karyawan kita (terutama BUMN merugi) sudah terbiasa dengan keadaan “status quo”. Perusahaan merugi tidaklah membuat karyawan resah, toh ini perusahaan negara…..
    Perubahan membuat mereka takut akan kehilangan apa yg selama ini rasakan.
    Saya kok melihat hal yg sama pada PT. KA ataupun TVRI………
    Sorry, ini pendapat orang luar yg prihatin (bukan bermaksud apa2) :-)

  3. Sebaiknya orang luar PLN tidak perlu memberi komentar yang keliru tentang PLN.

    PLN adalah BUMN yang sedang melakukan perubahan (On the MOVE) untuk menuju kearah yang lebih baik. Hal ini dilakukan dengan cara-cara merekrut SDM-SDM muda yang bertalenta dan mempunyai moral baik.

    Tentu saja perubahan harus dilakukan secara bertahap (Step by step).

    Hidup PLN (persero) yang bersatu!!!

    Best Regards,
    DoDiT

    • “merekrut SDM-SDM muda yang bertalenta dan mempunyai moral baik.”, ANAK-ANAK OUTSORCHING MAU DIAPAKAN ? mereka udah jelas mempunyai skill, malahan bisa melebihi orang2 PLN sendiri, angkat dong harkat derajat dan martabat mereka……

  4. @ Muntoha
    Saya pernah tahu korupsi PLN dan sudah dilaporkan. Tapi ndak ada apa2…

    Kalo mo jadi pahlawan, kenapa bukan sampeyan aja? Sampeyan juga tukang korupsi to, kok ada yang bilang PLN korupsi balik menuduh kaya kebakaran jenggot???….

  5. @Dodit…
    Emangnya komentar org luar selalu keliru tentang PLN??? Walaupun sekarang merekrut org2 muda yg bertalenta, emang korupsinya bisa dihapus???

    Dari logika bisnis aja, ini sudah aneh… Kalo perusahaan beneran, rugi pula… mustinya ndak ada rekrutmen, dipecat iya… Lha ini, rugi besar, disuntik, rugi lagi, bonus dan rekrutmen serta kesejahteraan pegawai naik terus…

    @papabonbon
    posting sini juga cerita2 dari temen2 PLN kita yg di Sumbagsel ama yg di Banjarmasin dari mailist sebelah biar… Biar tahu bahwa kita ngomong di sini juga gak asal njeplak…

  6. PLN adalah tempat aku mencari nafkah.

    Sawah ladangku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari

    Kita semua para SDM-SDM muda PLN yang bertalenta akan berusaha mengubah PLN menuju ke arah yang lebih baek.

    Listrik untuk kehidupan yang lebih baik

  7. To Dodit…

    Insyaallah…
    Segala bentuk niat baik pasti akan selalu diridloi. Paling tidak, anda sudah ber-ikhtiar menuju ke yang lebih baik. Saya cuma mengingatkan… selalu lapangkan dada dan telinga karena suara konsumen dan orang-orang yang peduli dengan PLN adalah juga input yang berharga utk perbaikan PLN sendiri…

    PLN bukan cuman milik orang-orang PLN sendiri, tapi seluruh rakyat ini termasuk yang belum dapat listrik maupun yg kebagian listrik byar-pet. Mareka semua mengeluarkan pajak yang dipakai Pemerintah menginjeksi PLN trilyunan dan cutback utang2nya. Mereka bayar iuran penerangan jalan umum walaupun gak kebagian lampu jalan. Mereka, ndak perduli sehat atau sakit, harus membayar sesuai tarif tanpa nego untuk membiayai PLN memberikan tunjangan kesehatan pada, bukan saja karyawan-karyawannya, tetapi termasuk para pensiunannya dan janda pensiunannya…

    Dan yang terpenting, mereka adalah customer2 yang loyal karena ndak ada alternatif lain…

  8. hasil wawancara dua pegawai pln. :)

    tanya:
    papabonbon : gak ikutan demo ? kenapa sih orang PLN pada demo ?

    jawab:

    mrs D [konon ada pekerjaannya ada hubungan dgn komunikasi, berlokasi di jakarta, tapi kagak ikutan demo, maklum anak baru]. tapi kira kira inilah informasinya :

    1. selama ini PLN rugi karena TDL ditetapkan pemerintah. Lha kalau mau dijual ke swasta, berarti TDL tidak dikontrol. misal biaya produksi 1000, tapi TDL 500.kwh, nah selisih itu ditalangi pemerintah lewat subsidi.

    kalau dijual ke swasta, semua biaya ditanggung warga ??? [jadi inget kayak thiess pam jaya yg tetap ndak nggenah itu]

    2. selain itu PLN juga dikekang masalah bahan bakar. untuk gas, kita tidak dikasih kontrak jangka panjang sama pemerintah.yg akhirnya mereka prefer jual gas ke luar negeri, yang harganya mahal. tapi PLN beli harga mahal gak boleh, karena akan mempengaruhi harga gas dalam negeri. Mundur kena, maju kena.

    pemerintah kalau memang mau menerapkan TDL untuk melindungi masyarakat, juga harus melindungi PLN denan kontrak jangka panjang bahan bakar. biar subsidi gak membengkak juga.

    3. contoh:
    PLN di malaysia, thailand, mereka dibela sama pemerintah, ada kontrak jangka panjang. Pertamina dan PGN negara tersebut tidak boleh jual ke luar negeri sebelum untuk listrik negara terpenuhi.

    4. setiap 6 bulan sekali P3B PLN (punyaku) punya JMCC, Joint Maintenance Corporate Commitee, semacam forum dengan EGAT – PLN Thailand, sama TNB-PLN Malaysia.

    saling sharre tentang pemeliharaan, transmisi, ddll. mereka benar benar dijamin sama pemerintah, sampai punya helicopter sendiri untuk sekedar pemeliharaan transmisi.

  9. yaaa iyaa laaahhh….
    orang pln demo di bundaran HI keliatan..dikomentarin…koroupsi???? (yang ngomentarin dah kayak ga punya dosa…dah kayak pasti masuk surga…), belek segede gaban di mata kagak keliatan…(diem-diem aja….dah kayak orang paling suci).

    susah liat orang seneng, seneng liat orang susah
    (ciri khas orang indonesia)….

  10. @ oom bram. dilihat dulu dong 4 poin di atas. Pembelaan thd pln ada di sana. Btw, kita kan bicara “rese” dalam rangka menggali info lebih dalam.

    Info ttg korupsi, btw, ada sodara papabonbon yg jadi kacab PLN di salah satu kota di jatim, baru setahun sudah bisa beli rumah 2 biji, masing masing seharaga 350 jt. hemmm, agak menggelisahkan sih. soalnya ada satu keluarga masalah, keluarga besar kan kena masalah semua :)

    laporan dari teman teman akuntansi yg jadi pegawai PLN dalam 2-3 tahun ini, juga pada stress dgn mark up harga dan kongkalingkong dgn rekanan yg dilakukan orang PLN.

  11. dari mr. S. mister S ini adalah karyawan PLN dari luar jawa, dan kemarin ikutan demo di jakarta. waktu di wawancara tadi, katanya : “baru pulang, pak” :) doi orang jawa, tapi sejak awal ditugaskan di luar jawa, wajar jika concernnya pada perkembangan luar jawa juga cukup kental. salut buat mr. S

    swastanisasi dari sisi pelayanan dan take home pay pegawai memang lebih baik. tapi kita dari serikat pekerja mikirnya secara utuh.

    1. terhadap restrukturisasi akan membawa dampak vertikal. dimulai dari dipisahnya sektor pembangkit menjadi bumn sendiri, yang sebagian sahamnya dijual ke swasta/privatisasi. secara hukum ekonomi, pasti akan memunculkan transfer price dan pajak pajak yg akan ditangung masyarakat/konsumer berupa harga listrik yg naik lebih tinggi bila dibandingkan dgn tdl keekonomian versi PLN yg tidak terpecah.

    2. dampak horisontal terhadap dirubahnya status pln wilayah luar jawa menjadi perum yang pada gilirannya akan diperumdakan selama ini 80% pendapatan PLN adalah dari jawa dan bali. jawa dan bali yang untung dan keuntungan untuk mensubsidi wilayah luar jawa. kalo luar jawa disuruh menanggung pembiayaan untuk melistriki daerahnya sendiri dapat duit dari mana ?

    padahal investasi listrik di luar jawa jauh lebih tinggi daripada di jawa. akibatnya adalah ketimpangan perekonomian dimana luar jawa akan semakin terpuruk perekonomiannya, karena kekurangan pasokan energi listrik. dikhawatirkan akan berdampak pada disintegrasi bangsa.

  12. anda org teknik ato nonteknik (POLI TIKUS)…
    klo teknik cobak itung berapa nilai kalor BBM(solar, bensin)/liter ato batubara/kg. terus hargane brp??? diproses dikurangi effisiensi dpt energi brp KWH?? terus ditransmisikan energinya tinggal brp?? Loh kok berkurang?? ya iyalah kan ada losses (apa BONBON bisa ngilangi loss?? huahaha..). Terus sampe rumah OM BONBON dibeli brp per KWH?? terus dikurangi biaya maintenance, pegawe dll. dpt brp?? siapa sih ang nentukan TDL, PLN ato Pemerintah???

    klo OM BONBON sulit ngitung tak pinjemin kalkulator????
    Apa OM BONBON gak bakal rugi kalo punya pabrik terus harga produknya ditentukan orang lain??? (klo mahal g laku, klo murah laris tapi bangkrut ..)
    udah ngerti OM?? klo ngerti ya udah….. klo blom ya jodol. GITU AJA KOK REPOT (pinjem istilahe Gus Dur)

    Apa OM BONBON yang kaya solusi jd direksi PLN ato menteri ESDM ato menteri BUMN???

  13. memang susah untuk memahami..PLN kalo pake kacamata luar. maunya menghujat…yang ga efisien..yg korupsi…

    PLN dikekang dr sisi hulu dan hilir.artinya, maju kena, mundur kena.
    bahan bakar, PLN ga boleh beli mahal2..(karena kl beli mahal, bisa mempengaruhi harga pasar, padahal kl orang luar beli mahal juga dibolehin), akhirnya, PLN tidak ada savety dalam pasokan bahan bakar…
    beda dg PLN di negara lain, pemerintah memihak dalam artian, bahan bakar untuk listik negara diutamakan, baru sisanya dijual ke luar sehingga, tidak ada namanya PLN di negara luar bisa kekurangan bahan bakar.
    di Indonesia, orang-orang di pemerintahan juga punya bisnis, sehingga kebijaksanaan pemerintah lebih berpihak pada kepentingan bisnisnya..!! (contoh kebijakan bahan bakar)

    dr segi jual, kita dikekang sm pemerintah. YANG MENETUKAN TDL ITU PEMERINTAH. PLN tidak ada sangkut pautnya…bisa bayangin ga, PLN memproduksi listrik Rp 1000/kwh.
    tp dijual ke masyarakat Rp 500/kwh…RP500 dr mana..? subsidi dr pemerintah.jadi ketidakmampuan warga untuk membayar TDL ditalangi pemerintah dlm subsidi..

    listrik dah murah kyk gitu, masih juga nunggak, masih juga nyolong..apa ga kebangetan tuh..

    jadi..kl ada yg membantu anda untuk mencuri listrik (pake alat yg bisa mbohongin meteran..) please laporkan.laporkan.. kalo anda turut peduli dg PLN..

    jika memang dia pegawai PLN pasti akan dipecat langsung…tp kebanyakan, mereka adalah peg kontrak PLN yg artinya walo nyolong, nothing to loose..toh bukan pegawai tetap PLN…

    kl PLN mau dipecah..Indonesi Power, PJB.itu adalah pembangkit. tulang punggung produksi listrik, kl mereka jd BUMN sendiri..trus di swastanisasi..bisa kebayang ga..tarif listrik jadi berapa..?
    asal lu bayar mahal..lu baru boleh beli listrik..kl lu ga mampu..ya gue padamain.. MAU KAYAK GITU…????

  14. orang itu cuma bisa memberi dengan apa yang dia punya.
    kalo ngasihnya recehan berarti dia punyanya ya recehan
    kalo nyumbangnya semen berarti dia punyanya ya semen
    begitu juga soal sumbangan pikiran,
    orang yang cerdas dan bijaksana akan memberikan pendapat yang cerdas dan bijaksana pula. tidak sekedar berpendapan dan melukai hati lawan bicaranya.

  15. Diambil dari rakyat Merdeka, 5 Februari 2008, halaman 4

    4 BUMN Dibidik Parpol Jadi Pundi Pemilu 2009

    PT Telkom, PT PLN, PT PGN dan PT Pertamina tengah dibidik partai politik (parpol) besar untuk dijadikan pundi pada Pemilu 2009.

    PARTAI-partai politik besar dikabarkan sudah mulai berebut ‘lahan basah’ di empat BUMN. Di kalangan anggota Dewan, perebutan tersebut sudah ramai dibicarakan di Gedung MPR/ DPR. Bahkan, dikabarkan, planning tentang pergantian direksi di keempat BUMN itu juga sudah dibahas secara internal. “Partai penguasa (Golkar dan Demokrat) saat ini sedang membidik dua BUMN, yakni PT Pertamina dan PT PLN,” kata sumber Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin. Diyakini, rencana pergantian direksi pada BUMN-BUMN strategis tersebut terkait erat dengan semakin dekatnya Pemilu 2009.

    Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik (LSKP) Ichsanuddin Noorsy mengaku sudah mencium sejak lama ada keinginan sejumlah parpol besar membidik BUMN strategis. Dia menyebut BUMN strategis itu di antaranya PT Telkom, PT PLN, PT PGN dan PT Pertamina.

    “Praktik seperti ini sebenarnya sudah sejak lama. Perusahaan yang dibidik itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan partai politik terkait Pemilu 2009,” beber Noorsy kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

    Noorsy merinci bagaimana parpol ‘mengeruk’ BUMN untuk kepentingan partai. Di antarnya, dengan mengganti jajaran direksi dan komisaris yang selama ini dipenuhi perwakilan dari partai politik. “Meskipun ada yang kelihatan profesional, tapi sesungguhnya dia sudah ‘kompromi’ dengan partai yang mengusungnya,” tandasnya.

    Anggota Komisi VII DPR Nizar Dahlan mengakui praktik ‘menempatkan’ kader parpol di perusahaan pelat merah strategis sebagai bukan barang baru. Sejak dulu, lanjut Nizar, prilaku tidak cantik tersebut kerap berulang.

    Politisi Partai Bulan Bintang (PBB) ini menegaskan, jika benar ditemukan adanya kepentingan partai politik untuk menepatkan orang-orangnya di posisi strategis BUMN, maka pihaknya akan menolak keras. “Karena itu, kami meminta agar masyarakat terus mengontrol setiap ada RUPS BUMN menjelang pemilu ini,” tandas Nizar kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

    Untuk itu, wakil ketua BURT ini mendesak Menneg BUMN Sofyan Djalil untuk tidak mengangkat kader partai politik menduduki jabatan direksi di perusahaan pemerintah. “Saya lebih setuju jika jabatan direksi dicomot dari kalangan profesional yang memang memiliki kompetensi di bidangnya,” tandasnya.

    Anak buah MS Kaban ini menegaskan, jika seorang yang berafiliasi dengan parpol hendak menduduki jabatan di BUMN, maka dia harus menanggalkan atribut kepartaian-nya. Hal itu, kata dia, untuk menghindari intervensi dari luar yang beruj ung pada kepentingan kelompok maupun golongan.

    “Sebaiknya Menneg BUMN mengutamakan figur yang profesional memang memiliki kualitas dan kompetensi dalam membangun produktivitas dan citra perusahaan negara ke depan,” imbuhnya. Nizar membeberkan bagaimana perusahaan negara dijadikan bancakan partai politik.

    Di antara modus yang kerap terjadi, kata Nizar, adalah dengan melalui Rapat Umum Pemegang Saham, desakan serikat pekerja BUMN terkait, dan anjloknya saham BUMN di lantai bursa. “Hal-hal itulah yang kerap dijadikan alasan pergantian direksi BUMN,” tukasnya.

    Selain itu, Nizar juga menyoroti soal penambahan privatisasi BUMN yang akan dilego di 2008. Semula pemerintah merencanakan akan dijual 28 BUMN, namuri kini meningkat menjadi 30 perusahaan negara. Nizar mengaku khawatir, penambahan penjualan perusahaan negara itu menjadi ajasg kepentingan politik juga.

    “Sebelum ada standar yang jelas dalam privatisasi, pemerintah sebaiknya tidak melakukan privatisasi. Pemerintah tidak boleh gegabah dalam melakukan rencana tersebut,” tandasnya.

  16. Data 2006, published di berbagai media cetak waktu PLN mengajukan kenaikan TDL.

    Indonesia : 6,5 sen USD per Kwh
    Filipina : 7,3 sen USD per Kwh
    Malaysia : 6,2 sen USD per Kwh
    Thailand : 6 sen USD per Kwh
    Vietnam : 5,2 sen USD

    TDL ditetapkan Pemerintah. Tapi pernyataan PLN tidak ada sangkut pautnya adalah tidak benar, karena kalkulasi dan pengajuan alternatif2 TDL sebelum ditetapkan oleh Pemerintah disusun oleh team yang beranggotakan orang-orang PLN juga (plus dari ESDM).

  17. PLN Kalo dipecah dan swasta namanya harus ganti Perusahaan Lisrtrik Singa, pasti harganya mahal, karena tanah rakyat yang dilewati kabel sutet pasti harus disewa atau dibayar. Subsidi pemerintah hilang.Kalo bikin sutet lagi pasti rakyat tidak mau tanahnya dilewati.Kalo punya Negara rakyat pasti rela demi bangsa. Pemerintah punya pengalaman Indosat dijual telpon murah bagaimana kalo listrik dijual. Bagaimana kalo pembangkit di INdonesia punya asing rakyat nggak mampu bayar Listrik dijual ke singapura mereka bisa bikin kabel laut kesana.Rakyat mari kita hidup sederhana seperti Jendral SUDIRMAN dan BUNG HATTA. Biar pemerintah kaya mereka pasti akan ditanya habis habisan oleh ALLAH kita. Jebdral kita Sudirman hidup tanpa Listrik Rasul kita tanpa listrik. Isa ALmasih tanpa listrik mereka keren.

  18. Privatisasi terbatas tidak berarti Pemerintah tidak memiliki golden share utk dapat memaksakan keputusan-keputusan strategis, misalnya penetapan electricity tariff. Pemerintah juga dapat berperan menciptakan electricity market rule, spt di Singapore mis… (lihat http://www.ema.gov.sg/Electricity/introduction_to_sg.php)

    Faktanya adalah, privatisasi perusahaan listrik tidak berkorelasi dengan listrik menjadi milik asing. Dari 4 prsh penyedia listrik di Malaysia, 3 dimiliki swasta lokal termasuk yang terbesar yang listing di bursa, dan 1 dimiliki Pemda.

    Fakta kedua, privatisasi perusahaan listrik tidak juga berkorelasi dengan listrik menjadi mahal (lihat di posting saya sebelumnya).

  19. Privatisai ini malah berpotensi menaikan harga listrik pd banyak daerah, membuka peluang dimilikinya aset strategis bangsa oleh pihak asing dan menciptakan kesenjangan kesejahteraan antar daerah.
    Begitu strategisnya persoalan listrik ini, sehingga kajiannya mestinya tdk cukup oleh pihak yg ada dalam RUPS tersebut saja, perlu kajian teknis, kajian ekonomi, kajian sosial, kajian hukum dan sebagainya yg tdk bisa diputuskan scr instant dalam RUPS belaka.

    Sangat disayangkan bila PLN dipecah-pecah. Saat ini masalah yang dihadapi PLN adalah bagaimana mendapatkan bahan bakar, terutama coal dan gas. Hampir 30% beban Jawa madura bali di support oleh pembangkit berbahan bakar minyak. Inilah sumber pokok permasalahan.

    Sepertinya pemerintah harus mencontoh kegagalan Inggris dalam swastanisasi listrik. sekarang mereka kembali menerapkan monopoli penuh terhadap bisnis kelistrikan dengan menerapkan manajemen kelistirkan yang baik.
    Apabila program ini gagal, bersiap2lah wahai rakyat Indonesia, apa mau pakai GENSET biar tau sendiri gimana gitu.

  20. cincin kau gadaikan, tape, radio, televisi kau jual. itulah syair lagu yang dinyannyikan oleh nia daniyati. begitu juga dengan pemerintah kita ” indosat sudah di jual, pertamina 70% pasokannya ke pihak asing, telkom sebagian sahamnya sudah di kuasai asing, semua bumn di privatisasi, apa lagi yang harus di jual? apakah mau jual PLN juga? kasihan kami rakyat yang sengsara tambah sengsara yang kaya menginjak yang miskin, jangan jadikan BUMN strategis sebagai kendaraan politik, kalau pln di jual berarti segera di ganti namanya sebagai “Perusahan Luar Negeri” dan rakyat indonesia sebagai jongos, budak, pesuruh di negaranya sendiri yang notabene negara yang kaya akan sumber daya alam. Sebelum di jual semuanya dan kita menjadi negara jongos, saya mohon kepada bapak – bapak anggota dewan yang terhormat yang berada di senayan, tolong di amandemen UUD 1945 pasal 33 dulu sehingga biar sekalian NKRI ini di jual karena tidak ada undang – undang yang membatasi. Tamengnya untuk rakyat tapi miliknya rakyat di caplok juga. kalau PLN tetap merugi karena untuk rakyat solanya penetapan tarifnya ada di tangan babe gue yang ada di istana.gimana mau untung. listrik yang murah seperti sekarang saja rakyat susah membayarnya apa lagi kalau di jual bisa bisa rakyat ga pake listri lagi deh, soalnya tidak sanggup bayar karena kemalahan. aku mau tanya pada bapak-bapak pengambil kebijakan, begitu kerasnya bapak bekerja, memeras otak itu untuk siapa? untuk bapak-bapak dan kroni – kroni atau untuk rakyat? kalau untuk bapak-bapak dan kroni-kroni bapak yah terserah apa mau mu, tapi kalau untuk rakyatmu jangan terus mengusik rakyat mu yang lagi kembang kempis ini. untuk apa para pejuang kita yang menasionalisasikan perusahan asing di jaman pejajahan? karena pejuang kita tidak mau kita bangsa indonesia di jajah terus. apakah bapak-bapak tidak malu dan tidak merasa berdosa dengan perjuangan para pendahulu kita? Kasihan deh rakyat, hidup kita akan lebih sengsara dibanding jaman penjajah dulu karena penjajah jaman sekarang lebih kejam. Mari kita bersatu, tolak penjualan aset negara.

  21. IMHO, PLN merugi itu bersumber dari 2 hal: inefisiensi internal (termasuk korupsi) dan inefisiensi eksternal (harus mensubsidi daerah/konsumen yg ngga eknomis).

    Yang pertama, diharapkan bisa diperbaiki jika sistem kerjanya ngga pake paradigma perusahaan milik negara. Utang ditalangi APBN. Boss datang dijamu. Harga di mark up. Proyek2 KKN. Kalo orang PLN mau marah, saya ketawa deh.. secara 2 teman dekat saya adalah boss besar PLN. Saya juga pernah ikutan ke beberapa cabang PLN sama mereka.

    Inefisiensi yang kedua, susahnya adalah campur aduk antara tugas pemerintah (regulator yang mau ngasih subsidi) dan tugas perusahaan (yang seharusnya profit oriented).

    Menurut gw, sebaiknya memang PLN di-unbundled. Anak2 perusahaan/unit yang bisa bekerja ekonomis (PJB, Batam, misalnya) ya dijadiin perusahaan publik, dan dilepas pada pasar, spy kinerjanya diawasi. Yang ngga bisa ekonomis dijadiin perusahaan publik juga, tapi konsumennya yang disubsidi dan harga mungkin bisa diatur dg ceiling price (deemed price). Dengan demikian masing2 punya indikator target yang terukur.

    Yang disubsidi juga konsumsi untuk kebutuhan dasar saja, kalau mau jor2an ya bayar full price dong… kalau ngga akan terjadi moral hazard. Kayak sekarang.. banyak yang ngga merasa kalau energi/listrik itu memang mahal. Lampu nyala di ruang ga kepake, AC nyala di ruang terbuka, dsb. Karena apa? karena masih “murah” dan bisa diakalin.. (u know lah).

    Kalau PLN mau belajar, belajar dari UK bagus tuh..
    Kalau nyari contoh negara berkembang, lihat Chile dan Argentina.
    Ngga semua kisah sukses, tapi banyak pelajaran bisa dipetik… kalau mau… :D
    tapi kalau judulnya mempertahankan status quo.. yo wes.. apa mau dikata..

  22. Untuk (1) mantan tukang insinyur yang berkata supaya belajar dari UK karena bagus, dan (2) untuk Hendry yang bilang kalau privatisasi tidak berkorelasi dengan kenaikan harga listrik. Memang di UK listriknya diswastanisasi & dikompetisikan, sementara transport listriknya (transmisi & distribusi) tetap model monopoli oleh swasta tapi diatur oleh OFGEM.

    Hanya saja masih perlu dikaji lebih lanjut, karena:

    1. Salah satu pemicu reformasi di UK adalah kelebihan kapasitas pembangkit bukan kekurangan pembangkit kayak di Indonesia.

    2. UK menjadi “kisah sukses reformasi” karena harga listriknya turun, tanpa melihat satu faktor yang jarang diekspos. Harga listrik sebelum reformasi tinggi karena CEGB (PLN-nya Inggris saat itu) harus beli batubara lokal dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan kalau import. Jadi setelah di privatisasi & kontrak dengan BritishCoal berakhir, pembangkitnya bebas beli ke penjual batubara lain dengan harga yang murah jadi harga listriknyapun bisa lebih murah.

    3. Kompetisi menjadikan harga listrik ditentukan pasar. Kalau overcapacity ya harga turun, tapi kalau undercapacity ya pasti naik. Kalau permintaan rendah harga rendah, kalau permintaan tinggi ya harganya tinggi. Jadi kalau di Indonesia yang undercapacity dan start harga yang rendah ya pasti naik. Inggris start dengan harga tinggi dan overcapacity ya jadi turun. Tapi sekarang ya mulai naik lagi kok, dibarengi dengan was-was untuk reserve capacity-nya.

    4. Swastanisasi tanpa dibarengi kompetisi atau regulasi yang bagus ya runyam. Baca saja sejarah kelistrikan di Long Island – New York, awalnya perusahaan listrik swasta, tapi akhirnya diambil alih pemerintah dan dijadikan Long Island Power Authority, karena harganya yang tinggi. Royal Mail yang mengelola pos di Inggris dan sudah diswastanisasi juga, sekarang ini lagi gencar menutup kantor pos-kantor pos di pedesaan, karena nggak menguntungkan. Maaf ya, kalau BUMN itu konotasinya dengan inefisiensi, swasta itu konotasinya dengan kerakusan. KKN2 di BUMN itu khan pasti melibatkan swasta. BLBI yang bikin heboh, ya melibatkan swasta juga.

    5. Harus dilihat kondisi & kemampuan masyarakatnya juga. Di UK, masyarakatnya gratis untuk berobat (dikelola NHS walaupun pelayanannya selalu dikecam kayak PLN di Indonesia), dan juga gratis dan wajib untuk sekolah anak sampai secondary (SMA di Indonesia). Masyarakatnya juga kebanyakan taat hukum dana tahu mana yang untuk kepentingan orang banyak. Pencurian listrik rendah, dan memang perusahaan listrik boleh tidak memberikan sambungan listrik untuk pelanggan jenis maling. Di kawasan pedesaan yang masih menggunakan penghantar berupa saluran udara jarak pohon dengan jaringan listrik sampai 3 meter lebih, jadi ya memang nggak byar-pet. Oh, ya, jaringan listiknya itu sampai ke desa-desa dibangun sebelum swastanisasi.

  23. Mau ngelanjut posting sebelumnya yang berbau makro, sekarang saya mau nulis yang agak mikro.

    1. Di UK, tepatnya untuk England & Wales, sebelum privatisasi selain CEGB yang ngurus pembangkitan & transmisi, ada 12 Area Board (AB) yang ngurusin distribusinya. Rata2 produktifitas karyawan AB ini kalau diukur pakai rasio pelanggan/pegawai sekitar 700. Angka ini meningkat 3 kali lipat setelah privatisasi. Jadi, kalau anda yang di Jawa, bisa bertanya ke kantor PLN setempat berapa rasio pelanggan/pegawainya :). Jumlah karyawan baca meter -nya jangan dihitung lho.

    2. Baca meter di Inggris sekarang dilakukan oleh persh baca meter (biasanya sih anak perusahaan pemilik jaringan distribusi) yang dikontrak oleh retailer listrik. Nggak seperti di Indonesia yang meternya dibaca tiap bulan, di Inggris meternya dibaca sekali setahun, itupun sudah bagus karena code of practice yang mereka canangkan adalah dua kali setahun. Dibaca sekali setahun itu lebih karena untuk kepentingan settlement di pasar wholesale-nya. Walaupun meternya dibaca sekali setahun, nagihnya bisa bulanan untuk pelanggan yang bayar pakai direct debit, ataupun tiap triwulan kalau pakai invoice. Jumlah pemakaiannya ya perkiraan aja.

    3. Kalau PLN mau pakai sistem baca meter & penagihan model Inggris, ya bisa menghemat sih walaupun tentu masih nggak sebanding dengan ongkos pengadaan BBM. Ongkos baca meternya menjadi 1/12 dan ongkos cetak rekening bisa jadi 1/4nya. Misalnya, ongkos baca meter Rp 100/pelanggan/bulan dan ongkos cetak rekening Rp 500/pelanggan/bulan, (saya nggak tahu bener nggak, kira2 aja) maka di satu propinsi dengan 5 juta pelanggan, ongkos baca meter yang 6M setahun jadi 0,5M dan cetak rekening dari 30M jadi 7,5M. Dalam hemat saya, para petinggi PLN pasti mahfum masalah ini, karena pak Eddy bossnya PLN itu khan ngambil S2-nya di London. Cuman pelanggan mau nggak?

    4. Pelayanan pelanggan di UK ini nggak seindah yang saya bayangkan. Jam 9 kurang lima saya mau beli daging, tokonya sudah buka, karyawatinya juga sudah ada, eh dia bilang, “tunggu lima menit lagi!” Teman saya mau minta sambungan telepon, coba menghubungin VirginMedia, di suruh ke BT. Ke BT, satpamnya kasar sekali, udah gitu cuma dikasih no telpon customer service. Nunggu sampai setengah bulan, telpon lagi sampai setengah jam, nggak ada penyelesaian pastinya. Ya sudah, nggak pakai telpon land line, pakai broad-bandnya 3 saja.

  24. Dua posting saya belum menjawab pertanyaan “mengapa karyawan PLN demo”, sekarang saya coba mencari jawabnya.

    Ada yang bilang bahwa mereka takut kehilangan status quo, takut kehilangan yang selama ini mereka rasakan. Ok, itu salah satu dari penjelasan umum tentang tindakan manusia. Sayangnya nggak ada penjelasan lebih lanjut tentang “apa yang selama ini mereka rasakan.”

    Gaji, pendapatan mereka tidak akan hilang, malahan mungkin akan naik. Lihat saja di PayScale, untuk membuat komparasi gaji karyawan yang bekerja di utilitas listrik dengan mereka yang bekerja di sektor lain.

    Bagi yang pakai logika prasangka buruk: “apa yang selama ini mereka rasakan adalah KKN.” Ini saya fikir bukan jawaban yang tepat karena berangkat dari dua anggapan yang masih perlu dipertanyakan lagi kebenarannya: (a) karyawan PLN bekerja supaya bisa KKN, dan (b) tidak ada KKN di semua perusahaan swasta.

    Dari PLN ada yang bilang kalau diswastanisasi nanti akan menyengsarakan rakyat. Selama ini pemerintah yang menetapkan tarif dengan harga rendah, sehingga walupun PLN merugi, rakyat masih bisa membeli listrik. Kalau diswastanisasi akan membuat tarif naik nggak karuan. Ini-pun bukan jawaban yang saya cari. Tarif PLN ditentukan pemerintah bukan karena PLN itu BUMN, tapi karena PLN itu monopoli. Coba tanyain ke temen yang kuliah di jurusan Ekonomi deh. Kalau ongkos PLN Rp1000/kwh, tarifnya ditentukan Rp 500/kwh, itu belum berarti PLN merugi, karena pemerintah ngasih subsidi. Tinggal berapa subsidi yang dikasih per kwh-nya. Kalau kurang dari Rp 500 ya rugi, kalau pas ya BEP saja, kalau lebih ya berarti ada yang bisa dipakai untuk investasi, tapi jangan dijadikan bonus lho. Kalau dipegang swasta, dan tetap diatur oleh pemerintah seperti pemerintah ngatur PLN sekarang ini (jadi tarif tetap rendah, perusahaan listrik tetap dikasih subsidi + laba untuk perusahaan) maka rakyat nggak merasakan kenaikan tarif, bedanya pemerintah dapat uang dari penjualan PLN. Cuman nggak tahu ya, uang hasil penjualan itu kalau ditabung bunganya harus lebih dari keuntungan yang diminta perusahaan listrik itu, kalau nggak ya jangan dijual-lah. Apalagi kalau uang hasil penjualannya hanya dipakai untuk kosumsi, seperti menyelenggarakan pemilu, pilkada.Tapi, sekali lagi, ini bukan jawaban yang saya cari. Jawabannya harus berupa apa yang hilang dari “apa yang selama ini mereka rasakan” , bukan “apa yang hilang dari apa yang selama ini dirasakan pihak lain (konsumen)”

    Jadi harus ada alasan lain yang lebih tepat untuk menerangkan mengapa karyawan PLN demo. Apa yang benar-benar hilang bagi karyawan PLN kalau PLN dipecah-pecah.

    Karena wilayah kerja PLN seluruh Indonesia, pegawai PLN bisa dipindahtugaskan di seluruh Indonesia. Mungkin saja ada yang asli Aceh, tapi ditempatkan di Irian sana. Kalau PLN itu masih seperti sekarang, dia masih punya harapan untuk bisa kembali ke Aceh atau paling tidak mendekati Aceh-lah pada saatnya dia pensiun. Ketika PLN dipecah belah, harapan itu musnah sudah, dia harus kerja di Prsh Listrik Swasta (PLS) Papua. Mau pindah ke PLS Aceh akan sulit karena (1) hampir pasti nggak ada lowongan, karena pada saat pemecahan, di Aceh sendiri pasti semua posisi sudah keisi semua, dan (2) merupakan praktek umum perusahaan utilitas listrik untuk melakukan promosi dari dalam. Mau kerja di sektor lain, ya sulit karena mungkin umurnya sudah 45-an, menghabiskan seluruh waktunya di satu perusahaan (gimana nggak, wong cuma ada satu perusahaan di sektor tenaga listrik). Kemungkinan besar inilah jawaban atas pertanyaan “mengapa karyawan PLN demo?” “Apa yang selama ini mereka rasakan” adalah harapan untuk bisa kembali ke kampung halamannya. Alasan ini saya kira manusiawi, masuk akal, dan tidak berprasangka buruk, walaupun belum tentu 100% benar.

    Justru setelah ngoceh kesana-sini saya jadi punya pertanyaan baru: mengapa pemerintah Indonesia tetap akan meniru UK jika tidak semua kisah restrukturisasi sukses. Reformasi yang gagal seperti propinsi Ontario – Kanada, dan negara bagian California – AS itu khan kondisinya mirip Indonesia: (1) undercapacity — mereka sampai import listrik dari tetangganya, yang sesuai hukum pasar menunjukkan demand yang tinggi, jadi harga akan naik– ; (2) start harga rendah, karena tarifnya secara artificial dibuat rendah, di Ontario disebut Standard Supply Service, yang di California saya lupa, sorry; (3) Ontario-Hydro juga sama seperti PLN terlilit hutang, sementara yang di California, karena perusahaannya swasta, mereka minta “stranded cost” nya ditutup.

    Kalau memang pemerintah Indonesia beserta seluruh ekonom, insinyur, dan konsultan pendukung restrukturisasi yakin mampu mendesain market rules untuk Indonesia yang kondisinya sama dengan Ontario dan California, artinya mereka akan mampu juga mengatasi masalah di Ontario & California. Bila benar demikian, mengapa tidak dibuktikan dengan menjual jasa konsultasi ke sana dulu? Bilamana terbukti bahwa resep ala Indonesia bisa memecahkan masalah Ontario dan California, baru deh diterapkan di negeri sendiri.

  25. Sebenarnya, PLN dan PTPN kan kaka beradik ya..? tapi kenapa kok jauh sekali prestasinya. Mungkin perlu pemimpin yang visioner agar benar-benar bisa keluar dari masalah yang seperti lingkaran setan.

  26. >>pekerjasdm

    Setuju. Negara, perusahaan, dan organisasi perlu pemimpin yang sip. Dalam kasus PLN , … jangan pakai istilah yang terlalu di awang-awang seperti “visioner”, tapi menyitir ungkapan Resi Bismo,… perlu pemimpin yang bisa mengurai benang kusut :).

    Dalam hemat saya, walaupun sama2 BUMN, ada perbedaan mendasar antara PLN & PTPN. PTPN hidup di arena yang kompetitif, sementara PLN hidup di lingkungan yang regulated karena sifat usahanya yang monopoli itu. Dalam lingkungan yang bersaing, jika perusahaan tidak dapat meyakinkan pasar untuk membeli produknya atau tidak dapat menyediakan produk sesuai yang diminta pasar, maka dia akan gulung tikar. Ancaman seperti ini tidak ada dalam perusahaan yang regulated, apalagi dengan aset yang sulit dipindahkan. Masak iya sih PLN akan nyabutin tiang2 yang sudah terpancang di Manokwari untuk dipindah ke Surabaya karena operasi di Manokwari merugi sedang di Surabaya untung; sementara kita baca berita kalau NEC mindahin pabriknya dari UK ke Hungaria karena ongkos tenaga kerja di Hungaria lebih murah.

    Mengintrodusir konsep2 manajemen yang sangat berguna untuk perusahaan yang bersaing, misal seperti “competitive advantage”, bisa dengan mudah dipelesetkan ketika diterapkan dalam perusahaan yang regulated. Misal, ada buku yang menulis, “khan ada kompetisi ketika minta anggaran”, bisa dengan mudah diimplementasikan menjadi “yook kita kasih oleh2 untuk pejabat penentu anggaran.” dan jadilah kompetisi memberikan kado oleh-oleh.

    Mengintrodusir kompetisi ke sektor tenaga listrik ala UK, tetap menyisakan segmen yang regulated y.i. untuk transport listriknya (pengelolaan jaringan transmisi & distribusi-nya); sementara kompetisi komoditi listriknya sendiri dengan mudah menjadi kartelisasi. Sementara swastanisasi yang sudah diterapkan di sektor lain di Indonesia lebih menjurus ke “privatisation of profit and nationalisation of losses.”

    Jadi memang perlu pemimpin yang sip. Hari-hari belakangan ini kita baca di media massa tentang proses penunjukan direksi PLN yang begitu kental nuansa politisnya, sampai harus ada Tim Penilai Akhir yang terdiri dari 4 menteri segala. Semoga dari proses yang seperti benang kusut itu bisa menghasilkan direksi yang bisa mengurai benang kusut.

  27. oke, gini aja. kalau PLN beneran di privatisasi. luar jawa beneran rela gak ? soalnya yg paling sering protes sama pln kan justru luar jawa. misal medan, makasar, dan kalimantan yg suka byarpet listriknya.

  28. Sumatra khususnya riau paling setuju kalo pln swastanisasi, karena pelayanan pegawai pln bermental korup merajalela diriau khususnya perawang. Ada yang baru direkrut pada ketularan bahkan lebih ganas daripada pendahulunya.Udah ga melayani masyarakat malah minta dilayani. setiap ada kerusakan di jaringan kerumah, setiap rumah wajib bayar uang perbaikan gangguan. tarif udah mahal perawatan jaringan masa harus dari masyarakat lagi. kalo masuk listrik trafo penuh overload tapi pakai untuk daya 1300 va bisa dibantu dengan uang 8 juta. dasar kepala plnnya korup, namanya trinurkalid usia belum 30 an, gimana masa depan pln kedepan yang muda aja udah ketularan virus korup di pln.
    belum lagi masyarakat disuruh hibah jaringan padahal uanag proyek dikeluarkan masyarakat disuruh beli tiang listrik, tiangnya dicopot dari tiang penyangga tiang dijalan.bentar lagi ppada rubuh tuh tiaang yang ditikungan. uudah pegawai pln berbenahlah biar ga disumpahi makan uang haram……

  29. Dalam hemat saya swastanisasi bukan jawabannya, karena pasarnya tetap monopoli.

    Solusi yang sampai sekarang dipakai di AS ialah monopoli mempunyai counterpart: lembaga-lembaga wakil konsumen, dan regulator (komisi utilitas publik / KUP)sebagai hakimnya. KUP berperan aktif, dengan proses yang terbuka, dan posisinya ditengah-tengah, tidak boleh memihak pemegang monopoli maupun konsumen. Sederhana saja ya? Cuman membuat prosesnya terbuka itu lho yang kayaknya susah untuk ditiru.

  30. sewaktu masih pns, saya sering discuss dengan PT.KAI masalah PSO (subsidi pemerintah untuk KA ekonomi).Tarif sudah dibahas bersama antara BUMN dan pemerintah tentunya sudah menghitung semua variabel.Sebernarnya PTKAI sering susah menjawab kalo ada pertanyaan dari kita, tapi kembali lagi..semua keanehan itu sudah ditekel sama atasan…Jadi Jangan pernah samakan kondisi di pemerintahan dgn swasta karna banyak deal deal yg level level kaya kita gini (masih baru dan muda) untuk bisa mengerti.
    Boleh banyak konsep bagus tapi semua kembali ke…atasan.
    Mau ga nurut atasan??…ya siap siap hidup susah ato paling gampang resign kaya saya…he he

  31. TNB MALAYSIA BUKAN MILIK PEMERINTAH,,TAPI DIMILIKI SWASTA..PEMERINTAH MALAYSIA HANYA MEMBERIKAN SABSIDI GAS 30% DARI HARGA PASARAN..TAPI GAS HANYA MENJANA ELEKTRIK KURANG 30%,,DAN LEBIH MUDAH DIFAHAMI ADALAH SABSIDI PEMERINTAH MALAYSIA HANYA KURANG 9% DARI HARGA ELEKTRIK DI MALAYSIA..TNB TELAH MELANTIK PEMBEKAL2 ELEKTRIK SWASTA LAIN UNTUK MELABUR DALAM PENJANAAN ELEKTRIK DAN BEMBELINYA PADA HARGA YANG DISEPAKATI..DAN UNTUK PENGETAHUAN ANDA SEMUA,,BEKALAN ELEKTRIK DI MALAYSIA TELAH MELEBIHI DARI KEPERLUAN SEBESAR 41%,,JADI SABSIDI PEMERINTAH MALAYSIA TIDAK MEMBERI IMPAK PADA HARGA ELEKTRIK..UNTUK STANDART DUNIA DIPERLUKAN 20% ELEKTRIK SIMPANAN,,TAPI LEBIHAN 41% ADALAH PEMBAZIRAN PADA KOS …DAN NATIJAHNYA ADALAH BAGAIMANA TNB MALAYSIA BOLEH UNTUNG WALAUPUN MENJANA 41% LEBIHAN ELEKTRIK..??>>..MENGAPA PLN TIDAK BELAJAR DARI TNB..??..

  32. Begini saja….masalah PLN sebenarnya itu2 saja…….
    Kalau pemerintah ingin mendewasakan rakyat……..
    Ayo pemerintah mari lempar tarif listrik ke rakyat
    Jangan bersandiwara lagi dengan rakyat….
    Berikan harga yang mempunyai margin yang jelas
    biar rakyat tahu bahwa listrik itu memang mahal dan menjadi kebutuhan primer
    Rakyat Indonesia terbiasa manja..karena selalu dibela pemerintah…..sampai dimana pemerintah bisa memanjakan rakyat dengan jalan selalu mensubsidi..dan tidak mau menaikan tarif listrik sementara pemerintah sudah banyak utang..
    Janglah berlagak jagoan dan pelindung sementara tidak punya power untuk mengatasi.
    Apakah dengan mengharap simpati aja krisis listrik bisa di perbaiki……
    Berbuat yang terbaik untuk bangsa ini lebih baik dari pada ngomong doang
    Wahai pada decision maker…..mana keberanianmu untuk memutuskan ini.
    Jadi pemimpin harus berani…..dengan segala konsekwensinya….
    Kalo tidak…..berarti….tidak pemimpin negarawan dan nasionalis…..tapi hanya politikus,tidak punya keahlian yg nyata tapi hanya bisa duduk2 dibelakang meja.
    Ya Allah sadarkanlah pemimpin kami yang tidak betuuuul

  33. Banyak pendapat miring tentang PLN, sah sah saja . Orang itu pendapat yah,pandangan to apalah. Papa Bonbon silakan datng ke Humas PLN atau Pusat cari informasi yang sebenarnya. Karena yang Namanya PLN itu Ada: Pembangkitan, Penyaluran, Distribusi . Jadi Tidak sama rata. Jadi tidak semuanya orang PLN Korupsi atau oknum masih ada yang baik kok, terima kasih atas dimuatnya posting ini.

  34. PLN MAH RUGI JEUNG RUGI WEH….ANEH. GAJIH PEGAWE GARAREDE, UNGGAL TAUN NAEK, PADAHAL MAH LAMUN DITILIK SAHA ANU BENER2 GAWENA MAH BARUDAK OUTSOURCING, PAGAWE PLN MAH GEUS LOBA ANU AREMBUNGEUN GAWE RIPUH, NGEUNAH WEH JEUNG NGEUNAH, MATAK URANG DUKUNG PAMARENTAH SANGKAN PLN TEU BISA NGAMONOPOLI ATURAN LISTRIK KU SORANGAN, DUKUNG PLN DI BAWAH PEMDA SANGKAN BARUDAK OUTSORCING DIANGKAT JADI PNS, DOAKEUN NYA PAPABONBON SING DIARANGKAT JADI PNS, GEUS AYA ANU 15 TAUN KONTRAK GAWE JEUNG PLN TAPI TEU DIANGKAT WAE, DOAKEUN NYA……

  35. Pelayanan kepada pelanggan ( catat meter, pasang baru, perbaikan gangguan, pemutusan, loket pembayaran dsb ) sebetulnya ditangani oleh mitra PLN.

    Beberapa rekan yg menjadi mitra PLN merasakan kesejahteraan yg sangat kurang, sehingga pelayanan ke pelanggan menjadi amburadul, bahkan kadang2x ada yang mengutip ke pelanggan untuk nambah uang rokok.
    Hal ini berbanding terbalik dengan kesejahteraan pegawai PLN sendiri.
    Beberapa oknum PLN dengan kesejahteraan yg sdh cukup masih ‘bermain’ untuk mendapatkan memperkaya diri
    Bahkan beberapa pejabat PLN sdh masuk bui karena KKN.
    Sebetulnya dari segi SDM , pgw PLN kadang2x tidak lebih baik dari tenaga outsourcing.
    Tidak perlu berdebat , karena saya menulis ‘oknum’ bukan semua pegawai PLN.

    Perlu adanya efisiensi di Internal PLN , berantas KKN dan perbaiki kesejahteraan mitra dan tenaga outsourcing, dan awasi kualitas pelayanan mitra PLN ke pelanggan.

    Sudah merugi msh sempat KKN. Ini bertolak belakang dengan citra PLN sebagai perusahaan negara yang seharusnya mengabdi pada rakyat dan negara.

    Barangkali perlu ada forum online independen untuk keluhan pelanggan dan pengaduan KKN di lingkungan PLN.
    Forum bersifat umum , bisa dibaca siapa saja termasuk KPK dan dikelola eksternal PLN.

    Ingat …hidup didunia hanya sesaat , bisa lolos dari KPK , anda tidak bisa lolos dari malaikat.

  36. Mereka demo itu wajar mereka sudah biasa hidup mapan, kemudian ada isu restrukturisasi, mereka takut kemapanan mereka hilang, mereka ga bercermin dgn os yang ada. Sudah gajinya kecil (memang anggaran PLN untuk gaji os kecil , kalau dibesarkan anggaarannya banyak dari kalangan peg PLN menolak katanya Anggaran operasi habis sama OS saja) diisukan phk. Kenapa ya PLN tidak berpihak sama OS padahal awal pembentukannya lewat SKDIR dulu jamannya Pa Edi, dan mereka saya nilai cukup loyal dengan perusahaan, kenerja mereka baik baik dari Pelayanan, Administrasi sampai Pemeliharaan Jaringan. Sebenarnya mereka tidak minta diangkat jadi pegawai yang selama ini selalu diisukan SP PLN mereka cuma ingin gaji mereka meningkat wajar dengan beban hidup mereka paling tidak setengah atau tiga perempat gaji PLN barangkali itu wajar. Di Bank Bukopin juga ada OS tapi OS di sana diperlakukan sama dangan Peg tetapnya mereka punya gaji yang sama dan Karir yang sama. Bedanya mereka terikat kontrak saja. Sama dengan Pa Dahlan Iskan bukannya beliau juga mantan OS PLN beliau berkinerja baik untuk PLN sayang beliau belum menyelamatkan rekan OS PLN dari kesengsaraan yang selama ini mendera. Entah karena sibuk dengan pencitraannya atau memang EGP. Salam.. Sekali merdeka tetap merdeka. Merdeka dari ketakutan, kemiskinan dan perbudakan. MERDEKA INDONESIA

  37. korupsi …. ibarat LOSSES yang gak akan pernah hilang…. ditekan mungkin…. hilang impossible….

    Tunggakan … ya sama kayak Losses… kalo ada yang minta target tunggakan 0…. suruh aja tuh boss nagih sendiri….

    kalo ditanya PLN korupsi atau tidak…
    ada yang korup dan ada yang tidak….
    yang korup ya makin keatas makin gede duitnya…
    makin kebawah ya,… maen kecil2an palingan…

    ada yang korup untuk gemukin dompet…
    ada yang untuk bareng2….

    untuk kasus outsourching…. hmm….
    ya ada yang kerjanya melebihi pegawai….
    ada juga yang tidak…..

    seharusnya manajemen PLN yang ngejawab ini semua…
    kalo gak… cuman omong kosong aja…

    PLN ada koq penandatangan anti korupsi dan kerjasama dengan ICW… ( saya berdo’a mudah2an berhasil ) ===>> habisi lingkaran setan koruptor ( even gak yakin 100% berhasil ).
    ( kalo di film2 mafia…. bakala ada orang2 yang gak akan mau dibeli pake uang… mereka seperti penyakit… harus dibasmi….)
    Nasib orang2 bersih = is dead/dibuang/rata/overkill dsb…

    PLN juga udah tanda tangan …. No Gratifikasi…. ya ada yang bener2 melaksanakan…. ya ada juga yang hanya tanda tangan githu2 doank..

    mau berantas korup sampe ke akar2nya hmmm…. tapi kalo dipikir2 yo ndak mungkin… yang korupsi… gak cuman diatas… dari bawah juga… dari kinerja yang jelek kalo gak ada duitnya… sengaja dilama2in kerjaan kalo gak ada duitnya… dsb… ini sih gak cuman di PLN… di swasta juga buanyaaak…

    gimana kalo masyarakatnya yang dibenahi doeloe… bukannya… pegawai2 ini semuanya berasal dari masyarakat juga???

    bukankah pola pikir mereka juga pengaruh lingkungan juga???
    desakan ortu, mertua , istri, anak… dsb…

    sedih juga sih kadang… ngeliat out sourching kerjanya sampe bener2 nyerahin nyawa seperti itu… tapi gajinya gak pernah naik2… padahal boss2 itu semua… kalo ada masalah… ya yang nolongin yo wong2 cilik kaya OS ini…. even satpam sekalipun….

    tapi WHY… they never look the way OS lives….??

    ya even ada juga sih OS2 yang nakal juga… (fyuh)
    jadi… kalo masalah korupsi…. ya ndak bisa bener2 hilang… kalo negara kita kebanyakan toleransi… apalagi ketentuan hukumnya ndak menakutkan…. apalagi masih tebang pilih…
    kalo memang mau nangkerp koruptor… tangkep semuanya aja…. mau korup kecil kek… mau gede… tangkepin aja semua….
    ( yang mau nangkep siapa??? yang mau nggaji aparatnya siapa?? aparatnya bisa dibeli juga gak??? wew is not that simple )

    woy orang2 PLN…. dari pada loe semua pada ketakutan di PHK atau kesejahteraan ente2 pada turun….

    mendingan orang2 kayak loe2 pada… yang katanya jiwanya muda2… brillian2… and katanya always bisa ..bisa…bisa… and otak ente2 pada dach WCS….( world class services githu loooch )
    buat gih lapangan pekerjaan baru…. ( bukan kerja sama orang tapi orang kerja buat ente2.. kan ente pinter2…) jadi.. kalo gaji ente2 pada turun, pesangon2 ente ilang… ente gak perlu takut2 lagi… makannya buka luas pemikirannya jangan cuman PLN doank….

    DIKLAT wira usaha baru dikasih kalo dach mau pensiun…. pembekalan haji ma umroh kalo adch mo pensiun… mang masih muda kagak boleh apa pergi haji… wew….

    Pegawai dan OS harus kerja sama perbaiki PLN…. gak salah satu yang menang…. coba cari cara biar win-win solution… pikir tuh gimana biar Lossess gak gede… PLN tuh gak pernah RUGI… karena masih di subsidi… ( disubsidi ya gak mungkin rugi )….

    Dapet Bonus ya wajar boss…. ( Untung koq ) monopoli masih rugi…. mending kagak usah jualan kalo rugilah… (pembodohan)

    mau loe kate PLN rugi…. sesuai ilmu matematika….
    pendapatan + subsidi – pengeluaran > 0
    namanya masih untung… ( ruginya karena…. yang sudah sampun sepuh sanget…. biaya medikasinya melebihi 2 milyar… sudah keluar dana sebesar itu… ujung2nya tiada selamat juga… dan dana keluar sebesar itu…. tidak mendapatkan pendapatan apa2…. sehingga…. sekarang…. sudah dihapuskan …. efesiensi… bisa digunakan buat yang laen…)

    udah bro and sis…
    nyok bareng2 kita perbaiki nieh negara kita…
    kita indonesia negara agraris… budidayakan pertanian kita…
    gw yakin…. kalo pertanian kita maju…. gak akan ada orang miskin di indonesia… and jkt gak bakalan penuh….

    lagian gw sering liat koq… petani2 yang kaya raya karena punya sawah…. tapi juga ada yang miskin abis… karena cuman buruh tani….( wishing ada kenaikan upah tuk mereka )

    setelah pertanian kita maju…. baru kita pikirkan untuk plan… pengolahan hasil perkebunan tersebut… agar laku diluar untuk di eksport…. ( bisa diolah, dijual Raw dsb…. dengan harga mahal,…. kalo bisa pake brand…)
    soalnya… banyak lhooo orang2 bule di indonesia…. yang ke sini cuman nyari2 hasil karya kita… terus dikasih brand mereka… harganya melambung tinggi….( cuman proses seleksi doank padahal … yang nyeleksi dapat duit 5 kali lipat yang mbuat barang…. its sucks dude)….

    Jangan sampe kita indonesia cuman dibodoh2in sama orang2 luar… ayo bro and sis… kita sudahi peperangan antar saudara ini…. kita bangun negara kita… bagi2 informasi untuk memajukan bangsa…. gak cuman mikirin perut sendiri2…. kita ganti pemerintahan bobrok kita dengan jiwa2 muda yang bersih….

    PLEASE BANGSA GW INDONESIA…. wa can make it….

    sorry ya bro and sis… bacotnya kebanyakan… dan gak jelas… plus ngalor ngidul…
    karena kalo dipikir2…. semuanya berhubungan…. seperti benang ruwet yang kita tidak tau harus mulai dari mana….

    SALAM KUPER YAK…..
    hahahahahahaha

    numpang nyampah papabombon

  38. wajarlah pegawai PLN kalau mau di berangus.terutama pegawai yg sudah agak tua.selain kinerjaya sudah loyo.juga dikit- dikit minta duit. ganti saja sama pegawai yg muda2 semua.siapa tahu ada perubahaan adat istiadat di tubuh PLN. dahlan paham betul itu.

  39. Kasian jg papabonbon bikin web cuma untuk yg tdk bermanfaat, terlihat sekali blo’onnya. mikirin yg tdk ada korelasi dg dirinya. mending mikirin diri sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s