Mengapa sulit menjadi orang Jakarta ?

Papabonbon anak kolong.  Dan sejak kecil diajak pindah pindah kota, kendati tidak banyak, abis itu itu ajah, Malang, Depok, Magelang, Malang, Bekasi, Surabaya. Sejak lahir di Malang, dan kelas empat sd keluarga pindah ke depok.

Saat ini banyak orang Jakarta  bilang, di depok enak.  Padahal di masa papabonbon, di tempat itu adalah kawasan urban, – perumnas pertama di Indonesia- dan anak anak boedoet saat itu terkenal sebagai penyebar ideologi tawuran ke berbagai sekolah di jabotabek.  Pastinya kalau soal udara, masih lebih dingin malang lah .. :D

Masa sd kelas empat sampai kelas dua smp di depok diisi dangan kekerasan antar pelajar yang makin meningkat.  Kelas tiga SMP bapak memutuskan keluarga kembali ke Malang.  Harapannya dalam waktu dekat bisa mengajukan pindah kembali ke Malang.  Inilah kepulangan papabonbon pertama kalinya setelah lima tahun di ibu kota.</span

Dan SMA, papabonbon sekolah berasrama di jawa Tengah.  Di masa SMA papabonbon mencoba keliling ke berbagai kota.  Pekanbaru, Padang, Palembang, Bandung, Semarang. Ketika kuliah memuaskan diri banyak banyak main ke Jakarta, Bandung, Jogja, Bali. Ketika kerja nyasar di Surabaya, Bekasi lalu Surabaya lagi.  Semua tempat sih sebenarnya sama saja ketika kita sudah mengaggap tempat itu sebagai rumah kita.

Masalahnya adalah :

    Jakarta begitu macet dan meskipun punya uang, kita nggak bisa dealing dangan waktu.  Jika kerjaan kita jaraknya jauh dari pusat pendidikan.  Mau sekolah lagi ketika di Jakarta pun jadi sulit.Jakarta kompetitif, tapi terlalu banyak yg dikorbankan, relatively dibandingkan kota besar lain.  Misalnya Medan, Bandung, Semarang, Surabaya.  Harga rumah dan sewa hampir sama saja, sementara di kota lain waktu yang berharga itu jadi milik kita lagi.  

    Pendidikan buat anak, maupun untuk diri kita jadi lebih terjangkau.  Contoh saja, S2 Akuntansi di UI butuh 70-80 jutaan, sementara di unair masih di angka 30 jutaan.  Sama sama kelas malam.  Dan di UI sudah kena kendala waktu kalau kita kerja di pheri pheri, seperti di Karawang, Tangerang atau Bekasi.  Mau tahu biaya kuliah spesialis per semester di Unair ?  Teman papabonbon yang kedokteran dan sedang ambil spesialis hanya Rp 600 rb.  Dan tahun ini kendati naik hanya Rp 1 jt per semester.  Malah S2 Akuntansi masih di angka Rp 5 jt per semester – regular dan Rp 6 jt per semester – kelas malam.

    Biaya kesehatan sih relative.  Makanya cari kota yg punya fakultas kedokteran yang jadi acuan wilayah sekitar.  Surabaya jadi keren untuk bidang kesehatan secara seluruh Indonesia Timur rujukannya yah ke RS dokter Sutomo.  Unair pancen oyeee…   Kalau dapat asuransi kesehatan yang preminya dibayar perusahaan, masalah sebenarnya terselesaikan.

    Biaya pendidikan jelas bagaikan bumi dengan langit.  Jika al Azhar cabang Bekasi sudah berbandrol 15 jutaan, di al Hikmah / Al Falah Surabaya masih di angka 6 juta. Mau banding bandingan juga antara SMA 8 Jakarta dengan SMA 5 Surabaya ?  yang pasti kalau di Surabaya ndakperlu pusing mbayarin antar jemput lagi … :D  Yang pasti pemkot SBY memang belum “sekaya” mampu mbayarin tunjangan guru 2 jt per bulan seperti Pemda DKI sih … :P

    Yang jadi masalah hanya satu.  Gaji.  Karena para ekspert di Surabaya banyak yang undervalued.  Gaji di Deloitte Touché Surabaya, freshgrad masih di level Rp 1.2 jt.  Padahal tahun 2000 dulu, papabonbon 850 rb.  Jadi gaji di SBY masih merangkak.  Tapi … pendapatan orang sales di distributor berlevel nasional atau orang marketing di perusahaan MNC masih oke kok.  Ndak kalah lah dangan orang Jakarta.  Jadi solusinya, cari kerjaan gaji Jakarta, tapi lokasi di daerah.

    Yang positif dari Jakarta, produknya rata rata “berani”.  maklum terbiasa hidup sumpek, dan punya standar lebih tinggi dari orang daerah. Sudah biasa pulak lihat barang mahal, jadi ndak kagetan  :)

Happy hunting, guys … :D

About these ads

26 thoughts on “Mengapa sulit menjadi orang Jakarta ?

  1. @Suatuhari, salah tuh nulis Sidney. Sydney yang benar, kalo Sidney itu nama orang biasanya. belum pernah ke OZ ya…hue..heh :P

  2. @sugeng A
    ya, salah dikit kan wajar2 aja.. :D
    2 benua yang belum pernah saya injak: Australia dan Antartika.
    Tapi saya banyak teman dan saudara di sana yg dari ceritanya, not so bad lah… ;)

  3. lihat poin satu mas : “meskipun punya uang, kita nggak bisa dealing dengan waktu”. waktu berjalan cepat di jkt dan jadi meresahkan karena transportasi massal yg brengsek a.k.a matjet dan banjir yg bikin deg degan.

  4. Yah..kalau udah punya uang banyak mah di rumah aja ngurus ayam kek…burung kek…ngapain ngoto lagi ngejar waktu nyari duit?

  5. ia nee..klo tinggal di jakarta tuh cepat stress apalagi klo pulang kerja n macet lagi,, tp klo orang pulangnya Ber AC sih (alias naik mobil pribadi) enak2 aja sambil dengar music , tp klo pulang naik angkot udah panas sempit lagi wah kayaknya ga mau lagi lewat jalan itu n klo perlu nginap aza kli ya di kantor ~_*

  6. ah, gak juga. manajerku punya rumah di cibubur dan punya mobil juga. tapi sehari harinya malah ngekost di grogol. rumah cibubur cuman buat sabtu minggu doang. malah pusing, soalnya kalau senin kena macet berat, nyampe kantor dah setengah sebelas siang :D

    tapi karena orang kaya di jakarta sudah biasa kena macet, dan berusaha menikmati hidup bersama macet. jadi yah, biasa saja. jadi gak biasa setelah mengalami mudik atau liburan cukup lama di wilayah lain. kesadaran baru, muncul. ada yg salah dgn jakarta :D

  7. Ada yang bilang Surabaya adalah Jakartanya Jawa Timur dan Malang adalah Bandungnya Jawa Timur. Tapi emang dari jaman Tipi masih hitam putih sampe Tipi jadi banyak Channel, Jakarta selalu jadi idola meskipun dah penuh sesak. Jadi…
    (Di Malang sekarang lagi dingin-dinginnya)

  8. http://www.beritaiptek.com/zberita-beritaiptek-2006-10-06-Menggagas-Kota-Hak-Asasi-Manusia.shtml

    Kota-Kota Terbaik di Dunia

    Dalam survey yang diselenggarakan Economist Inteligence Unit (2005), kota-kota ternikmat untuk ditinggali (world’s best place to live in) sebagian besar terletak di Amerika Utara (Canada & USA), Eropa, dan Australia. Survey tersebut menggunakan 40 indikator yang berbeda dalam 5 katagori utama, masing-masing stabilitas, perawatan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan dan infrastruktur. Hasilnya, Vancouver (Canada), Melbourne (Australia), Vienna (Austria), Toronto (Canada), dan Calgary (Canada) ditahbiskan sebagai lima kota terbaik untuk ditinggali di dunia. Mengapa tiga kota di Canada dapat menempati posisi lima besar? Karena kota-kota tersebut rendah angka kejahatannya, minim ancaman terorisme-nya, dan memiliki infrastruktur yang sangat lengkap dan maju.

    Sementara itu, Mercer Consulting yang berbasis di New York melakukan riset yang hampir sama setiap tahunnya. Analisisnya berdasarkan 39 unsur kualitas hidup semisal politik, sosial, ekonomi, lingkungan, keamanan pibadi, jaminan kesehatan , pendidikan, kemudahan transportasi, dan lain-lain. Hasilnya, pada tahun 2005 Mercer menahbiskan Geneva, Zurich, Vancouver, Vienna dan Frankfurt sebagai kota terbaik dunia.

    Kota terbaik di Asia menurut Mercer Consulting adalah Singapura dan Tokyo, keduanya menempati rangking ke 34. Kemudian, Jepang adalah Negara Asia terbanyak yang menempatkan lima kotanya pada jajaran Top Fifty, masing-masing Tokyo, Yokohama, Kobe, Osaka, dan Tsukuba.

    Sebaliknya, kota terburuk dunia, masih menurut Mercer Consulting adalah Baghdad (Irak), Abidjan (Ivory Coast), Lagos dan Port Harcourt (Nigeria), dan Bangui (Central African Republic). Parameter yang digunakan untuk kota-kota terburuk adalah tingginya angka kriminalitas, rendahnya jaminan keamanan dan keselamatan pribadi, ketidakstabilan politik, maraknya konflik sipil, dan lemahnya penegakkan hukum (law enforcement).

  9. @papabonbon:
    aku kok suka dg kota besar ya.. semua ada, more challenges, more opportunity, more dynamic. kalau ke tempat sunyi juga suka, tapi bukan buat tinggal menetap, cuma buat bersantai aja temporary.
    Karena itu bersyukur dapetnya Tokyo bukan kota lain di Jpn.

    Dibanding bbrp kota besar di Eropa yg aku tau, Tokyo is much better in terms of safety, public facilities, infrastructure, and cleanness.
    Baru2 ini ada teman baik kecopetan di Swiss. Insya Allah kapan2 aku ceritakan sedikit di blog (atas permintaan dia, buat dokumentasi katanya, soalnya rada lucu “petualangan” dia sebulan di eropa kemaren).

    Aku suka kota2 di Canada (eh cuma bbrp kota sih yg pernah tau). Tidak sebersih dan seaman Tokyo kayaknya (soalnya bbrp kali jalan malem, rada deg2an juga dideketi hippies). Lebih dingin juga. Orang Canada umumnya cakep2 hehehe (apa hubungannya coba), beda sama orang Amerika. Tapi entahlah kalau merasakan jadi penduduk sana.
    Yang membosankan di Tokyo adalah gedung2nya yang setipe dan sewarna, dan orang2nya yang cenderung distant dan tertutup.

    Hmm.. terus terang, kangen juga sama Jakarta. Bukan kangen macetnya atau semrawutnya, tapi kangen keluarga, makanannya, kerjaan, Indonesianya.

    @suatuhari:
    Sama, aku juga belum punya kesempatan mengunjungi dua benua itu. Gimana caranya ke Antartika ya?

  10. yup, papabonbon lumayan suka kota besar juga kok. dgn alasan yg disebutkan diatas. tapi untuk tinggalnya lebih suka di pinggiran kota atau kota satelitnya. makanya ketika transportasi massal jadi masalah di kota besar Indoensia, papabonbon jadi sebel banget. :D

    Yah, meskipun a. yani kalau pagi sore mesti macet, toh tidak semacet jakarta. karena itu, papabonbon pilih Surabaya :D coba a. yani gak macet, dan kereta komuter sidoarjo sby jadwalnya lebih banyak kayak KRL dan yg penting ndak ada acara lapindo lapindoan, sudah pasti papabonbon pilih tinggal di sidoarjo dan kerja di sby :D

  11. kalau aku..berhubung terlanjur kuliah di daerah industri yang dekat dengan kota besar..
    terlanjur membandingkan standar kehidupan kota kecil dengan kota besar..
    telanjur mengetahui bahwa mencari kerja di kota besar jauh lebih mudah daripada di kampung halaman sendiri, termasuk untuk standar gajinya…
    terlanjur menyadari bahwa gemerlapnya kota memang menjadi motivasi untuk kejar setoran, walau di lubuk hati paling dalam masih merindukan berjalan di pematang sawah..:-) (rumah saya kan deket sawah tuh bang!)
    insya Allah,,klo dalam planning pribadi ke depan, saya mungkin memilih untuk bekerja di Jakarta (di kota besar) tetapi untuk tempat tinggal di Jakarta coret..macet2 deh saya lakonin, yang penting hunian bebas polusi, anak(ya elah anak..masih lama bgt yaks!) ngga ngajakin ke tempat yang ngga2..dan pastinya lebih murah kan?
    Saya masih sulit meninggalkan kebiasaan ngeliatin sawah, nyariin empang, memelihara ikan, jalan-jalan pagi cari sarapan, makan pakai tangan sambil kaki diangkat(hehehe..orang yg ngga kenal ngga bakal nyangka saya lebih comfort makan pake tangan, klo ngga inget tuntutan jaim..hihihi)
    Yang jelas, orang tua sudah saya wanti2 untuk tidak meninggalkan Magelang tercinta..hehehe..saya masih pengen punya kampung…
    Lagipula biar gampang jika suatu saat saya punya cita2 untuk berinvestasi di Magelang.. :-)

  12. Ayu, tak kasih tahu satu info.

    Di Kievit, pabrikan susu tempat kerjanya Saut di Salatiga itu, untuk level supervisor, dua tahun lalu gajinya sudah 7 jt lho.

    Bayangkan, salatiga – magelang kan deket banget tuh . Malah salatiga sejujurnya lebih strategis :D mau ke Semarang gampang, ke magelang gampang, ke Solo gampang, ke Jogja juga gampang banget. so, kamu ndak berminat nih, dgn salatiga ? :D

  13. Setuju buat papabonbon.

    Lebih baek kerja di Sekitar Surabaya (Gerbangkertosusilo) dengan gaji pas2an (4jt-an) untuk fresh graduates (pegawai tetap) tapi hidup nyaman dan tenang.

    Aku kos dideket tempat kerja, Alhamdulillah Uang kos sebln cuma 150rb,makan selama sebln paling cuma habis 600rb, hura-hura 250rb. Tapi hidup nyaman dan bahagia. He5x.

    Daripada kerja di jakarta gaji gede,tapi kebutuhan jg gede. mending gaji kecil tapi kebutuhan jg kecil. ^_^

    Peace.:-)

  14. 4 juta lumayan lah. [udah termasuk overtime nih ya, ceritanya ...]. anak pub memang salah satu andalannya yah, overtime. jaman di bekasi dulu, gaji 2 jutaan, overtimenya juga 2 jutaan. bayangin aja, sabtu minggu dan malam hari yg dihabiskan di kantor demi OT. wah wah .. cara hidup yg tidak sehat.

  15. Glodak.!!!

    4 juta tuh belom termasuk overtime!!!!! CUma kerja reguler aja.
    Masuk jam 07.30, jam 11.00 siap2 istirahat siang dan sholat (ishoma), jam 13.30 balik ke kantor. Jam 15.00 Siap2 sholat ashar trus jam 16.00 Pulang kerja dech. ^_^

    Yang penting didalam Jiwa yang sehat terdapat pikiran yang sehat. Jiwa Sehat karena kerjaan dikantor enak dan nyaman. ehmm…..^_^

  16. Semoga kita bisa menikmati setiap kopi yang disuguhkan di cangkir yang kita miliki.
    Sekelompok alumni satu Universitas yang telah mapan dalam karir masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang telah tua.

    Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stress di pekerjaan dan kehidupan mereka.

    Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis – dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah – dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

    Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami.”

    “Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain.”

    “Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang di sediakan bagi kita.”

    Kita memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya.

    Sadarilah jika kehidupan anda itu lebih penting dibanding pekerjaan anda. Jika pekerjaan anda membatasi diri anda dan mengendalikan hidup anda, anda menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri anda sebagai manusia. Pastikan anda membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan anda.

  17. Kalo saya sih lebih seneng penghasilan gede, di kota gede. Kebutuhan kan kita kalo bisa manage juga ngga linier dg kenaikan gaji. Istilahnya penghasilan bisa naik 30% setahun, kebutuhan naik paling 5% setahun.

    Saya bukan anak dugem, tapi saya suka makan, jalan, dan fotografi. Tapi ya, makan kan tetap sepiring. Gadget ngga beli tiap bulan. Lain2nya kan sama aja dg penduduk umumnya: ongkos, buku, nonton, kumpul2 sama keluarga. Kebutuhan fashion juga cuma sesekali.

    Misal gaji 100 di jkt, kebutuhan 20. Thn depannya gaji 125, kebutuhan jadi 25. Kalo bandingannya dg gaji 70 di kota kecil, kebutuhan 15. Thn depannya gaji 80, kebutuhan 20. Mending di jkt kan? :P

    Macet? Ya di jalan sambil baca, makan, ngobrol sama suami, atau tidur.

    *maksa.com* :D

  18. wah..ngga tau juga deh bang…
    sebetulnya, masih terbersit di hati saya untuk meraih pendidikan tidak hanya terhenti di jenjang S1 saja..bahkan kadang2 saya terpikir pengen bisa jadi dosen..biar waktunya fleksibel n ngga kejar setoran terus,,
    bukan berarti ngga bisa,,tetapi saya ingin merasakan makna idup aja bang..(ciela..)
    iya yah…lumayan juga tuh tempatnya bang Saut…
    ngga tau juga deh bang,,,liat nanti aja..

    yang jelas prinsip saya, saya ngga ingin menuntut ilmu setengah setengah,maksudnya, saya ingin menuntut ilmu yang membuat hidup saya menjadi lebih mudah..bukan justru semakin membuat kita terkejar-kejar…

    kan kedepannya saya ngga hidup hanya diri sendiri, setidaknya masih ada orang tua yang harus diperhatikan..atau nanti kedepannya, insya Allah jika Tuhan mengizinkan, klo saya nikah? yah semoga semuanya bisa berjalan lancar dey..amin…Maka dari itu saya harus mengoptimalisasikan dan bisa mengambil kesempatan dari bekal yang saya peroleh selama ini, dan mempersiapkannya untuk masa yang akan datang..
    merdeka!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s