besar pasak, DARIPADA KENTANG

Arsip untuk Januari, 2007

Genuine Mak Syukur … slurrp

Ditulis oleh papabonbon di/pada Januari 27, 2007

Mengapa sate mak syukur terkenal sekali ? Kalau pergi sabtu minggu sore hari, yakin deh keabisan. Ok, akhirnya setelah percobaan ketiga, dapat juga kita menikmati sate mak syukur yang terkenal mak nyuss ini. lokasi di padang panjang, kira kira setengah jam dari bukit tinggi.

Terus terang, awalnya saya underestimate dengan mak syukur ini. meskipun percobaan makan mak syukur di foodcourt Pasaraya Grande di Blok M juga gagal dua kali :D Mikirnya papabonbon, apalah yg bisa diunggulkan dari sate padang. paling paling setingkat lah lebih enak dari sate padang Ajo Ramon kesukaanku di pasar santa blok M.

Kenyataannya, di mak syukur ini, aku makan sampai namba, dua porsi habis deh … secara visual [yg mungkin tidak nampak di foto di bawah ini], satenya lebih besar [besar besar jujurnya], dan gilanya iga sapi muda yang dipakai bisa tetep lembut sekali. sangat cocok dengan bumbu sate padangnya, yg juga gilanya terasa lebihrenyah dibandingkan sate padang unggulan di bekasi dan jakarta.

mak syukur

bumbu yang gurih ini, diberikan dalam porsi banyak. jangan salah sodara sodara, daun pisang yg dipakai untuk tempat ini benar benar besar. bahkan piring lebar yg biasa dipakai di seafood pun kalah besarnya.Aku mengikuti saran dari milis js, kalau makan mak syukur, bumbunya di serap pakai kerupuk jangek [kerupuk kulit]. haiyaaa, akhirnya aku habis 3 kerupuk jangek dengan ukuran sangat lebar. benar benar cocok sekali dengan sate mak syukur ini.

sate bumbu yang datang panas, dan ketupat yang masih hangat dan sate panas bekas bakaran, mengalun lembut ketika dilahap satu demi satu. puas, nikmat dan full. mengalir tenang bersama aroma iga bakar yang menaungi resto sejak kita masuk pertama kali. oh ya, lontongnya juga spesial, karena bau khas daun pembungkusnya [bukan dibuat dari plastik], saling tunjang menunjang dengan keharuman aroma sate, dan wanginya bumbu sate padang.


orang orang pada gila nih, semua daun kosong dideketin ama gue, biar papabonbon dikira makan tiga porsi sekaligus weekekkekeke, ampun dah !. btw, udah pada lihat kan perbandingan besar dan lebarnya daun dengan gelas besar itu ? :D

Iya nih, ada yg bernasib sial dengan mak syukur ini. insiden bang goklas nyari sate kecap. Jadi bang goklas ceritanya ndak sadar kalau mak syukur ini khusus sate padang saja. jadi ketika sampai di lokasi [lagi, setelah bolak balik keabisan], si abang nekad nanyain ada sate kecap atau bumbu kacang ndak … wekekeke, jelas aja ndak ada. dan meskipun mulai makan dengan wajah pucat, tetep aja tuh, sate mak syukur jatahnya habis. gila keren banget .. !!!

di bawah ini bang budi dan bang goklas dengan mak syukurnya masing masing …. :D yg baju merah menyala tuhb. Goklas, yang makannya ndak abis abis … huhuhu …

Ditulis dalam kuliner | 18 Komentar »

Gulai Tambunsu, nendang je !

Ditulis oleh papabonbon di/pada Januari 27, 2007

Jalan jalan ke Ranah Minang [2]
Kamu pernah dengar istilah Gulai Tambunsu gak ? aku mendengarnya pertama kali dalam cerita Tulis Sutan Sati kayaknya …. dan belakangan bolak balik dibahas di milis jalansutranya oom Bondan Winarno [maknyuusss]. diceritakan, bahwa ini adalah gulai yang dibuat dari usus, yang diisi dengan telur, dan digulai sampai bumbunya meresap dengan aroma merekah.

hmmm, sebagai penggemar jeroan, it’s sound delicious. kalau kamu lihat itinerary acara di itinerary ranah minang, maka acara makan gulai Tambunsu ini jelas nggak akan dilewatkan.

silakan lihat gambarnya berikut ini :

gulai tambunsu

dan kenyataannya, selama 5 hari di bukit tinggi, aku sukses makan gulai tambunsu ini dua kali. lokasi foto ada di los lambuang, pasar lereng [deket jam gadang, dari los souvenir, cari yg sebelah kanan, ikut aja jalannya]. Di los Lambuang [khusus tempat jualan makanan ini], ada Uni Lis yg paling terkenal dengan harga sangat komersil. sementara uni Er/Hendri yang harganya lebih moderat dan sama sama juara nasi kapau, sangat reccomended.

Nasi Kapau di bukit tinggi ini sangat berbeda dengan nasi padang biasa. sayurannya, ada rebung, sawi lebar bumbu kuning, sekeping jengkol muda, dengan rontokan jangak kering berbumbu rempah yang dipotong dadu, dan sambal merah. modenya bumbu kering, dan tidak terlalu mengandalkan kuah. ada sayur kacang panjang dan paku kalau mau. rempah rempah yang tajam ini, cocok sekali dimakan bersama usus berisi putih telur yang gemuk. rasa pasif tawarnya, melt dengan bumbu rempah dari nasi kapau. benar benar orgasmik.

Minumnya saya sarankan teh talua [teh telur], yang rasanya enteng, enak, dan gurih. sama sekali tidak ada jejak rasa amis, kendati dibuat dari kcocokan putih telur dipadu rempah dan teh hangat. pada hari ketga ketika mencoba tambunsu kedua kalinya, dan usaimencuci tangan dengn air panas yg disediakan, saya bermalas malasan sambil menulis note perjalanan. minum teh talua sambil melihat pengunjung satu demi satu.

oh ya, ini dia gambarnya teh talua ….

teh talua

enak tenan … :D kenikmatan bermalas malas begini, memang mewah huehehehhehe … serasa stephen king lagi nulis thriller horror di tengah hiruk pikuk kota Madras … :p

Total kerusakan, gulai Tambunsu 12 rb, dan teh talua 3,500 [di Uni lis pasar atas, makan tunjang aja, kena 19 rb :D wekekekekek komersil abis deh, uni lis itu ....]

Ditulis dalam kuliner | 6 Komentar »

Bang Bulbul Beli Kambing !!! :p

Ditulis oleh papabonbon di/pada Januari 15, 2007

Laporan perjalanan ini dibuat sebagai kelanjutan dari thread bang bul beli kambing dan rencana perjalanan [cari barengan dari jkt] ke magelang sejak seminggu yg lalu di http://www.ikastara .org/forums/ showthread. php?t=2196

===

LAPORAN PERJALANAN MINGGU 15 JANUARI DI MAGELANG

Sabtu kemarin tgl 13 hari penggantian di kantor papabonbon, jadi dari pagi masuk biasa di kantor, dan sorenya barengan Ayu, rekan TN13 yang cah asli Magelang, bergerak menuju Magelang untuk menghadiri acara Bang Bulbul beli Kambing :D

Perjalanan dari Cikarang jam 6 sore [naik bis Ramayana, yang tiba tiba berubah menjadi travel karena penumpangnya cuma 5 orang], sampai di Magelang jam 6 pagi, dan akhirnya sampai di tempat Ayu jam 7 pagi. Setelah ramah tamah, say hello dan ngobrol ngalor ngidul serta konsultasi tanaman hias dengan bokapnya Ayu yg ternyata pakar tanaman hias, dilanjut sarapan, bobok bobok, kita berangkat jam 10 pagi ke acara kawinannya bang Bul di Tuguran I nomer 35.

Bang Bul terlihat mantapbs, sudah dipotong habis tuh, rambut panjang ala highlander yang biasa dikuncir, jenggot kesayangan juga sudah hilang. Jadi doi sekarang tampil kelimis manis, lengkap dengan beskap hitam dan blangkonnya [ndak lupa keris terdandang di pinggang, siap dipakai mengusir tamu yg mengacau acara :p]. huehehehhehe jadi beda, serasa liat bang Bul yang asli jebolan TN lagi :D istri bang bul, mbak M, tampil dengan kebaya putih, cantik manis dengan postur yang sepadang dengan bang Bul. selamat buat bang bul ….

Ketika kita mengantri salaman dengan pengantin, terlihat pak Daryono dan istri di barisan belakang. Berlanjut sapa menyapa dan ngobrol ngobrol dikit. Pak Daryono terlihat lebih kurus dari biasanya. Bisik bisik dengan rekan alumni lain, konon lagi mikirin anak semata wayang, yang tahun ini akan memasuki jenjang universitas.

Sekolah memang makin mahal saja. Ketika siangnya kita, ayu, dan papa mamanya ayu sambil jagongan makan singkong goreng, saat saat sekarang ini, untuk masuk universitas bergengsi yang berstatus BHMN biayanya mahal sekali. ITB saja sudah pakai uang pangkal 45 jt, dan biaya persemester 3 juta, belum biaya mata kuliah per sks. hueeehh

Setelah ketemu pak Daryono, sambil menikmati hidangan di acara bang Bul, ada mas Danang suami istri dan mas lab komputer yang pakai kacamata tanduk. Mas siapa yah .. namanya. Yang pendiam dan kalem berkulit gelap deh, lupa namanya hehehehe :D . Sorry yah, mas.

Berikutnya berturut turut nampak Daus [Firdaus Adi Nugroho Tn5], bang Herry Dian, Arezk, Herman, Setiawan HP dan cewek cewek gank TN7 dan TN9, [totalan 7 orang]. Ngobrol panjang lebar, pamitan dan pulang, setelah potret bersama bang Bul dan rekan rekan Ikastara. Naik mobil bersembilan, akhirnya Herman, ssalah satu Tn’ers selaku driver mengarahkan dokar kita, jalan jalan keliling keliling TN, liat graha putri sambil bermobil. Salut dengan TN yang sudah mengomersilkan gedung pertemuannya untuk acara kawinan bagi umum [buat para srikandi TN yg asli Magelang, Mungkid, Muntilan, boleh juga lho, mempersiapkan surat sejak sekarang untuk peminjaman lokasi di TN untuk acara kawinan huehehehhehe :p]. Kita ndak turun dari mobil, secara kita haha hihi aja mengenang TN dulu dan sekarang.

Oh ya, tahun lalu, pintu graha udah ndak karuan bentuknya, dan sekarang ini sudah diganti pintu kayu yang tebal dan kokoh kuat. Tapi beberapa jendela yang pecah masih keliatan beler beler. Kusen yang catnya sudah luntur jadi kelihatan ndak sepadan dengan pintunya. Oh ya, di pintu belakang graha sekarang ini ada kursi kursi bangku panjang buat kongkow kongkow. Asik nih, serasa mimpi liat anak TN gitaran sore sore sambil melepas stress dan godain anak pamong.

Oh ya, pak Parwin rumahnya sekarang di samping graha putri, anaknya Lia yang dulu jadi favoritnya cowok se-TN terlihat lagi bercengkerama di depan rumah. Kita kita, para cowok lugu dan jujur, yang sebelumnya ndak ngenalin lagi, cuman mbatin, wah, pembantu pamong aja sekarang ayu ayu yah …. Pas cerita cerita, itu Lia lho bang, jelas aja jadi kaget dan yang jelas aja jadi ger gerannya TN’ers lain yang masih ngenalin kalo itu Lia nya pak Parwin hueheheheh

Jam satu kembali ke rumah Ayu, sholat, istirahat, de el el, trus jam 4 sore pulang lagi ke Jakarta. Jam 6 pagi, bis Handojo yang saya naiki sampai di Bekasi Barat. Langsung naik bis jemputan kantor, ndak pakai mandi langsung ngantor, ke kantin sarapan, trus nulis email ini. hueheheheh kepet, kepet deh, cuek ajah :D

Ok, sodara sodara, kayaknya toilet kantor udah sepi, saya mandi dulu yah … :D [sambil minjem sabun cair ke Cahyo :p]

Ditulis dalam Keluarga, life, silaturahim | 10 Komentar »

RENCANA BESAR : 5 HARI 4 MALAM DI RANAH MINANG

Ditulis oleh papabonbon di/pada Januari 8, 2007

Ini itinerary sebelum diotak atik minggu kemarin di pasfest bareng bang Budi dan bang Goklas. Yang pasti kita rencana nginep tiga hari di bukti tinggi dan sehari terakhir di Padang. Hari ke empat, pengennya sih, kalo bisa ke pulau Sikuai. Yah, sangat tergantung cuaca, waktu dan modal. Wong ide ide tempat di itinerary di bawah ini rencananya bakalan di reduce 50 persen. Kita lebih menyukai in-depth experiencenya dibandingkan turis sovenir yang acaranya cuman datang, foto foto, belanja, pergi.

Ndak puas dan ndak berbekas aja sih rasanya hueheheheh :p Oh ya, dan jangan lupa, acara perburuan kuliner Padang ala Bondan Winarno, secara kota Padang tercinta ini gudang makanan enak hueheheheh ….

Hari 0 : Kamis 18 Januari 2007

  • Datang ke Padang siang hari, karena papabonbon dapat tiket Air Asia QZ 7524 jam 15.40. sampai di Padang sekitar maghrib deh. Rencana sih pengen makan makan di Padang ajah deh. Pssst program kulinernya juga udah dibikin lho hueheheehe

Hari 1: Jumat, 19 Januari 2007

  • Rombongan utama berangkat dari rumah dengan bus DAMRI pukul 05.00 WIB ke Bandara Sukarno-Hatta, Cengkareng. Terbang ke Bandara Katapiang, Padang dengan pesawat Air Asia QZ 7526 pukul 07.30-09.10 WIB. Pastikan mobil sewaan dan supir sudah siap menjemput.
  • Tepat di tepi jalan, sebuah air terjun deras mengucur dari ketinggian tebing batu yang curam setinggi sekitar 40 m, Air Terjun Lembah Anai mendadak menyeruak di depan mata. Untuk memasuki wilayah air terjun, cukup membayar tiket seharga Rp. 1.500 per orang.
  • Sempatkan makan siang di RM. Sate Syukur, Padangpanjang. Satenya lembut dan sangat lezat.
  • Mampir di Batusangkar, lalu mengunjungi Istana Pagaruyuang, Istana Silinduang Bulan, Batu Basurek, dan Batu Batikam.
  • Setelah itu, melaju ke Bukittinggi dan bermalam di Hotel Cinduamato (Jl. Cinduamato No. 96/0752-21346), harga Rp. 60.000-75.000.

Hari 2: Sabtu, 20 Januari 2007

  • Seusai sarapan, arahkan mobil ke Payakumbuh. Tak ada salahnya mengagumi Rumah Gadang Koto Nan Ampek yang konon berusia 500 tahun.
  • [Nikmati tebing curam Taman Nasional Lembah Harau, sekumpulan tebing 100-150 m tingginya. Tiket masuk hanya sebesar Rp. 1.000 per orang. ]
  • Mampir di Ngalau Indah, gua dengan susunan stalagmit dan stalagtit berwarna indah. Tiket Rp 2.000 per orang dan Rp. 2.000 per kendaraan.
  • Makan siang di Bukittinggi.
  • [Mampir di Hutan Bunga Raflessia.]
  • Menuju Danau Maninjau, sebuah danau yang indah. Perjalanan ke sana sangat memesona. Silih berganti, nikmati pemandangan sawah dan pepohonan lebat di antara tebing-tebing. Tatap puas-puas panorama Sungai Landir, Puncak Lawang, dan Kelok 44. Ini adalah nama akrab untuk jalan berkelok-kelok tajam menuju Danau Maninjau. Makan-makan sambil menikmati Danau Maninjau.
  • Jangan ketinggalan untuk menikmati asyiknya mandi sore di Air Panas Alamanda, sebelum menuju hotel untuk bermalam.
  • Bermalam di Hotel Cinduamato (Jl. Cinduamato No. 96/0752-21346), harga Rp. 60.000-75.000.

Hari 3: Minggu, 21 Januari 2007

  • Seusai sarapan, Ngarai Sianok telah menanti. Lembah subur sepanjang sekitar 15 km dengan tebing curam berketinggian 100-150 m. Mengagumkan!
  • Di salah satu sisi ngarai, bersantai di Taman Panorama yang ditata manis dan dilengkapi kios-kios cinderamata. Tiket masuknya hanya Rp. 2.000 per orang.
  • Terdapat sebuah terowongan yang dipakai para prajurit Jepang di masa PD II, Lubang Jepang. Dibangun sekitar 2 m di bawah permukaan tanah Kota Bukittinggi.
  • [Mampir di Desa Pandai Sikek untuk berbelanja kain tenun dan ukuran. Setelah itu, melaju ke Koto Gadang yang terkenal dengan kerajinan peraknya.]
  • Benteng Fort de Kock adalah pilihan wisata sejarah yang tak boleh dilewati. Berdiri megah di puncak Bukittinggi, berbagai peninggalan bersejarah masih dapat ditemui.
  • Setibanya di Bukittinggi, jangan lupa mengunjungi Jam Gadang di kawasan Pasar Atas. Senja hari adalah saat yang paling tepat, saat lampu mulai dinyalakan. Lalu mampir juga di Pasar Bawah.
  • Kembali bermalam di Hotel Cinduamato (Jl. Cinduamato No. 96/0752-21346), harga Rp. 60.000-75.000.

Hari 4: Senin, 22 Januari 2007

  • Bangun sebelum matahari terbit dan nantikan sinar pertamanya di ufuk timur, tepat di atas jajaran Bukit Barisan. Nikmati juga sapaan mentari menerpa puncak menara Jam Gadang.
  • Usai sarapan, bergegas meluncur ke Padang melalui Solok yang memiliki pemandangan khas dan lucu, yaitu beruk pemanjat kelapa membonceng santai di atas sepeda motor tuannya.
  • Dalam perjalanan, bisa beristirahat di Danau Singkarak. Namun, danau yang terkenal dengan hasil alam ikan bilih yang lezat ini terasa sangat kurang dirawat.
  • Kunjungi Padang Scenic Point, sebelum memasuki Indarung. Tak jauh dari situ, mampir ke Danau Kembar dan Taman Hutan Raya Dr. Mohammad Hatta.
  • Setiba di Padang, bermalam di Putri Kemala Balqis Beach (Jl. Hang Tuah No. 227/0751-28780), harga Rp. 120.000-210.000.

Alternatif jika cuaca cerah

Langsung menuju Pantai Bungus ke Pulau Sikuai, 45 menit dari Pantai. Di Pulau ini kita bisa menikmati Pulau dengan pantainya yang indah dan bisa snorkling. Menginap di Pulau Sikuai. Besok siangnya langsung ke Padang, makan siang dan mengunjungi beberapa tempat di Padang lalu menuju Bandara.

Hari 5: Selasa, 23 Januari 2007

  • Bangun sebelum matahari terbit dan nantikan sinar pertamanya di ufuk timur.
  • Menuju Pantai Air Manis di Padang untuk melihat Batu Si Malin Kundang.
  • Jangan lupa, singgah juga di Pelabuhan Teluk Bayur dan Pantai Bungus.

  • Kunjungi pula Taman Siti Nurbaya di lereng Gunung Padang yang masih dipercaya sebagai peristirahatan terakhir Siti Nurbaya.
  • Mampir di Taman Budaya yang sering mengadakan berbagai acara, [dan Museum Adityawarman. Sayang, museum ini kurang terawat dan koleksinya sedikit.]
  • Kalau masih sempat, mampir di Jembatan Siti Nurbaya.
  • Meninggalkan Padang dari Bandara Katapiang, dengan Air Asia QZ 7525 pukul 18.30-20.10 WIB.

Catatan: untuk kuliner nanti disisipkan, menyusul!

 

Ditulis dalam hobi | 11 Komentar »

Mumtaz Arabia

Ditulis oleh papabonbon di/pada Januari 8, 2007

Hari minggu kemarin akhirnya main dan ketemu juga dengan mas Aman Fatha. Salah satu pendekar di milis wm. Berangkat abis maghrib, naik motor dari rumah. Kirain tempatnya jauh lho, ternyata lumayan deket. Jalanan yang lumayan sepi di hari minggu dan udara yang udah ndak panas [layaknya matahari Jabotabek yang panas membakar] membuat acara jalan ke tempat mas Aman jadi asik punya. Merenung sambil ngebut gitu lho :D

Kayaknya asik juga sering sering main ke sana, selain lokasi tempatnya deket ama beberapa senioren TN yang aku emang pengen main ke sana. Yang asik juga, Mumtaz Arabia ini tempatnya para pemuda jomblo lulusan Azhar. Teman teman di sini ngumpul buat bikin terjemahan bahasa Arab dan kerjaannya bikin buku buku terjemahan dari intelektual Islam di Timur Tengah sana buat diterbitin di Indonesia. Asik lah buat tempat kongkow kongkow dan ngobrol ngalur ngidul gak jelas. Dari diskusi serius, ngobrol politik sampai nonton sinetrom OB [office boy], liat karakter Gusti, pak Taka, Rara, Sayuti, Mail dan empok Odah yang bikin ketawa ketawa terus.

Udah lama euy, gak ketemu komunitas gini, sejak lepas dari LSME a.k.a Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi di jaman kuliah dulu. Ada yang asik juga, salah satu dari teman teman mas Aman ini ada yang concern di Ekonomi Islam juga. Full deh dengan buku bukunya Metwally, Adiwarman Karim, Hossein Shehata, Capra, Sofyan Safri Harahap, Afzalur Rahman dan lain lain. Maklum jebolan Ekonomi UI. Hemm, benar benar mengingatkan aroma jaman kuliahan dulu, secara papabonbon dulu juga sempat ngoprek bacaan bacaan yang sama. Kalau sudah ketemu komunitas, tinggal meningkatkan intensitasnya supaya produktif menulis. Harusnya sih gitu. Huehehheehe ….

Ayo, papabonbon, “Gambatte !” Yang semangat yah. Masa 5 tahun hibernasi terus terusan sih !

Ditulis dalam silaturahim | 6 Komentar »

insight baru tentang pencarian diri dan kerjaan …

Ditulis oleh papabonbon di/pada Januari 7, 2007

Sehabis baca blognya aresto dengan kata kata indah dibagian bawahnya :“u got what u want, but not what u need”, memberi aku sebuah insight baru. [Oh ya, buat pendahuluan, ceritanya aresto adalah sebuah cerita tentang sebuah tempat kerja yang nyaman dan gue banget, namun ternyata tidak mampu fulfilled beberapa hal fundamental yang diperlukan untuk survive dalam hidup]. Kebalikan dengan aresto, tempat kerjaku 5 tahun terakhir ini, telah memberikan apa yang aku perlukan, namun, mereka bukan yang aku inginkan hueheheheheh.

Dan juga ada kebalikan nuansa secara beruntun, FYI, setahun pertama kerjaanku sebagai auditor di surabaya dulu [yg sekarang justru sedang dinikmati [sorone dadi auditor :p] oleh aresto dan anjar, adalah “u got what u want, but not what u need” bagiku.

He he he, begitulah dunia.

Kalau dipikir pikir ada banyak sentuhan serupa itu sih sebenarnya. Tentang harapan yang bukan takdir, tentang hal yang tidak disukai yang menjadi gerbang keberkahan. Agak serong sedikit dari sana, aku berusaha lihat insight lanjutannya. Aha, ini dia, ketemu, ingatan terbang ke blognya si ima, sebuah harapan, “Tuhan, letakkan dunia di tanganku, jangan kau letakkan dunia di hatiku”.

Hati kita, keinginan kita, rupanya sedang diadu dengan puisi invictus, dari pengarang Inggris William Ernst Henley pada tahun 1875.

…..

And yet the menace of the years
Finds, and shall find, me unafraid.
It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,

I am the master of my fate:
I am the captain of my soul

Jadi kawanku, jalan mana yang akan kau tempuh, takdir mana yang akan kau pilih, dan kehidupan macam apa yang akan kau jalani ?.

Ditulis dalam life | 2 Komentar »