Remembrance 10 November 1945

Posted: November 28, 2011 in hobi, Politik

10 november 1945

itu waktu 67 tahun yang lalu.  Masa merdeka kita, negeri ini, telah melampau waktu yang bisa menghasilkan tiga generasi.

67 tahun yang lalu

  • seorang jenderal Inggris, berkubang nyawa di tengah amuk arek Suroboyo
  • bendera merah putih biru, bendera belanda yang dikibarkan di hotel Yamato oleh sisa sisa walanda di negeri ini, direbut, disobek, dan dikibarkan sebagai bendera merah putih

http://id.wikipedia.org/wiki/Insiden_Hotel_Yamato

http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_10_November

 

Dimana hunting foto kalau malam di Surabaya ?

Tempat yang asik ya, tempat yang banyak lampunya donk.  Coba deh, disebut,  Icon kota Suro dan Boyo di go skate Gubeng atau di depan KBS, terus Siola yang sekarang ini ngejreng magrong magrong, plus Taman Remaja Surabaya di Kusuma Bangsa.  atau ada yang mau motret kota dari atas.  bercity scape ria ? yang ini papabonbon belum pernah je.  huhuhu.

Taman Remaja ? namanya serasa jadoel, hehehe … mungkin konsepnya rada rada ke orang pacaran atau tempat mainnya anak usia SD – SMP kali yah.  Taman bermain yang jaya jayanya tahun 80an sepertinya.  Soalnya konsepnya rada rada jadoel juga sih untuk ukuran jaman sekarang.  Tapi kalau pingin motret merry go round dengan lampu dan kuda kudaan yang bergerak cepat, atau roller coaster dengan lampu lampunya, di Taman Remaja inilah tempatnya.

papa bonbon bersama teman teman penggemar analog, komunitas fokususu dan tamu kehormatan dari komunitas pentax minggu lalu menikmati memotret hunting lowlight dan slowspeed di Taman Remaja ini. Tempatnya asik, tiket masuk 10 ribu, parkiran cukup nyaman, dan yang paling penting, buka sampai jam setengah sebelas malam.  eaaa. keren.

Hanya sayang ada gangguan.  Yang sejatinya yang perlu ijin (dan mungkin bayar) adalah kegiatan pre wedding dan kegiatan sekolah, kita didatangi dua orang (sepertinya orang marketing) yang meminta kita datang ke kantornya dan meminta kita menghapus foto kita dengan dalih takut dikomersialkan.  wtf !!!

suasana di kantor marketing Taman Remaja Surabaya, tempat kita disidang karena memotret di sana.

benar benar merusak mood, mengganggu kenyamanan, apalagi ternyata interupsi dilakukan tanpa dasar yang jelas. akibatnya ketika kita protes menanyakan peraturannya, mereka yang petugas tidak bisa menjawab.

  • kita minta formulir untuk pernyataan tidak akan mengkomersialkan foto (seperti di House of Sampoerna), ternyata mereka tidak punya
  • kita minta uang kita dikembalikan, dan kita akan menghapus foto dan pergi dari tempat itu, mereka juga tidak bersedia.

orang yang aneh.  eeaaaaa !  :(

 

yang pasti kerumitan semacam ini nggak ditemui ketika papabonbon memotret Siola.  Lancar jaya tuh, gak pakai didatangi satpam, ataupun pak pulis, kendati lokasi memotret persis di depan pos jaganya pak polisi.

Danbo Loves Film !

Posted: Oktober 12, 2011 in hobi
Tag:, , ,

Beberapa waktu lalu, papabonbon dolan ke Magelang.  Kampus jaman sma dulu menjadi tempat tujuan.  Lewat magelang, tentunya ndak afdhol kalau gak mampir ke Jogja donk.  Jadilah, motret pakai film hitam putih dan lensa wide nikkor afd 18-35mm jadi saat saat yang paling dinantikan, hehehe :D

Okeh, inilah dia penampilan gear yang dipakai.  jangan ketawa yah.  Gini gini naikong pilm lho, meskipun penampilannya modern.  hehehe … kan, pas terakhir dolan sudah bawa yang kokang, jadi yang sekarang ini gantian deh, yang sudah ada motor af juga diberdayakan.  gitu lho.  hehehe :D

Yang dibawah ini papabonbon iseng motret sebuah prasasti di kampus.  kata kata yang tertera di prasasti ini, menurut beberapa orang mempunyai arti tersendiri buat mereka.  maklum, kampus ane unik.  disiplin militer, tapine sipil.  jadilah, orang yang hidup di sini kudu berdamai antara aturan yang ketat dan disiplin ala spartan, di saat yang sama dituntut untuk bisa memberdayakan akal dan kreativitasnya seluas luasnya.

btw, kampusnya papabonbon ini memang negeri penuh prasasti lho.  di bagian depan sekolah, di ruang yang besar banget yang bernama balairung pancasila malah ada tiga prasasti.  satu di depannya prasastinya pak Harto (salah satu presiden kita yang paling kontroversial, hehehe), terus ada prasastinya pak Moerdani di dalam balairung, terus di belakangnya, ada prasastinya pak try sutrisno.

overall, puas bangetlah ane karena cita cita memotret kampus lembah Tidar pakai film hitam putih kesampaian juga.  Film kodak BW400CN juga sangat memuaskan, detailnya dapat, dan hasilnya smooth.  mantep nih film.  nyucinya juga enak, soalnya diproses ala bw biasa bisa, diproses di studio dengan c-41 juga bisa.  Yang jadi masalah hanya satu, harganya mahulll.  hehehe :D

 

 

 

Jawa Pos hal. 2. Jum’at, 16 September 2011.  Lap Keuangan sebuah PTN di Surabaya.

# hebat.  kampus sudah publikasi laporan keuangan.  Transparan.  hebat !

Trivia :

# Mengapa yang ditampilkan adalah data smt I 2011 vs 2010.  Padahal yg 2011 hanya 6 bulan (dan belum di audit) sedangkan yg 2010 full satu tahun, jadi membandingkan data 6 bulan vs satu tahu jadi gak relevan, bukan ?.   Apalagi kita tahu, dana dari pemerintah banyak yang baru cair di akhir tahun.   harusnya yang diperbandingkan 2010 dan 2009.  2011 smt 1 ditampilkan bolehlah, tapi pembanding yg periodenya sama ada, pembanding untuk indikasi terkini ada.  kalau hanya 6 bulan vs 1 tahun, yah, gak cakep aja.

# Btw, kantor akuntan yang mengaudit milik salah satu dosen fakultas ekonomi bukan, yah ? Dunno juga. Ada yang bisa bantu info, kah ?

Ilustrasinya :

pengeluaran unair smt I-2011 = 200 M (6 bulan), tahun 2010 = 485 M (satu tahun), institusi ini ingin memperlihatkan kalau dalam 6 bulan pengeluaran dia kira kira sama dengan pengeluaran dia selama 6 bulan tahun sebelumnya (profil yg ingin diperlihatkan adalah : hebat, hemat atau biusa juga, lagi pelit nih buat dana mahasiswa dan operasional, secara kita lagi cancut taliwanda).

Lalu bagaimana dgn pendapatan ?  Tanya juga, mengapa pengeluaran tahun 2009 tidak ditampilkan ?  Jangan jangan selain pendapatan yg suka tiba tiba besar di akhir tahun, pengeluaran ternyata nggak kalah gedenya di akhir tahun.  Secara menghabiskan budget gitu, lho.

Pendapatan smt.1-2011 = 213 M (6 bulan, bayar spp dan uang gedung th.ajaran baru 2011 blm masuk tuh :p) sedangkan 2010 = 994 M.  Terlihat bahwa pendapatan 2010 jauh lebih besar daripada smt.1 2011.

Menurut saya, (bisa jadi sangat subyektif lho yah), nampaknya ini cara institusi untuk menggedor publik, “liat donk, kami butuh uang melalui spp mahasiswa baru. makin banyak “mungkin” makin baik”.   Padahal, peneriman tahun 2009 justru tidak ditampilkan. Terutama pos penerimaan Sumbangan Pengembangan (Pendidikan) yg dimunculkan 8.6 M sedangkan tahun lalu 89M.  total dana masyarakat smt.1 ini 81M sedangkan tahun lalu 230 M.  Terjun bebas lho dana partisipasi pendidikan dari masyarakat.  Hmmm.   Dari sudut pandang komunikasi massa : ini jelas komunikasi ke publik dengan special purpose. bravo !.

FYI : beberapa waktu belakangan ini, di institusi tersebut terjadi demo mahasiswa yang mengeluhkan uang kuliah yg mahal di institusi tersebut.   Jadi kalau sekarang di komunikasikan kalau, “liat tuh, tahun 2011 pendapatan kami terjun bebas, sementara pengeluaran tetap”. mosok sih alert seperti ini tidak : “ring a bell?”.  Jelas jelas ini untuk kick out demo kagak jelas dari depan batang hidung institusi yang bikin penerimaan institusi jadi seret bin mampet.

Secara tersirat, institusi ingin menyampaikan, “biaya pendidikan mahal, kami butuh tarik dana lebih banyak, dan demo tidak berguna itu sebaiknya berhenti saja“.

Mantap juga.  Sekali pukul, dua tiga pulau terlampaui.

Di balik bukit ini, adalah tambang emas Tumpang Pitu.  Perusahaan INM mendapat lisensi menambang di sana.  rakyat banyak, juga beramai ramai membuat tambang tradisional, mengeruk kekayaan dari bumi nusantara.

So far, so good dengan gunung ini, eh ?  Langit biru, bukit hijau, laut jernih ?

Lima tahun lagi, masihkan anak anak bermain di sini ?

Masihkah senja semarak ini ?

Pantai Kenjeran revisited

Posted: Agustus 28, 2011 in hobi
Tag:, ,

Setelah 3 tahun lalu mencoba capture kenjeran pagi hari. Mulai ketemu resepnya.

- poi – point of interest
- golden hour
- filter gnd
- filter cp

salah satu kebahagiaan adalah ketika ekspresi kita punya keterkaitan langsung dengan hobi kita.  misalnya, saya seorang ayah yang bangga punya anak lucu, dan hobi saya memotret.  lagipula, saya, papabonbon hobinya ngeblog.

maka saya akan hepi banget kalau bisa melihat ekspresi si anak semata wayang terpampang di blog kesayangan. apalagi kalau foto itu dibuat dengan susah payah dan melalui proses yang panjang.  sedap sekali rasanya.  bayangkanlah rasanya.

  • pertama tama engkau memilih kamera film kokang mana yang akan dipakai
  • lalu menimang nimang film mana yah yang akan dipakai jepret, apakah si untung 100, kodak tri-x, fuji neopan ss, kodak  bw400cn
  • cari momen, metering, komposisi, atur speed, jepret
  • cuci film bw itu ketika sudah selesai jepret ke 36 kali
  • hati dag dig dug ser, apakah jepretan berhasil, apakah cucian film normal
  • hasil jadi, kamu pergi ke studio untuk scan klise
  • hemmm, ketika hasilnya memuaskan, rasane maknyusss, jerrr !

seperti ini misalnya.  hehehe !

foto hitam putih dengan film bw – si untung lucky shd 100

kenapa harus Ultra Wide Lens ?

Posted: Desember 12, 2010 in hobi

Ada pertanyaan teman, “kenapa harus Ultra Wide Lens kalau bisa Photomerge?”.  Photomerge itu menggabungkan beberapa foto menjadi satu, jadinya satu foto yang wide banget.  Istilah lainnya menjahit.  Dengan melakukan merge beberapa foto yang berkualitas, hasilnya jadi foto yang bagus kok.  Coba deh, dolan ke Priotography

Percaya gak percaya, itu semua foto jahitan.  keren kan !

Tapi coba perhatikan.  Foto foto landscape dan arsitektur itu dibuat tanpa melibatkan unsur manusia.  bagaimana misalnya kalau ada rombongan teman teman yang kita potret dengan sistem stitch atau merge ? sulit dan bisa bisa kepotong potong, karena manusia cenderung bergerak. ada geser dikit aja, kagak match hehehe … :D

Terus kalau ada perubahan kondisi cahaya, penggabungan fotonya bisa belang belang ada yang terang, ada yang sedikit gelap. misalnya saat bluehour, atau fireworks, kalau terdiri dari beberapa jepretan, bisa bisa ada bagian yang jadinya nampak aneh bin ajaib.  Lagi pula harus post processing lagi, kerjanya kudu beberapa kali.  Karena itulah lensa wide diperlukan.  Meskipun harganya kagak kira kira.  hehehe :D

Ini beberapa hasil jepretan dengan smc K pentax 20mm f4 di fullframe pentax MV-1 (sensor Fuji Superia 400 kadaluarsa 2008)

ada efek 3D – tiga dimensinya.  hihihi … :D

lensa 20mm f4 di fullframe ini kira kira setara dengan lensa 14mm di kamera aps-c (Digital SLR). tapi beda harga lensanya sudah seperti bumi dengan langit (sapa bilang pake digital lebih murah ?) .. hehehe :D   yang yang penting fun aja deh.  :)   Enjoy !!!

 

Soerabaja : 2010

Posted: Desember 6, 2010 in hobi
Tag:, , , ,

Kota surabaya di tahun 2010 ini banyak berubah.  berbeda dengan tahun 2000 ketika papabonbon awal bekerja dulu, dan berbeda pula dengan tahun 2007 awal kepindahan papabonbon dari Jkt.

Pentax MZ-7 + Lucky SHD 100

Surabaya makin ramah dan memanusiakan penduduknya.  Kalau teman teman melihat posting saya sebelumnya di sini yang terlihat di sana adalah taman.  Ya, taman kota dibangun di banyak penjuru kota. lengkap dengan sarana bermain anak.  kota surabaya menjadi hijau dan menyenangkan.  pedestriannya juga dibangun dengan baik.  jalan jalan sore di surabaya, ketika matahari tidak lagi terik dan membakar kulit, sepertinya oke juga.  asik.  mengingatkan pada lagu lama, “rek ayo rek … mlaku mlaku nang Tunjungan ….”.  hehehe :D

Pentax MZ-7 + Lucky SHD 100 + Canoscan 4400f mode greyscale di scan ke color

Kegiatan budaya, kendati di kota industri dan dagang juga dicoba disemarakkan.  selama ini kan kota budaya adalah Bandoeng dan Ngayogyakarta hadiningrat.  Kota sibuk macam Djakarta dan Soerabaja sulit melahirkan seniman yang mengakar dari budaya masyarakatnya.  Yah, di Sby kita kenal ludruk dan parikan.  Sekarang ini sulit tapinya melihat tunas tunas generasi penerus.  Toh, di sudut sudut kota seni ini terus dikembang biakkan dari yang lokalan, yang seringkali mengambil tempat di gedung kesenian cak Durasim ataupun di Balai Pemuda, maupun pusat budaya asing seperti Goethe Institute dan CCCL. juga di kampus kampus yang mengembangkan teaternya.

nikon F80 + Kodak Color 200

mungkin pengembangan kegiatan berkesenian di Serbeje ini meniru konsep seperti Broadway di NY.  kota ramai, dimana orang sibuk dengan aktivitas bisnis, tapi seni kontemporer terus tumbuh kembang, dan survive dengan baik.

Hobi baru di dunia fotografi juga turun menghempas kota ini.  Sampai tahun 2008, pemilik DSLR tidak banyak.  Masuk 2009, anak fakultas kedokteran yang terkenal serius sudah banyak yang punya kamera segede gaban.  acara kampus bikin lomba fotografi di kalangan mahasiswa sudah tidak heran lagi.  tahun 2010 ini booming.  Oktagon buka Oktarent di Surabaya, Canon buka service centrenya, ada orang yang buka toko kamera khusus merk tertentu,  Gudang Kamera misalnya, khusus jual Nikon.  Sudah berbeda konsepnya dengan toko peralatan fotografi tradisional yang menjual semua jenis sekaligus.  Seperti toko Apollo, Sumber Bahagia, Sinar Bahagia, Aurora, yg sama sama buka di sekitaran jl. Kramat Gantung dan dekat J.W Marriot.

Hunting bareng ? Yang seperti apa sih ?

nikon F80 + Kodak Color 200

ilustrasi di atas cukup menjelaskan makhluk bernama hunting, bukan ?  diambil dari dokumentasi hunting bareng analogers surabaya di lanud Djuanda.

Lho, ternyata pertanyaannya,  apa bedanya dengan yang digital.  hihihi … maklum jepretnya pakai film warna. keliatan kurang jadoel.  kalau yang ini bagaimana ?  :D

olympus mju ii + lucky shd 100 @ st. gubeng

papabonbon benar benar ndak nyangka, dari dslr, akhirnya pindah jadi pengikut kultus kamera film jadoel.  Yah, rada ngehip lah ini komunitas berkat anak anak Lomo yang fight back to 60′s. hehehe …

genre yang sekarang diamati dan diminati papabonbon adalah street photography.  spesifik karena senjatanya adalah kamera film jadoel yg gak nakutin orang, enteng, jepretnya pakai film b/w. pakai item putih ? yess. jadinya eksotik. asalkan memotret dengan benar dan mencucinya dengan benar. dan yang paling penting fun dan gak mahal ?  masa sih ? iya, serius deh.  coba yah, papabonbon ceritain dikit.

nyetrit itu fun

obyek potret gak jauh jauh. ada di sekitar kita.  pasar ke pasar, perkotaan. memotret manusia, atau lingkungan yang di huni manusia, menceritakan tentang makhluk manusia, interaksinya, perbuatannya.

ada kebanggaan sendiri ketika berhasil menaklukkan film murmer andalan lucky shd 100 yang biasanya ngeglow kalau ada cahaya atau langit.  (psst rahasianya, pilih angle yg sedapat mungkin kagak berhubungan ama langit, atau pakai lensa plastik –> mju ii atau seagull, atau anda lagi beruntung huehehe :D

semangat itu juga makin bertambah ketika kita cuci film dan hasilnya bagus.  item putihnya asli, bukan hasil plug in photoshop.  nah, itu baru keren.  soalnya melalui tiga tahap, mastering kamera, mastering komposisi, dan mastering developing / cuci film.

fotografi dengan film itu jaman sekarang : murah meriah

  • kamera : asahi pentax ME dan lensa 50mm f1.4 di toko lima jaya, malang, harga 500 rb
  • film : lucky shd 100 black & white : 9 rb, kodak color 200 : 10,5 rb (bali indah, jl slompretan)
  • cuci film : micro fm dan acifix –> 12,5 rb (bisa buat cuci 5 roll)
  • scanner : 10 rb di copal, atau kemarin akuisisi canoscan 4400f harga 850 rb patungan sama analogers sby

yang paling penting sih kepuasannya.  karena tidak pernah membosankan.  hehehe …  fotografi digital acap kali membosankan, karena segala sesuatunya serba instan. serba pakai plug in.  banyakan di depan komputernya daripada pegang kamera di jalan jalan buat jepret.

belum lagi nyoba nyetrit, orang keburu kabur, karena kita bawa kaera segede gaban, atau nekat jepret di mall, didatangi satpam karena dianggap fotografer serius yg pengen jepret yg jelek jelek di mall.  hehehe :D